Erlangga baru pulang sekitar pukul delapan malam dengan kondisi lelah dan lapar. Ia ingat segera menikmati hidangan yang dibuat Kirana, bahkan sudah mengirim pesan sejak siang untuk menyiapkan makanan tersebut.
Tapi, saat ia membuka pintu dan mendapati rumah dalam keadaan kosong dan sepi. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Kirana di sana. .
“Kirana?” Panggilnya, sambil menekan saklar lampu, lalu mengedarkan pandangan mencari sosok Kirana.
“Kirana?” Erlangga kembali memanggil nama istrinya, yang baru dua hari lalu kembali pindah dan tinggal bersama lagi.
Iya, Kirana akhirnya kembali ke rumah dan mereka tinggal bersama setelah kesepakatan itu disetujui.
Wanita itu terlihat enggan dan keberatan atas syarat yang diajukan Erlangga, tapi pada akhirnya ia tidak punya pilihan lain dan terpaksa menerima syarat tersebut.
“Kirana? Kamu dimana?” Ia terus mencari sampai ke kamar sebelah, tempat yang sebelumnya dipakai Kirana. Tapi, wanita itu tidak ada dimanapun, yang membuat Erlangga mulai kesal.
Ia pun, mengeluarkan ponsel dari kantong celananya untuk menghubungi Kirana.
“Kamu dimana?” tanya Erlangga, begitu panggilan terhubung. Ia melakukan panggilan sambil berjalan menuju meja makan.
“Aku di panti, kenapa?” jawab Kirana lembut dari seberang sana.
“Kenapa nggak bilang?” Kesalnya. “Aku udah bilang kan dari siang, aku mau makan_”
“Buka tutup saji nya, aku udah siapkan semua di sana. Kalau sudah dingin tinggal dipanaskan saja.”
Posisinya saat ini ada di lokasi yang disebut Kirana barusan. Tutup saji yang terbuat dari rotan itu diangkatnya dan terlihat menu makan malam yang sudah tersaji di sana, sesuai pesanan Erlangga.
“Udah dingin,” Erlangga menyentuh pinggiran mangkok, dimana sop buntut itu berada.
“Tinggal dihangatkan saja.”
“Nggak perlu. Keburu lapar!” jawabnya ketus, sementara Kirana hanya terkekeh saja diseberang sana.
“Makanlah yang banyak, aku siapkan satu mangkuk penuh untukmu.”
Erlangga hanya menggumam saja sebagai jawaban. Menjepit ponsel dengan bahunya, sementara satu kedua tangannya ia pergunakan untuk mengambil nasi. Beruntung nasi masih dalam keadaan panas, jadi tidak perlu lagi menghangatkan lauk yang lain.
“Lagi makan?” tanya Kirana, sebab tidak mendengar suara Erlangga.
“Iya. Ini lagi makan.” jawabnya dengan mulut penuh. Makanan buatan Kirana memang tidak pernah gagal memanjakan lidah Erlangga. Ia menyukainya, walaupun tidak pernah memuji secara langsung.
“Enak nggak?” tanya Kirana lagi.
“Enak. Nggak ada menu lain, lapar juga.”
Lagi-lagi Kirana terkekeh, yang membuat Erlangga mengambil ponselnya, menatap layar hitam dengan suara tawa lembut mengusik hatinya.
Ia menekan tombol video, agar bisa melihat sosok yang tengah tertawa itu.
“Seneng banget kayaknya denger suaminya kelaparan.” wajah Kirana kini muncul di layar, wanita itu langsung menutup mulut dengan tangannya.
“Lagi seneng aja.” jawabnya, dan ekspresi datar itu kembali terlihat.
“Senang karena apa? Karena kita rujuk? Padahal nggak lam, cuman satu_” suara Erlangga terhenti seketika, saat ia melihat sosok lelaki melintas di belakang Kirana. Sosok yang tidak asing, tapi Erlangga tidak ingat siapa namanya.
“Siapa itu?”
Bahkan kepercayaan dirinya hilang seketika, berganti dengan kekesalan.
“Siapa? Disini hanya ada anak-anak panti.” Jawab Kirana.
Erlangga berdecak, tahu istrinya sedang berbohong.
“Kapan mau pulang?”
“Ini hari Sabtu, harusnya sih kamu nggak lupa kalau setiap hari Sabtu sampai Minggu sore aku di panti.”
“Kenapa begitu?”
Pertanyaan bernada protes itu kembali terdengar.
“Dulu awal-awal menikah, aku udah pernah minta izin dan kamu bilang terserah. Bahkan selama satu tahun ini pun, setiap Sabtu sampai Minggu sore aku ada di panti, dan kamu bilang terserah.” Jelas Kirana.
“Mungkin kamu lupa, atau memang tidak pernah mengingatnya. Seharusnya aku izin dulu tadi.”
Erlangga berdecak, bahkan selera makannya pun hilang seketika, saat menyadari kegiatan rutin yang dilakukan Kirana selama satu tahun ini, yang tidak disadarinya.
Mungkin sebelumnya tidak akan menjadi masalah untuk Erlangga, mengingat ia pun kerap memiliki kegiatan bersama wanita lain, tapi kali ini berbeda. Mereka sedang menjalani rumah tangga sungguhan selama satu bulan, dan Erlangga tidak suka istrinya ada di tempat lain apalagi dengan sosok yang membuatnya penasaran.
“Pulang sekarang,”
“Nggak bisa,” tolak Kirana dengan lembut namun tegas.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin disini.”
“Kamu istri aku,”
“Iya, tau.”
“Terus kenapa kamu_”
“Siapa Nak?” Suara lembut seorang wanita yang begitu familiar memotong perkataan Erlangga, hingga ia menghentikan ucapannya tanpa menyelesaikan.
“Ibu?” tanya Erlangga, saat menyadari itu suara ibunya, Teti.
“Iya. Ibu ada disini.”
Dua wanita itu kerap menghabiskan waktu bersama di pantai dan Erlangga tidak menyadarinya.
“Erlangga ya, suruh dia kesini mumpung ada Adrian.”
Raut wajah Kirana yang terlihat gugup membuat Erlangga tersenyum samar.
“Kamu bilang hanya ada anak-anak, apakah lelaki bernama Adrian itu juga termasuk anak-anak?”
“Bukan. Dia sudah sangat dewasa.”
“Baiklah, jadi dia alasan yang membuatmu enggan pulang?” selidik Erlangga.
“Bukan,” Kirana mencoba menyangkal, tapi sepertinya akan percuma saja. Erlangga kerap percaya dan yakin dengan asumsinya sendiri.
“Aku akan kesana, tunggu dua puluh menit lagi. Dan, bilang pada lelaki itu, untuk tidak pergi sebelum aku datang.” Erlangga lantas mematikan sambungan, mengakhiri makan malamnya yang belum selesai sebab selera makannya sudah terlanjur hilang.
Bagaimana mungkin Kirana menyetujui syarat selama satu bulan ini, dengan menuntut Erlangga tidak berkomunikasi dengan wanita-wanitanya di luar sana, sementara Kirana masih menjalin hubungan dengan lelaki itu. Sangat tidak adil!
Erlangga harus menuntut penjelasan dan perjanjian yang serupa untuk Kirana. Tidak boleh ada perbedaan.
Bahkan dengan masih mengenakan setelan kerja yang masih melekat sempurna di tubuhnya, Erlangga segera bergegas menuju panti, lokasi dimana istrinya berada saat ini.
Butuh waktu kurang dari dua puluh menit untuk sampai, sebab Erlangga mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang.
Sengaja tidak menghubungi Kirana terlebih dulu, Erlangga langsung masuk ke rumah panti yang sudah lama tidak dikunjunginya. Mungkin sekitar tujuh atau delapan bulan lalu, terakhir kalinya ia datang berkunjung. Tidak banyak yang berubah dengan situasi panti saat ini, hanya terlihat beberapa renovasi saja di bagian depan dan taman bermain yang terlihat semakin enak dipandang.
Erlangga melambaikan tangannya ke arah Kirana yang sudah menunggunya di pintu utama, wanita itu terlihat gelisah yang semakin membuatnya merasa yakin bahwa wanita itu memang menyembunyikan sesuatu.
“Halo, istriku.” Sapa Erlangga, meraih pinggang Kiran lantas mengecup keningnya dengan lembut.
“Kenapa tiba-tiba mau kesini, sih?” tanya Kirana.
“Kenapa memangnya? Ada yang salah kalau aku berkunjung ke tempat ini?”
Kirana terdiam, tapi ia terlihat begitu cemas.
“Ibu mana?” tanya Erlangga, mengedarkan pandangannya mencari sosok Teti, ibunya. Tapi sejujurnya bukan hanya Teti yang dicarinya, tapi juga sosok Adrian.
“Ada di dalam.”
Erlangga menganggukkan kepalanya, “kamu nggak mau ajak aku ke dalam? Oke, kalau begitu aku masuk sendiri.” Ucapnya, dan langsung bergegas masuk.
Kirana menyusul, mengikuti Erlangga dari belakang. Tapi setelah lelaki itu berhasil menemukan sosok lelaki bernama Adrian yang tengah duduk di sofa bersama ibunya, Erlangga seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kirana.
Ia buru-buru meraih tangan Kirana, menggenggamnya dengan erat dan tersenyum lembut.
“Aku datang, nggak betah di rumah sendirian.” Ucapnya, entah pada siapa sebab sang ibu terkesan mengabaikannya.
“Sepi kalau nggak ada istri di rumah.” Lanjutnya dengan percaya diri. Bahkan Erlangga menarik kepala Kirana, lalu mencium puncak kepalanya dengan gemas.
“Sayang, dia siapa?” tanyanya pura-pura, sambil menunjuk ke arah Adrian.
“Dia anak dari sahabat Ibu, namanya Adrian.”
Bukan Kirana yang menjawab, tapi Ibunya.
“Oh, teman Ibu yang mana? Aku nggak tahu kalau Ibu punya teman baik.”
Teti tersenyum penuh arti. “Kamu nggak akan tahu siapa saja teman Ibu, sibuk sama diri sendiri dan hobi ganti cewek sih.” Sindir Teti.
“Adrian, itu anak Ibu. Namanya Erlangga.”
Adrian mengangguk dan tersenyum. “Oh, iya.”
“Anak ibu satu-satunya, tapi kadang Ibu lupa punya anak laki-laki. Ingatnya punya anak perempuan aja, Kirana.” Teti terkekeh, dengan tatapan sinis ke ke arah Erlangga.