Erlangga masih ingat saat pertama kali ibunya memperkenalkan Kirana padanya, tidak ada satu hal pun yang bisa menarik perhatian Erlangga. Kirana memang cantik, tapi Erlangga punya banyak wanita cantik yang jauh lebih menggoda dibandingkan Kirana yang terlihat datar tanpa ekspresi.
“Kita pulang ke rumah dulu, setelah itu ke rumah Ibu.” Suara Kirana memecah keheningan, membuat Erlangga yang tengah fokus mengemudi langsung menoleh ke arahnya.
Wanita itu masih menunjukkan ekspresi datar, bahkan tidak terlihat tanda-tanda menangis di kedua matanya. Apakah kejadian tadi tidak lantas membuatnya sakit hati?
Erlangga adalah seorang petualang ranjang. Dalam setiap bulannya, ia bisa berganti pasangan sebanyak empat kali bahkan lebih, tergantung suasana hatinya. Hal tersebut bukan menjadi rahasia umum, semua orang sudah mengetahuinya.
Wajah tampan, tubuh atletis, dan harta melimpah adalah paket komplit yang ada dalam dirinya, tidak ada wanita yang bisa menolak pesona seorang Erlangga Malik–putra tunggal dari pengusaha Adam Malik dan Teti Malik.
“Apa kamu akan memberi tahu ibu tentang kejadian tadi?” tanya Erlangga penasaran.
“Tergantung situasi.”
Kening Erlangga mengerut. “Apa ini sebuah ancaman?”
Jelas ia tidak ingin mengecewakan sang ibu, sosok wanita yang begitu dicintai dan dihormatinya. Mengetahui anak kesayangannya habis bercinta dengan wanita lain yang bukan istrinya, dijamin sang ibu pasti akan murka dan kemungkinan terburuknya, wanita itu bisa saja berakhir di rumah sakit.
“Aku tidak pernah mengancam, kecuali dalam situasi tertentu.”
Sikap Kirana yang selalu terlihat tenang kerap menjadi keuntungan untuk Erlangga. Sebab, ia bisa mengencani wanita mana pun sesuka hati tanpa diketahui sang ibu, tapi dibalik sikap pendiam Kirana, wanita itu pun bisa menjadi sebuah ancaman untuknya.
Perjalanan menuju rumah memerlukan waktu sekitar 15 menit, waktu yang cukup lama sebab keduanya tidak lagi bicara, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Jangan mengulur waktu, aku masih ingin bersama Niken,” ucapnya, tepat setelah keduanya masuk ke dalam rumah.
“Tunggu dulu, kita baru sampai.” Kirana melangkah, menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering, ia menghabiskan satu gelas penuh air dingin untuk membasahi kerongkongannya.
“Aku mau ganti baju dulu.” Usai menaruh gelas di atas meja, Kirana segera bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, tapi Erlangga sudah terlebih dulu menghalangi langkahnya.
“Langsung saja! Jangan mengulur waktu.” Kesalnya, sebab ia merasa Kirana terlalu mengulur waktu, yang membuatnya semakin tidak sabar.
“Tunggu sebentar! Kamu pasti akan mendapatkan surat itu, secepatnya.” Kirana berusaha melepaskan cengkraman kuat di pergelangan tangannya.
“Katakan di mana suratnya!?” Tuntut Erlangga, tidak mau melepaskan Kirana begitu saja.
“Ada di kamarmu,” jawab Kirana tenang.
Selama ini keduanya menempati kamar yang berbeda, hanya dalam situasi tertentu saja mereka akan tinggal di dalam satu kamar yang sama, misalnya, saat kedua orang tua berkunjung. Selebihnya mereka akan seperti orang asing yang tinggal di satu atap yang sama.
Erlangga segera berbalik, menuju kamarnya dengan langkah cepat. Kesempatan itu dipergunakan Kirana untuk masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Erlangga melihat selembar kertas di atas nakas, dekat jendela. Ia meraihnya dengan cepat dan amarahnya kembali memuncak saat melihat Kirana belum menandatangani surat cerai itu.
“Kirana!” teriaknya, memanggil nama Kirana dengan langkah lebar menuju kamar wanita itu. Sayangnya, pintu kamar sudah terkunci yang membuat Erlangga harus menunggu, walau dengan perasaan kesal karena merasa dipermainkan.
“Kirana! Cepat buka!” Erlangga mengetuk pintu dengan tidak sabaran. “Buka pintunya atau aku dobrak!” ancamnya, sebab Kirana tidak kunjung memberikan respon dari dalam sana.
“Kirana!” panggilnya lagi.
Terdengar suara pintu terbuka yang membuat Erlangga langsung menarik Kirana keluar.
“Kamu belum menandatangani?” Tatapan lelaki itu tajam.
“Aku udah bilang, aku punya satu syarat.”
“Apa syaratnya? Katakan sekarang juga!” Ia menjadi sangat tidak sabar, sebab keinginannya untuk segera berpisah dengan Kirana sudah sangat bulat.
“Aku mau hakku dipenuhi sebelum kita bercerai,” ujar Kirana lirih. Satu tangannya memegang erat ujung kemejanya sendiri untuk melampiaskan ketakutan yang dirasakannya selama ini.
“Aku sudah penuhi semua kewajibanku sebagai seorang suami, dengan mengirim uang setiap bulannya. Apa masih kurang? Atau jumlahnya sedikit?”
Kewajiban yang dimaksud Erlangga hanya sebatas uang dan uang. Lelaki itu memang memberikan uang bulanan dalam jumlah yang sangat besar untuk keperluan rumah tangga dan keperluan Kirana secara pribadi, tapi bukan itu yang dimaksud Kirana, ada satu kewajiban Erlangga yang belum dipenuhinya selama satu tahun ini.
“Bukan yang itu.”
“Lalu apa!?” Sentak Erlangga.
“Aku mau hakku dipenuhi secara utuh, lahir dan batin.”
“Apa?” Kening Erlangga mengerut, berpikir sesaat untuk mencerna maksud dari ucapan Kirana. Ia tercengang sendiri saat telah menangkap maksud Kirana.
“Jangan bilang kamu ….” Erlangga menjeda ucapannya, menatap tidak percaya ke arah Kirana.
“Kamu minta aku tidurin?”
Pengucapannya terdengar sedikit kasar, apalagi dengan permintaan seperti saat ini. Terkesan mengemis, tapi Kirana tidak punya kesempatan lagi untuk melakukannya, kecuali saat ini, sebelum palu hakim mengabulkan gugatan perceraian mereka berdua.
“Iya, aku mau kamu memenuhi kewajibanmu dengan tidur bersamaku.”