"Serius kamu minta itu? Maksudnya tidur bareng?”
Kirana tidak menjawab, memegangi ujung kemejanya dengan begitu erat. Erlangga menyadari kegelisahan istrinya.
Awalnya, Erlangga terkejut dengan keinginan istrinya. Pasalnya selama ini, Kirana tidak pernah meminta hak tersebut dan juga Erlangga enggan untuk melakukannya dengan Kirana yang dianggap kaku dan tidak menarik, tapi permintaan wanita itu membuatnya tersenyum meski kemudian tertawa pelan saat duduk di tepi ranjang.
“Aku tanya sekali lagi, serius mau itu?” tanya Erlangga, meneliti wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Kirana masih diam di tempatnya, menatap lurus ke ujung ruangan, terlihat enggan menanggapi.
“Kenapa tiba-tiba minta itu, padahal kamu bisa minta yang lain? Misalnya, uang atau apa pun. Atau, jangan-jangan ….” Erlangga menatap penuh selidik ke arah Kirana. “Kamu ada rasa sama aku?”
“Nggak ada,” jawab Kirana tanpa ragu.
“Terus, kenapa? Apa alasannya?” Tiba-tiba Erlangga menjadi sangat ingin tahu alasannya.
“Aku nggak berkewajiban menjelaskannya, kamu hanya perlu menyetujuinya atau tidak, sebab syarat untuk bercerai hanya itu.”
Senyum di wajah Erlangga surut dan berubah kesal. Permintaan Kirana sangat aneh untuk dijadikan syarat menyetujui sebuah perceraian.
“Atau jangan-jangan kamu sengaja melakukannya untuk menjebakku. Setelah kita melakukannya, biasa saja kamu hamil dan pada akhirnya kita tidak bisa bercerai.”
Kali ini giliran Kirana terkekeh pelan. “Percaya diri sekali kamu, sampai menuduhku seperti itu.”
“Semua orang tertipu dengan sikapmu selama ini, tapi hal itu tentu saja tidak akan terjadi padaku.”
Erlangga tahu, Kirana pasti sudah merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatannya selama ini dan alasan yang digunakannya saat ini merupakan salah satu cara wanita itu membalasnya.
“Aku nggak mau.”
“Kamu bisa urus surat cerainya sendiri kalau begitu,” potong Kirana cepat.
“Apa yang kamu rencanakan? Katakan!” Desak Erlangga. “Aku yakin, kamu pun tidak sebaik yang Ibu kira selama ini. Aku pernah melihatmu bersama seorang lelaki dan aku yakin itu kekasihmu,” tuduhnya.
Erlangga pernah melihat Kirana bersama seorang lelaki di pusat perbelanjaan. Keduanya terlihat akrab dan dekat. Sejak saat itu, Erlangga pun menyimpulkan bahwa Kirana tidak sebaik yang dilihat, ia hanya sebatas wanita licik bermuka dua yang sedang memainkan peranannya sebagai istri yang baik.
“Nggak usah munafik, kita melakukan hal yang sama. Jadi, berhentilah bersikap seolah kamu adalah wanita baik-baik.”
Kirana menganggukkan kepalanya. “Baiklah, jika itu yang kamu pikirkan aku nggak akan mengelak. Bagiku syaratnya tetap sama, mau atau tidak terserah kamu.” Kirana tidak membuat percakapan lebih panjang, segera berbalik untuk pergi. Melihat secepat itu Kirana memutuskan tanpa berpikir panjang dan tanpa keraguan membuat Erlangga kesal.
“Kamu juga selingkuh, Kirana! Aku bisa mengajukan perceraian dengan alasan itu!”
Kirana menghentikan langkahnya, menoleh singkat ke arah Erlangga.
“Oke, semoga berhasil dengan alasan itu.” Ia kembali melanjutkan langkahnya, menuju pintu.
“Tapi ….” Tiba-tiba Kirana kembali berhenti di ambang pintu. “Apa kamu yakin ada yang percaya kalau aku selingkuh? Jangankan orang lain, aku yakin ibumu saja pasti akan lebih percaya sama aku kalau aku bilang kamu cuman mengada-ada.” Kirana pergi setelahnya.
Erlangga dibuat terkejut melihat senyum sinis yang terukir jelas di wajah Kirana, sebelum wanita itu lenyap tidak terlihat lagi. Hal itu semakin membuat Erlangga yakin bahwa Kirana sedang menyembunyikan sesuatu untuk membalas perbuatannya selama satu tahun terakhir.
***
Keesokan paginya, Erlangga mengabaikan ponselnya yang terus berdering sejak lima belas menit lalu. Niken, wanita itu terus menghubunginya tanpa jeda. Biasanya, ia akan bersemangat menerima panggilan dari wanita itu dan akan segera menemuinya kapan pun Niken memintanya datang. Namun, kali ini untuk pertama kalinya, ia mengabaikan Niken. Pikirannya masih tertuju pada keinginan Kirana yang menjadi syarat perceraian mereka.
Erlangga sangat ingin menyudahi pernikahan yang sangat membosankan itu dan kembali dengan kehidupan yang menyenangkan seperti dulu, tapi syarat yang diajukan Kirana membuatnya bingung sekaligus takut. Takut jika wanita itu pada akhirnya menjebak atau merencanakan balas dendam.
Erlangga pun keluar dari dalam kamarnya, ia akan melakukan aktivitas seperti biasa, berangkat ke kantor setiap paginya.
Saat membuka pintu, ia melihat Kirana sudah berada di dapur tengah mempersiapkan sarapan pagi untuknya. Meski tidak seharmonis pasangan suami istri pada umumnya, tapi mereka tetap melakukan beberapa kegiatan bersama, salah satunya sarapan.
Kirana sangat cekatan dan makanan yang dibuatnya pun enak. Salah satu keunggulan yang dimilikinya, yakni pintar memasak. Wanita itu menyiapkan sarapan untuk Erlangga dan juga secangkir kopi hitam juga roti isi. Kirana tersenyum manis ke arahnya, seolah tidak terjadi apa pun kemarin. “Mau buah?” tanyanya.
“Iya,” jawab Erlangga singkat.
Penampilan wanita itu sudah terlihat rapi, sepertinya ia akan kembali beraktifitas seperti biasanya, bekerja di butik milik keluarga Malik yang dikelola secara langsung oleh Ibu Teti Malik.
“Berangkat bersama.” Entah ajakan atau perintah, tapi ucapan Erlangga sukses membuat Kirana menghentikan langkahnya, saat hendak mengambil buah di dalam lemari pendingin.
“Tidak perlu, kita berangkat terpisah.”
Erlangga tentu saja tidak suka dengan penolakan Kirana. “Kenapa?”
“Sudah ada janji dengan seseorang, kamu bisa berangkat duluan.”
Tanpa sadar Erlangga tidak suka mendengarnya dan perasaan kesal itu kembali menghampiri.
“Kita berangkat bersama!” tegasnya, seolah tidak ingin mendengar penolakan Kirana lagi. “Berangkat bersamaku dan nanti malam aku akan memenuhi keinginanmu. Syarat untuk kita bercerai,” sambungnya.
Kirana tertegun, sebelum akhirnya ia mengangguk samar.
“Baiklah, kita akan berangkat bersama.”
Ia segera merogoh ponsel yang ada di dalam kantong blazer yang dikenakannya untuk menghubungi seseorang.
“Halo, sepertinya hari ini kita nggak bisa berangkat bersama. Lain kali saja, ya.”
Ucapan Kirana terdengar lembut hingga membuat Erlangga penasaran. Lelaki itu pun menajamkan pendengarannya, ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
“Aku berangkat sama suamiku, lain kali saja kita berangkat bersama.”
Lain kali yang diucapkan Kirana mengartikan bahwa akan ada kesempatan lain yang akan mereka pergunakan untuk berangkat bersama. Erlangga tersenyum samar, ia semakin yakin bahwa istrinya benar-benar berselingkuh sama seperti yang dilakukannya selama ini.