Bab 4. Malam pertama

1103 Words
Erlangga menunggu dengan gelisah, menatap berulang kali jam di pergelangan tangannya. Masih ada dua jam lagi sampai di jam pulang kantor, tapi Erlangga sudah tidak sabar ingin segera menjemput Kirana. Bukan ingin bertemu wanita itu, tapi ingin segera mengakhiri semuanya dengan memberikan syarat terlahir sebagai jaminan keduanya akan benar-benar bercerai. “Pak Johan membatalkan pertemuan hari ini, beliau mengatakan ada urusan penting yang sangat mendesak.” Erlangga mendapat informasi dari sekretarisnya, Dita. “Untuk hari ini sudah tidak ada jadwal lagi.” lanjutnya. “Oke, atur ulang saja pertemuannya besok.” ucapnya pada Dita, melalui sambungan telepon. “Kabari saya jika pak Johan setuju dengan jadwal pertemuan ulang besok.” Erlangga menutup telepon sambil menghela lemah. Pertemuan bisnis sore ini dibatalkan, hal itu membuat jadwal Erlangga kosong selama dua jam terakhir. Lebih baik ia pulang lebih awal, untuk menjemput Kirana den menyelesaikan segala urusan yang belum mereka selesaikan. Termasuk syarat yang diajukan wanita itu. Tanpa menunggu lama, Erlangga pun segera bergegas pulang untuk menjemput Kirana di tempat kerjanya. Mobil berwarna hitam milik Erlangga sampai di pelataran parkir butik milik Ibunya. Beruntung situasi butik tidak terlalu ramai, membuatnya bisa langsung menyeret sang istri pulang. Namun rupanya dugaan Erlangga salah. Di dalam sana, lebih tepatnya di ruang khusus tamu, Erlangga melihat beberapa tamu yang tengah berbincang dengan Kirana dan Ibunya. Sial, kenapa Ibunya ada di sini? Bukankah tadi pagi wanita itu mengatakan tidak enak badan dan ingin beristirahat seharian di rumah? Tapi ia justru terlihat baik-baik saja, dengan penampilan sempurna yang menjadi ciri khasnya. “Erlangga,” Teti memanggil Erlangga dengan tatapan terkejut, sebab Putra semata wayangnya itu jarang sekali mengunjungi butik. Bisa dihitung jadi dan sangat langka, tapi hari ini Teti justru melihat putranya datang tanpa diminta, sungguh pemandangan yang sangat jarang dan luar biasa anehnya. “Tumben kesini, mau apa? Pasti mau jemput Kirana, kan?” Tebaknya. “Iya.” balas Erlangga dengan singkat, menoleh ke arah Kirana yang terlihat sibuk dengan kertas di hadapannya. “Sayang sekali Kirana sibuk, nggak bisa langsung pulang. Lagipula masih jam kerja,” Teti menunjuk ke arah jam dinding, dimana waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. “Kalau mau, boleh tunggu dulu. Setelah selesai, kamu boleh membawanya pulang.” Teti tersenyum senang, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar jelas di raut wajahnya. Erlangga yang terkesan acuh mulai menunjukkan perhatiannya dengan menjemput Kirana, begitulah pikir Teti. Ia tidak tahu jika Erlangga dan Kirana justru berencana untuk berpisah. “Tunggu sebentar, aku masih ada tamu.” Kirana pun menghampiri suaminya, sikap dan senyumnya yang lembut semakin membuat Teti yakin, rumah tangga anaknya sedang baik-baik saja. “Oke, nggak lewat dari jam empat.” balas Erlangga Erlangga memilih menunggu di ruang kerja Kirana, sebab hanya ruangan itu yang terlihat sepi dan jarang didatangi oleh banyak orang. Kehadirannya yang sudah terlanjur menyita perhatian, membuat Erlangga tidak nyaman. Ia pun memutuskan untuk menunggu di ruang kerja Kirana saja. Ruang kerja wanita itu bernuansa putih dan coklat muda. Perpaduan warna yang membuat suasana lebih hangat dan nyaman, tidak seperti ruang kerjanya yang didominasi warna hitam. Di meja kerja, Erlangga melihat beberapa foto yang sengaja ditaruh berdampingan. Satu foto pernikahan mereka berdua, dan satu lagi foto Kirana bersama anak panti lainnya. Kirana memang berasal dari salah satu panti asuhan dimana ibunya menjadi salah satu donatur tetap disana. Entah bagaimana awalnya wanita itu berhasil mencuri hati ibunya hingga perjodohan itu pun terjadi. Lelaki itu duduk di salah satu sofa empuk yang ada di ruangan itu, menyandarkan punggungnya di sana dimana rasa nyaman mulai menyerang. Tiba-tiba saja Erlangga dilanda rasa kantuk yang membuat kedua matanya secara perlahan tertutup. Kenapa ia mudah sekali mengantuk, tidak biasanya ia seperti itu. Entah sudah berapa lama Erlangga tertidur, tapi rasanya masih sangat nyaman dan hangat, sampai akhirnya ia merasakan usapan lembut di pundaknya. “Bagun, sudah sore. Ayo kita pulang.” Terdengar suara yang begitu familiar di telinganya. “Kenapa kamu malah tidur? Apa semalam kurang tidur?” tanya Kirana heran, sebab tidak biasanya lelaki itu tidur di sembarang tempat kecuali di kamar atau di kediaman kekasihnya tentu saja. “Lama banget!” Keluhnya. “Udah selesai belum?” tanyanya dengan mengucek kedua matanya. “Udah dari tiga puluh menit lalu, tapi aku nggak tega bangunin kamu.” Lelaki itu segera melihat pergelangan tangannya untuk memastikan, dan benar saja waktu sudah mendekati pukul lima sore dan ia tertidur lebih dari satu jam. “Kenapa nggak dibangunin sih?!” Keluhnya. “Buang-buang waktu tidur disini.” Merapikan pakaian yang terlihat kusut dengan menepuk-nepuknya, Erlangga pun segera menuju ke arah pintu. “Ayo! Kita harus segera menyelesaikannya sekarang juga!” Ajaknya. Kirana hanya bisa mengikuti lelaki itu, dengan berjalan di belakang menuju mobil yang sudah berada di area parkir. Selama perjalanan pulang, lelaki itu terdiam dengan ekspresi terlihat kesal. Kenapa ia selalu memasang ekspresi seperti itu? Saat bersama Kirana, ia terlihat selalu kesal dan mudah sekali marah. “Aku ingin segera melakukannya bukan karena ingin merasakannya bersamamu, tapi karena aku ingin segera mengakhiri hubungan ini. Aku bosan memiliki status sebagai seorang suami tapi aku tidak merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.” Kirana terdiam. Jika selama ini Erlangga tidak merasa bahagia bersamanya, lantas bagaimana dengan dirinya yang selalu dituntut mengerti dengan kelakuan suaminya. Memergoki Erlangga pacaran sampai berhubungan badan dengan wanita lain bukan hanya satu kali, tapi sering. Kirana berusaha sabar dan tetap memaklumi, tapi seperti sudah menjadi kebiasaan, lelaki itu seolah sengaja melakukannya untuk melihat reaksi Kirana. Beruntungnya Kirana selalu bisa menahan diri untuk tidak marah. Sesampainya di apartemen, Erlangga menarik tangan Kirana dan dengan langkah tergesa ia membawa wanita itu ke dalam kamarnya. “Ayo, kita lakukan sekarang. Setelah itu, tandatangani surat perceraiannya dan kita akan benar-benar berpisah.” Seringai licik terlihat di wajahnya, menatap penuh kemenangan pada wanita yang saat ini ada di bawahnya. Kirana menatap tanpa ekspresi, ia berusaha tetap bersikap tenang padahal jantungnya nyaris saja lompat dari tempatnya. “Sebaiknya kamu nggak tersinggung saat aku menyebut nama wanita lain.” Sinis Erlangga, menurunkan sendiri celananya sampai sebatas lutut. “Aku juga mau bilang hal yang sama ke kamu, jangan tersinggung kalau aku kelepasan sebut nama lelaki lain.” Lelaki itu menaikan rok span yang dikenakan Kiran dan menarik celana dalam yang dikenakannya dengan kasar. “Jangan bercanda,” desis Erlangga. “Aku nggak yakin kamu sehebat dia,” lanjut Kirana, sengaja ingin mengejek dan berhasil, saat melihat kilatan amarah terlihat di wajah Erlangga. “Kamu nggak tahu apa-apa,” geram lelaki itu, lantas menghentakkan miliknya tanpa memberikan aba-aba, apalagi pemanasan yang membuat Kirana meringis kesakitan. “Jangan bilang kamu?” Erlangga menahan tubuhnya dengan kedua tangan, menatap ke arah Kirana dengan tatapan tidak percaya. “Kamu masih perawan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD