Erlangga terkejut dengan apa yang ia dapati. Kirana masih perawan. Satu tahun menikah Erlangga tidak pernah menyentuh wanita itu dan mahkota itu masih terjaga dengan baik.
Tanpa diucapkan, bahkan dibanggakan oleh Kirana, lelaki itu bisa merasakannya. Apalagi, setelah melihat wanita di bawahnya meringis kesakitan dan menahan tangisnya.
“Buka matamu,” bisik Erlangga.
Kirana menurut, membuka matanya yang sebelumnya terpejam menahan sakit. Erlangga menatap wajah Kirana dari jarak yang sangat dekat, hanya beberapa senti saja. Wanita itu tengah membungkam mulutnya sendiri, sedangkan air mata perlahan jatuh dari sudutnya.
“Aku akan memulai.” Erlangga menekan kuat dan tampak Kirana berusaha keras menahan sakitnya.
Melakukannya untuk pertama kali pasti menimbulkan sensasi sakit, apalagi keduanya tidak melakukan sesi pemanasan, yang membuat Kirana terkejut bukan main. Tapi itu sudah menjadi resikonya, selain karena Erlangga memang tidak pernah mau menyentuhnya, juga karena mungkin saja ia tidak terlalu menarik di mata Erlangga.
Erlangga mendekatkan wajahnya, menyingkirkan tangan yang menutupi bibir Kirana. Perlahan mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir wanita itu dengan lembut. Menggiring nafsu Kirana agar mengikutinya. Merasa wanita itu mulai terbawa, barulah Erlangga mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan.
Awalnya memang pelan dan terkesan tidak terburu-buru, tapi setelah Kirana mulai bisa mengimbangi, Erlangga justru ingin menaikkan ritmenya lebih cepat. Cengkraman di bawah sana begitu kuat dan hangat, kepalanya mulai terasa pusing dan tidak bisa melakukannya secara perlahan.
Rintihan yang sejak terdengar, berganti dengan erangan dan desahan yang kian membuat Erlangga menghentak lebih kuat.
“Erlangga,” apalagi saat wanita itu menyebut namanya dengan begitu lembut dan menggoda, membuat nafsu kian membuncah, tidak terkendali.
Satu tangan lelaki itu melucuti pakaian Kirana yang masih tersisa, membuatnya bisa melihat dengan langsung lekuk tubuh wanita itu tanpa sehelai pakaian pun. Jika selama ini Kirana kerap berpenampilan biasa saja dengan style yang menurutnya sangat norak, tapi lihatlah apa yang disembunyikan wanita itu di dalamnya. Kirana memiliki kulit yang begitu halus, lembut dan bersih. Dua gunung kembar yang terlihat menantang seolah ingin dinikmati, bentuk dan ukurannya sangat pas. Mengapa selama ini Erlangga tidak menyadarinya?
Atau mungkin Kirana memang sengaja menyembunyikannya agar Erlangga tidak menyadarinya.
Tapi, apapun alasan wanita itu, ia tidak perlu. Saat ini ia ingin menikmati tubuh wanita itu sepuasnya, selagi masih berstatus sebagai istrinya.
Percintaan yang begitu panas dan b*******h itu berhasil membawa Erlangga pada puncak kenikmatan. Tidak menyangka Kirana berhasil membuatnya mengerang penuh damba saat melepaskan cairan hangat yang memenuhinya.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Erlangga melepaskan diri, berguling di samping Kirana. Posisinya saat ini sama-sama menghadap ke atas, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
.
“Bisa saja kita berpisah dengan statusmu masih perawan, itu lebih baik. Kamu bisa mengatakan pada lelaki itu, betapa brengseknya suamimu ini. Kamu nggak akan rugi, malah bisa dapat keuntungan nantinya.”
Erlangga kembali teringat, mengapa Kirana mengajukan permintaan tersebut sebagai syarat bercerai. Apalagi setelah tahu wanita itu masih perawan, ia bisa pergi dengan kesuciannya. Tapi, malah sengaja memberikan padanya, dengan alasan meminta haknya, apakah sungguh itu alasan Kirana?
“Atau kamu ingin membuktikan bahwa kamu dan lelaki itu tidak berselingkuh?” Tebak Erlangga selanjutnya. “Bagiku itu nggak akan merubah apapun. Masih perawan atau tidak, kita akan tetap bercerai. Seperti kesepakatan awal, setelah ini kamu akan menandatangani surat itu.”
.
Kirana tidak mengatakan apapun, yang membuat Erlangga penasaran dan menoleh ke samping, ke arahnya. Wanita itu masih dengan posisinya menatap langit-langit, memegangi bagian atas tubuhnya yang masih telanjang.
“Aku akan menandatangani surat itu, secepatnya.” balas Kirana, tanpa menoleh.
“Baguslah, memang itu yang aku harapkan.”
Kirana beranjak dari tempatnya, hingga membuat Erlangga bisa melihat punggungnya yang mulus dan bersih. Rambut hitam sebatas punggung membuat Kirana terlihat mempesona. Tapi Erlangga segera mengenyahkan pikiran itu dari dalam isi kepalanya. Cukup satu kali, dan tidak ada sesi kedua apalagi ketiga.
“Kamu akan segera mendapatkan surat itu, tenang saja.” Kirana memunguti pakaiannya, lantas pergi dari kamar Erlangga tanpa menoleh apalagi menatap ke arahnya.
Kepergian wanita itu menimbulkan perasaan tidak terima, tapi Erlangga langsung menyangkal dengan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malam harinya sekitar pukul sembilan malam, Erlangga merasakan perutnya perih, karena lapar. Ia ingat, makanan terakhir yang masuk ke dalam lambungnya sekitar pukul satu siang, saat jam makan. Pantas saja ia merasa begitu lapar. Perlahan ia keluar, mencari sosok Kirana yang selama ini selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Dari mulai pakaian, sampai makanan. Tapi, tidak terlihat tanda-tanda keberadaan wanita itu di ruang tamu, meja makan dan ruang televisi.
Tatapan Erlangga tertuju ada kamar, mungkin saja Kirana masih ada di dalam saja, tertidur akibat lelah setelah percintaan tadi. Erlangga tersenyum samar, langkahnya segera menuju ke kamar yang ditempati Kirana.
“Kirana!” Panggilnya, sambil mengetuk pintu.
“Kirana, aku lapar. Siapkan makanan untukku.”
Biasanya, makanan selalu tersedia di meja makan, jika tahu Erlangga belum makan. Tapi ia sempat melihat sekilas di atas meja makan kosong, tidak ada makanan apapun disana, yang artinya Kirana belum menyiapkan apapun untuknya.
“Kirana! Aku lapar.” Ulangnya dengan suara lebih tinggi, berharap ada respon dari dalam sana.
Karena wanita itu tidak kunjung menjawab, Erlangga pun menarik gagang pintu untuk memastikannya sendiri. Tahu, jika selama ini Kirana kerap mengunci pintu tersebut dan tidak pernah membiarkan Erlangga masuk ke dalamnya, tapi ia ingin mencoba. Siapa tahu wanita itu lupa menguncinya.
Dan, benar saja saat Erlangga menarik gagang pintu, dengan satu kali dorongan saja pintu tersebut terbuka lebar.
“Kirana!” Erlangga kembali memanggil, melangkah masuk lebih dalam untuk mencari istrinya. Tapi di atas tempat tidur, di kamar mandi bahkan di ruang ganti pun Kirana tidak ditemukan. Kemana perginya wanita itu?
Erlangga segera kembali keluar untuk mengambil ponselnya. Mungkin saja wanita itu tengah berada di luar untuk membeli sesuatu atau diam-diam pergi ke rumah ibu untuk menceritakan apa yang terjadi barusan, tentang percintaan mereka.
Panggilan tidak langsung terhubung, membuat Erlangga kesal. Tapi ia terus berusaha menghubungi wanita itu berkali-kali, tanpa jeda. Hingga ia mendengar suara yang begitu familiar di seberang sana.
“Kirana.” Panggilnya setelah memastikan terhubung.
“Iya,” jawab wanita itu dari seberang sana.
“Kamu dimana?” Tanya Erlangga. “Kamu nggak ada di rumah.”
“Benar. Aku nggak ada di rumah, aku pulang.”
“Pulang? Kemana? Ke rumah Ibu?”
“Nggak, tapi pulang ke rumahku sendiri.”
“Apa?” Erlangga terkejut.
“Dimana rumahmu?” tanyanya lagi.
“Kamu nggak perlu tau, aku sudah menandatangani dan suratnya ada di atas meja, di dekat vas bunga mawar merah dekat jendela.”
Tatapan Erlangga langsung tertuju pada tempat yang disebut Kirana barusan. Benar saja disana terdapat selembar kertas berisi formulir perceraian dan Kiraha sudah menandatanganinya.
“Kamu tinggal menyerahkannya pada Pa Burhan, dia yang akan menyelesaikan semuanya.” lanjut Kirana.
“Apa? Tapi kamu,”
“Tugasku sudah selesai, semua syarat yang aku mau sudah terpenuhi. Sekarang waktunya aku pulang,”
Mengapa hatinya merasa tidak terima saat Kirana mengucapkannya, padahal selama ini ia begitu bersemangat untuk berpisah.
“Aku punya sesuatu untukmu, aku taruh di laci putih, masih di lokasi yang sama. Kado anniversary kita.” Terdengar tawa kecil dari seberang sana.
“Selamat satu tahun pernikahan, Erlangga. Semoga setelah ini, kita menemukan kebahagiaan yang kita cari.” Ucapnya, lantas mematikan sambungan secara sepihak.
Erlangga terkejut, bukan seperti ini yang ia mau. Mengapa wanita itu meninggalkannya, seharusnya ia yang meninggalkan Kirana. Tapi semuanya seperti terbaik dan tidak sesuai rencananya.