7. Tanpa Revisi

1012 Words
Zidan datang lebih pagi dari biasanya. Udara pagi masih menyisakan bau tanah basah dari hujan semalam. Pintu geser gudang sudah terbuka setengah, meninggalkan celah yang cukup untuk cahaya masuk tanpa benar-benar menghangatkan ruangan. Wisnu sedang menurunkan peti besi ringan bersama dua pekerja lain. Gerakan mereka terkoordinasi, tidak terburu-buru. Tidak ada mobil hitam di area parkir dekat gudang. Zidan sempat berpikir mungkin dia datang terlalu pagi, tapi dia segera mengenyahkan pikiran itu. Dia melangkah masuk, meletakkan tas di meja kecil dekat papan jadwal, lalu menoleh lagi ke arah luar. Memang kosong. Tidak ada Audi hitam yang biasa terparkir sendiri di antara deretan sepeda motor pekerja. Zidan melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan perasaan aneh yang menggelitik pikirannya. Dia mengecek papan jadwal. Semua nama terpasang rapi, tertulis dengan spidol hitam yang mulai memudar di beberapa huruf. Tidak ada perubahan instruksi sejak dua hari lalu. Biasanya, jika ada revisi sekecil apa pun, baik arah rak diputar, atau jarak lorong yang ingin dipersempit beberapa sentimeter, pesan perubahan itu akan masuk sebelum jam delapan. Hari ini tidak ada. Zidan membuka ponsel. Jam menunjukkan pukul 08.30. Tidak ada pesan masuk. "Bang, ini ditaruh di zona B atau C?" tanya Wisnu dari balik peti. "B," jawab Zidan singkat, tanpa menoleh. Wisnu mengangguk. Tidak ada komentar tambahan. Tidak ada nyanyian nyeleneh yang biasanya muncul pagi-pagi, liriknya diganti seenaknya untuk mengusir kantuk. Hari itu, gudang bekerja dalam senyap yang rapi. Sangat profesional. Zidan berkeliling memastikan jalur aman, sudut-sudut tajam sudah diberi pelindung, dan pekerja baru memahami alur kerjanya. Semuanya berjalan sesuai prosedur. Bahkan lebih lancar dibandingkan minggu lalu. Seharusnya dia merasa lega, dan memang lega, tapi masih ada sensasi lain yang rasanya hilang. Sensasi yang dia tidak tahu apa namanya, tapi karena itu hilang, ruang di depannya jadi terasa lebih luas dari biasanya. Biasanya ada satu orang yang berdiri di sisi lorong, memperhatikan detail yang nyaris tidak penting. Seseorang yang akan bertanya kenapa jaraknya lima sentimeter lebih lebar dari rencana awal, atau kenapa label ditempel sedikit miring. Hari ini tidak ada yang memperhatikan detail kecil itu. Zidan berhenti di dekat rak baja. Tangannya refleks meraih ponsel, membuka catatan, bukan untuk mencari pesan, hanya memastikan jadwal pengiriman siang nanti. Semua sudah tercatat rapi. Tidak ada notifikasi masuk. Dia mengunci layar ponsel kembali. Bekerja tanpa pengawasan seharusnya lebih ringan. Keputusan bisa diambil cepat, tanpa diskusi panjang, tanpa klarifikasi berulang. Namun ritme hari itu terasa berbeda. Bukan kacau. Hanya waktunya terasa memanjang, seolah jarum jam bergerak dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya. Menjelang siang, sebuah pesan masuk. Naira: Pengiriman besok dimajukan ke pagi. Pastikan tim siap. Singkat. Langsung ke inti. Tidak ada kalimat pembuka, tidak ada penutup. Zidan membalas seperlunya. Zidan: Siap. Saya sesuaikan jadwal. Tidak ada balasan lanjutan. Dia menyimpan ponsel, lalu memanggil dua pekerja untuk mengatur ulang pembagian tugas. Instruksinya jelas, nyaris mekanis. Tidak ada yang perlu ditanyakan. Tetap saja, di sela kesibukan itu, muncul harapan kecil yang tidak relevan: andai ada satu pertanyaan tambahan, satu klarifikasi, atau satu revisi yang membuat percakapan itu berlanjut satu baris lagi saja. Sore hari, gerimis turun. Atap seng memantulkan suara yang teratur, seperti hitungan mundur yang tidak menuju apa pun. Zidan berdiri di tengah gudang, memeriksa barisan terakhir sebelum pulang. Rak tertata. Lantai bersih. Tidak ada yang terlewat. Dia menyadari sesuatu yang kecil, nyaris tidak layak dicatat: biasanya, di jam-jam seperti ini, ada sepasang sepatu flat hitam yang diletakkan rapi dekat pintu masuk. Hari ini, area itu kosong. Zidan menoleh sebentar, lalu kembali menutup buku catatan. Dia tidak sedang menunggu siapa pun. Dia hanya memastikan pekerja terakhir sudah keluar dengan aman, agar dia bisa mengunci gudang seperti biasa. Dalam perjalanan pulang, tidak ada pikiran yang mengganggu. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada spekulasi. Hari itu selesai dengan sangat baik. Hanya saja, saat lampu jalan menyala satu per satu, Zidan menyadari satu hal: Gudang Cempaka tetap berjalan baik, tapi hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. *** Gudang Cempaka selesai lebih cepat dari perkiraan. Bukan karena keajaiban. Hanya karena tidak ada lagi revisi yang datang di menit terakhir. Pengiriman terakhir tiba tepat waktu. Audit internal berjalan singkat. Catatan yang perlu ditandatangani tidak lebih dari dua lembar. Zidan berdiri di sisi gudang saat truk terakhir keluar. Dia memastikan segel tertutup rapat, lalu memberi isyarat kepada petugas keamanan. Naira datang menjelang sore. Mobilnya sama, tapi cara turunnya berbeda. Tidak ada waktu yang diulur. Tidak ada langkah yang diperlambat. Dia langsung berjalan menyusuri lorong utama, sepatu flat hitamnya menyentuh lantai beton yang sudah dibersihkan. Map tipis di tangannya tidak dibuka. Dia berhenti di beberapa titik, menatap rak, label, jarak lorong—semua yang biasanya dia koreksi. Tidak ada yang disentuh. Tidak ada yang dipindahkan. Zidan mengikutinya dari jarak satu langkah. Tidak berdampingan, tapi juga tidak seformal orang pada umumnya ketika berjalan di belakang bos mereka. “Gudang ini sudah bisa diserahkan,” kata Naira. Nada suaranya netral. Seperti seseorang yang menutup satu folder dan bersiap membuka yang lain. Zidan mengangguk. “Baik, Bu.” Naira membuka map, menyerahkan satu lembar dokumen berita acara lapangan yang perlu di tanda tangani. Tidak ada koreksi kecil yang biasanya dia sisipkan di pinggir halaman. Zidan menandatangani. Gerakannya tenang. Saat kertas kembali ke tangan Naira, jari mereka sempat bersentuhan ringan, tapi cukup membuat Naira menarik map itu sedikit lebih cepat dari seharusnya. Itu tidak terlihat gusar, tapi ketenangannya sedikit goyah. “Pekerjaanmu sempurna,” kata Naira, setelah map ditutup. “Terima kasih,” jawab Zidan. "Ini berkat tim juga." Naira mengangguk ringan, membiarkan matanya menatap Zidan lebih lama, membiarkan sunyi di antara mereka. Dia lalu beralih menatap gudang saat menyadari Zidan pun melakukan hal yang sama. Zidan mengamati Naira dalam diam. Biasanya dia tidak suka membuang waktu, tapi jika itu terkait Naira, dia tidak membencinya. "Baiklah, saya permisi." Zidan mengangguk ringan, hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang harus dia katakan, agar Naira lebih lama di sana. Naira menutup map dan berjalan pergi tanpa menoleh. Beberapa menit kemudian, Audi hitam itu meninggalkan area gudang. Zidan berdiri sampai mobil itu tidak lagi terlihat. Gudang Cempaka, untuk pertama kalinya, benar-benar terasa selesai. Pertanyaan konyol sejenak melintasi benak Zidan: Apa setelah ini dia masih punya alasan untuk bertemu Naira?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD