Tanpa Revisi (2)

765 Words
Keesokan harinya, Zidan datang ke kantor Naira Property Group. Alasannya rapi dan profesional: penutupan administratif dan pembahasan status penugasan. Semua bisa dilakukan jarak jauh, tapi ada hal-hal yang tidak tertulis di email—dan Zidan tahu itu sejak dia memutuskan berangkat. Logo perusahaan terpasang di dinding depan: monogram NPG dengan garis tegas, abu-abu gelap berkilap perak. Di bawahnya, moto singkat yang pernah dia lihat di kop laporan: Built on Decisions. Kalimat itu lebih seperti peringatan daripada janji. Resepsionis memanggil namanya tanpa bertanya. “Ruang Bu Naira sudah siap.” Zidan hampir tersenyum tipis. Dia memang tidak perlu datang. Dokumen bisa dikirim. Tanda tangan bisa diwakilkan. Bahkan penutupan proyek sudah sah sebelum dia melangkah masuk ke gedung ini. Tapi tubuhnya tetap melangkah, dan baru saat berdiri di depan pintu kaca buram itu dia menyadari betapa tipis jarak antara alasan dan keinginan. Zidan menarik napas pelan. Dia tidak datang untuk Naira. Itu yang terus dia katakan pada dirinya sendiri. Dia hanya memastikan penyerahan benar-benar selesai. Namun dia berdiri terlalu lama di sana, cukup lama sampai telapak tangannya terasa hangat sendiri. Pintu terbuka. Ruang kerja Naira lebih rapi dari yang dia bayangkan. Meja bersih, kursi tertata, tanpa foto pribadi. Segalanya tampak terkontrol. Naira berdiri di sisi meja, menutup sebuah map. Dia tidak langsung duduk. “Silakan,” katanya. Zidan duduk. Ada jeda canggung yang tidak biasa. Biasanya, mereka bertemu di ruang terbuka, di lorong gudang, dengan suara mesin dan pekerja sebagai latar. Di sini, sunyi menyorot setiap gerakan kecil. Naira duduk menyusul, menyilangkan pergelangan kaki, lalu membatalkannya. Dia menggeser kursi sedikit lebih dekat ke meja—gerakan kecil yang terasa seperti penyesuaian. “Secara administratif, Proyek Cempaka ditutup hari ini,” katanya, sembari mendorong map ke arah Zidan. "Ini evaluasi internal.” Jari mereka hampir bersentuhan saat Zidan mengambil map itu, membuat Zidan sadar betapa dinginnya udara kantor dibandingkan hangat yang tertinggal sesaat di kulitnya. “Seperti yang pernah saya sampaikan,” lanjut Naira, “perusahaan membutuhkan pengawas lapangan yang konsisten. Hasil kerjamu memenuhi standar itu.” Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada senyum. Namun Zidan menangkap sesuatu di caranya berhenti di kata konsisten. "Detail kontrak akan dikirim HR.” Zidan mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi kembali. Kali ini lebih berat. Naira meraih pulpen, memutarnya pelan, lalu meletakkannya kembali sejajar dengan map. Tangannya berhenti di sana, tidak segera ditarik. “Saya sudah tanda tangan,” kata Zidan, menyerahkan kembali map kepada Naira. Naira mengambil map itu, menatapnya sekilas, lalu meletakkannya di meja. Dia tidak segera berkata apa pun. Zidan menunggu instruksi selanjutnya. Anehnya, dia tidak merasa waktu berjalan lambat. Kesunyian itu tidak menekan—justru terasa seperti jeda yang sengaja dipertahankan. “Zidan,” panggil Naira. Tanpa jabatan. Tanpa jarak. Zidan mengangkat pandangan. “Ada hal lain.” Mata Naira sempat bergeser ke jendela, lalu kembali. “Bukan urusan kantor.” Dia berhenti sejenak, seolah sedang menimbang keberanian sendiri. Zidan menangkap gerakan kecil itu—Naira menelan ludah, lalu sedikit mengalihkan pandangan. Kecanggungan yang jarang sekali terlihat darinya. Sosok yang biasanya begitu terkendali kini tampak kehilangan satu lapis ketegasannya, dan justru itu yang membuatnya terasa lebih dekat. “Aku ingin bertemu di luar. Kalau kamu bersedia.” Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan yang dibungkus profesionalisme. Undangan itu dibiarkan apa adanya, menggantung di antara mereka. Zidan merasakan sesuatu yang selama ini dia tolak untuk dinamai—perasaan yang belum dibereskan, belum benar-benar ditinggalkan, dan kini berdiri tenang menunggu jawaban. Dia berdiri. “Baik,” katanya. Naira ikut berdiri. Kali ini jarak mereka benar-benar dekat. Terlalu dekat untuk ruang kantor yang dingin dan netral. Sebagai penutup formal, Naira mengulurkan tangan. “Selamat bergabung di NPG.” Zidan menahan senyum kecil. Kalimat itu terdengar terlambat, hampir kaku, namun justru memperjelas kegugupan yang berusaha disembunyikan Naira. Dia menyambut uluran tangan itu. Jabatan tangan mereka tegas, singkat—namun saat seharusnya dilepas, jari Naira tertahan lebih lama di punggung tangan Zidan. Sentuhan kecil, nyaris profesional, tapi cukup untuk membuat napas Zidan tersendat sesaat. Naira menarik tangannya lebih dulu. “Aku kabari waktunya,” katanya. Zidan mengangguk. Senyum tipis terbit tanpa dia sadari. Dari ajakan bertemu, ucapan selamat bergabung, hingga pengingat akan pertemuan selanjutnya—Naira hari ini terasa berbeda. Perbedaan itu justru membuat Zidan ingin tahu lebih jauh. Dia berbalik menuju pintu, tidak melihat semu merah yang perlahan muncul di wajah Naira, dipicu oleh senyum yang pertama kali dia lihat dari Zidan. Saat tangan Zidan menyentuh gagang pintu, satu hal menjadi jelas: pertemuan ini tidak lagi sepenuhnya berada di bawah payung proyek. Dan sentuhan singkat itu—yang seharusnya tidak berarti apa-apa—justru terasa seperti keputusan pertama yang jujur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD