Naira sudah duduk di kursi kerjanya sejak pukul tujuh pagi.
Laptop terbuka. Ponsel di sebelahnya. Jadwal rapat kosong sampai jam sebelas. Tidak ada alasan operasional yang memaksanya tetap di kantor. Biasanya, di jam segini, dia sudah dalam perjalanan ke proyek Cempaka, tapi hari ini tidak.
File laporan Gudang Cempaka terbuka di layar. Semua indikator hijau. Progres sesuai jadwal. Tidak ada deviasi biaya. Tidak ada keluhan tenaga kerja. Satu variabel yang tidak tercatat di sana: Zidan.
Naira memutar kursi menghadap jendela. Nexford mulai terang. Kendaraan bergerak seperti biasa.
Tangannya gelisah. Napasnya dangkal.
Pagi yang biasanya dimulai dengan alasan singkat untuk mengecek progres lapangan kini terasa kosong. Tidak ada urgensi yang sah maupun pembenaran rasional.
Setiap kali keinginan untuk mencari alasan ke lapangan muncul, dia menekannya dengan disiplin yang nyaris kejam. Namun, Zidan selalu menyusup di sela rapat, di antara angka-angka, di jeda kopi yang terlalu sunyi.
Naira menghitung hari sejak terakhir kali mereka berbicara langsung. Mengingat nada suaranya. Cara dia menahan diri saat bicara, seolah selalu sadar batas. Kesadaran itu kini terasa seperti cela.
Barangkali dia terlalu sering muncul. Barangkali dia memberi kesan yang salah. Barangkali jarak ini memang konsekuensi yang wajar.
Naira menggandakan jam kerja. Datang lebih awal, pulang lebih malam. Mengoreksi ulang laporan yang sebenarnya sudah layak. Memberi catatan berlebihan pada hal-hal kecil. Dia ingin lelah. Ingin kepalanya penuh oleh sesuatu yang bukan Zidan. Tetapi setiap kali satu ruang berhasil dikosongkan, ruang lain terisi.
Apakah Zidan baik-baik saja?
Kekhawatiran itu bukan tentang keselamatan ataupun proyek. Melainkan tentang Zidan tidak berada dalam jangkauannya.
Dia mengambil ponsel. Tidak ada pesan dari Zidan. Tentu saja tidak ada. Mereka tidak punya relasi di luar proyek. Dia bukan siapa-siapa dalam hidup Zidan.
Naira meletakkan kembali ponsel itu.
Kalau aku berhenti datang selamanya, hidupnya tetap berjalan.
Kalimat itu muncul begitu saja.
Naira menutup mata sebentar.
Ini bukan cinta ataupun ketertarikan. Ini kebutuhan untuk memastikan satu hidup tidak hancur lagi di tangannya. Kini kebutuhan itu sudah bergeser menjadi dorongan untuk mengontrol.
Naira berdiri. Mengambil blazer. Memakai sepatu flat hitamnya. Dia berjalan tiga langkah ke pintu. Lalu berhenti.
Kalau dia datang hari ini, dia mengulang pola yang sama. Kalau dia tidak datang, dia membuktikan satu hal: dia masih punya kendali atas dirinya sendiri.
Naira kembali duduk. Dia merasa seperti pecandu yang sedang menahan dosis.
***
Makan malam keluarga datang di saat pikiran Naira sedang paling berantakan.
Meja makan dipenuhi aroma sup ayam dan tumis sayur. Surya duduk di ujung meja, Ratna di sisi kanannya sedang mengaduk sup. Luna di sisi kirinya, anggun seperti biasa. Naira di sisi kiri Luna.
"Kamu makin kurus, Nai. Wajahmu juga kelihatan capek," kata Ratna.
"Aku baik-baik saja, Ma."
"Kamu jarang makan malam bersama sekarang. Pulangnya juga selalu larut malam."
Naira mengangguk singkat. "Aku lagi banyak kerjaan."
Surya meletakkan sendoknya pelan.
"Papa ketemu beberapa relasi lama minggu lalu,” katanya ringan. “Mereka nanya kabarmu.”
Ratna menoleh ke Naira, ada bangga di wajahnya. “Papa kamu sering cerita soal kamu ke mereka.”
“Mereka tertarik dengan perusahaanmu,” lanjut Surya. “Cuma sinergi kecil.”
"Saya sedang tidak mencari kemitraan baru, Pak."
"Kamu bahkan belum mendengar detailnya.”
"Saya sudah cukup repot dengan dua proyek yang sedang berjalan."
"Kamu tidak bisa terus bermain dengan proyek kecil, Naira. Sudah saatnya mengembangkan perusahaanmu."
"Saya ingin pelan-pelan membangunnya dengan tangan saya sendiri."
"Jangan naif. Apa kamu lupa siapa yang memberikan perusahaan itu kepadamu?"
Naira tertawa kecil. "Saya tidak lupa. Anda memberikannya empat tahun lalu sebagai hadiah karena menjadi tameng putri Anda."
Rahang Surya mengencang.
Luna mengangkat wajahnya. Senyumnya tipis. "Kakak masih pakai narasi itu?"
Naira melirik sekilas.
"Padahal Papa tidak pernah memaksa Kakak menanggung apa pun," lanjut Luna ringan. "Kakak yang memilih masuk ke sana."
Ratna menengahi. "Sudahlah."
Naira menaruh sendoknya. "Kalau kita mau jujur, Luna, aku masuk karena Papa butuh wajah bersih untuk menutupi proyek-proyekmu yang gagal karena kamu nggak kompeten."
Wajah Luna menegang.
"Apa saya perlu menyebutkan juga bagaimana Anda melempar proyek busuk ke sana sampai akhirnya bangkrut?" tambah Naira, menoleh ke Surya.
Ratna tercekat. "Nai—"
Luna tertawa pendek. "Lucu. Kakak selalu merasa jadi korban, padahal Kakak yang paling diuntungkan."
Naira menatapnya penuh. "Diuntungkan? Aku yang berdiri di depan media waktu Papa hampir masuk penjara karena kasus logistik. Namaku yang dicatat sebagai penanggung jawab proyek gagalmu. Kamu? Kamu bersembunyi di belakangku, dan menerima penghargaan saat proyek berhasil."
Luna menyilangkan tangan. "Saat itu bukannya Kakak takut Papa berhenti melindungi Zidan kalau Kakak berhenti berguna?"
Meja makan mendadak sunyi.
Naira terdiam.
Surya menatap Luna tajam.
Ratna gelisah.
"Sudah cukup," kata Surya, lalu menyeka sudut bibirnya dengan serbet. “Lupakan kemitraan kalau memang tidak menginginkannya,” katanya final, “Tapi Papa sedang mempertimbangkan satu opsi.”
Naira diam saja, nafsu makannya mendadak hilang.
“Stabilitas,” lanjutnya. “Usiamu tidak muda lagi. Akan lebih baik kalau ada pendamping yang tepat.”
Ratna tampak semangat. "Apa sudah ada calonnya?"
"Anak pemilik jaringan logistik. Umurnya sama dengan Naira."
"Aku tidak tertarik," sela Naira tanpa menoleh.
"Coba ketemu dulu. Background-nya bersih. Tidak membawa risiko citra."
Risiko.
Naira tahu kepada siapa kata itu ditujukan. "Baik. Akan saya luangkan waktu."
Senyum Surya melebar. "Papa tunggu kabarmu."
Ratna terlihat senang.
Pasangan itu bangkit, lalu meninggalkan meja.
Luna bertopang dagu. "Kalau tahu tidak akan menang, kenapa tidak menyerah sejak awal, Kak?"
Naira melirik sekilas.
"Orang seperti Kakak biasanya tidak diberi pilihan—hanya tanggung jawab."
Naira menatap Luna penuh. "Bagaimana denganmu? Selain wajah dan status, kau bahkan tidak punya apa pun."
Luna bertopang dagu. "Kalau Kakak pikir bisa terus mengendalikan segalanya, Kakak salah. Papa tidak suka kehilangan asetnya."
Naira menatapnya dingin. "Dan kamu tidak suka kehilangan peranmu."
Luna bangkit. "Hati-hati. Kadang yang Kakak lindungi justru yang pertama dijadikan alat untuk menjatuhkan Kakak."
Naira tidak menanggapi. Dia pun meninggalkan meja. Perutnya terasa kosong.
***
Selama ini Naira percaya hidupnya berada dalam kendali penuh—pekerjaan, keputusan, relasi.
Sampai Zidan muncul.
Dia tidak menolak tawaran Surya, karena pikirannya sedang merobohkan dan menyusun ulang peta yang telah berubah.
Jika tidak datang ke lapangan, dia kehilangan akses. Tanpa akses, dia kehilangan informasi. Tanpa informasi, dia buta.
Kebutaan adalah celah. Celah adalah sesuatu yang bisa merebut Zidan darinya.
Itu tidak bisa dibiarkan.
Obsesi tidak datang sebagai ledakan. Pada Naira, itu tumbuh sebagai sistem. Sebagai rangkaian keputusan kecil yang saling mengunci sampai tidak bisa dibatalkan tanpa merobohkan semuanya.
Dia mencari cara “aman” untuk mengetahui kabar Zidan—melalui laporan, orang ketiga, data. Namun tetap tidak cukup. Karena yang dia butuhkan bukan lagi informasi, melainkan posisi. Status yang tidak bisa digugat. Hubungan yang memberi hak intervensi. Struktur yang membuat siapa pun harus meminta izinnya untuk menyentuh hidup Zidan.
Pernikahan.
Kata itu muncul tanpa degup jantung, apalagi romantisme. Dia hadir seperti solusi teknis terhadap masalah operasional. Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Surya. Ini pernikahan sebagai instrumen. Dengan Zidan.
Naira duduk sendirian di ruang kerjanya malam itu. Lampu meja menyala seperti titik interogasi. Dia menyusun kemungkinan dengan ketelitian yang sama seperti menyusun proyek bernilai miliaran. Tentang resiko, keuntungan, konsekuensi hukum bahkan dampak reputasi.
Zidan terlalu rapuh untuk dunia yang tidak punya belas kasihan. Statusnya, masa lalunya, dan posisi sosialnya selalu satu langkah dari kehancuran.
Jika Zidan dijauhkan darinya, dia akan jadi target empuk, terutama target Surya.
Pernikahan kontrak memberi status, perlindungan, akses sah, dan hak legal untuk campur tangan. Alasan hukum untuk menahan siapa pun yang mencoba memindahkan Zidan tanpa persetujuannya.
Zidan akan berada di wilayah aman. Wilayahnya. Di bawah payung namanya, dan di bawah sistem yang dia kendalikan.
Dia tidak menyebutnya mengikat, melainkan menjaga. Dia tidak menyebutnya posesif, melainkan tanggung jawab.
Pernikahan kontrak menyelesaikan banyak hal sekaligus. Menjawab desakan Surya tanpa menyerahkan kendali pada orang asing. Mengamankan Zidan tanpa harus menjelaskan perasaan yang bahkan dia anggap sebagai gangguan kognitif.
Dia tidak butuh cinta untuk ini. Cinta justru membuat orang ceroboh. Yang dia butuhkan hanyalah posisi hukum yang tepat untuk memastikan Zidan tidak pernah lepas dari orbitnya. Zidan akan selalu “aman” dalam perlindungannya. Entah dia menginginkannya atau tidak.
Naira menutup laptopnya perlahan. Besok, dia akan bertemu Zidan. Bukan sebagai atasan maupun pemilik proyek, melainkan sebagai seseorang yang akan menawarkan satu-satunya solusi rasional. Kali ini, dia tidak berniat kehilangan kendali lagi.