Zidan tidak punya banyak kenalan sebelum masuk penjara, jadi dia tidak punya daftar kemungkinan wanita mana yang mengincarnya. Apakah itu orang suruhan Arkan? Tapi itu bukan gaya Arkan. Orang sepertinya bahkan mungkin lupa pernah mengkambinghitamkan dirinya, tidak mungkin repot-repot meminta orang memata-matainya. Jadi siapa sebenarnya gadis itu? Apa maunya?
***
Sudah 3 minggu Zidan bebas. Uangnya semakin menipis. Pilihan pekerjaan pun menyempit. Akhirnya, dia berhenti melamar ke tempat besar. Dia mulai ikut kerja harian. Angkat barang atau bantu proyek kecil bukan masalah, selama tidak ada kontrak dan tidak ada pertanyaan masa lalu. Yang penting kuat dan bisa kerja.
Proyek gudang itu seharusnya sederhana. Hanya renovasi ringan dengan perbaikan struktur untuk penyesuaian ruang. Tapi sejak hari pertama, semuanya terasa salah. Mandor jarang datang. Material tidak sesuai. Jadwal berantakan. Orang-orang bekerja tanpa koordinasi. Zidan awalnya hanya pekerja tambahan. Sampai satu hari mandor tidak muncul sama sekali.
Pekerja mulai ribut. Kesalahan kecil menumpuk. Deadline mendekat. Zidan berdiri di tengah lapangan, melihat kekacauan itu seperti membaca peta lama yang dia hapal di luar kepala.
“Kalau balok itu dipasang sekarang, besok kau harus membongkarnya,” kata Zidan, suaranya naik menembus kebisingan.
Seorang pekerja menoleh. “Terus harus gimana, Bang? Mandor belum ada kasih perintah."
Zidan menggeleng. “Kalau kita nunggu dia, proyek ini nggak akan jalan."
Yang lain menyahut, dengan tatapan sinis, "Jadi kami harus ngikutin kau?"
Zidan mengabaikan, hanya berjalan melewatinya. "Ikut saya kalau mau proyek ini selesai dan digaji.”
Tidak ada pengangkatan resmi atau penunjukan, tapi Zidan mengatur ulang alur kerja. Dia membagi tugas dan ikut memindahkan material. Dia tidak banyak bicara, tapi setiap instruksi tepat sasaran. Dia tidak berdiri memerintah, tapi ikut turun tangan. Pelan-pelan, lapangan kembali berjalan.
Dua hari kemudian, sebuah mobil hitam merk Audi A6 berhenti di luar pagar proyek. Jenis mobil yang tidak cocok berada di sana.
Zidan menoleh ketika seorang gadis turun. Wajah gadis itu bersih, simetris, dan yang pasti, cantik. Bukan cantik yang dibuat-buat, tapi cantik yang lahir dari ketegasan. Rambutnya terikat rapi model ekor kuda, wajahnya tenang, dan sorot matanya tajam saat menilai bangunan gudang yang belum selesai. Dia berjalan menyusuri area proyek dengan langkah yakin, lalu berhenti tidak jauh dari tempat Zidan berdiri.
Zidan menunduk, refleks lama dari seseorang yang pernah belajar bahwa menatap terlalu lama bisa berakhir buruk. Luka masa lalu mengajarkannya banyak hal: tentang salah langkah, tentang harga kebebasan, tentang bagaimana harapan bisa runtuh hanya karena satu keputusan bodoh.
“Siapa penanggung jawab di sini?” tanyanya, dengan suara tenang, seolah semua orang terbiasa mendengarkannya.
Zidan mendekat, lalu menjawab, “Seharusnya mandor. Tapi dia tidak datang.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya yang pegang lapangan.”
Gadis itu mengamatinya lebih lama. Dari tempatnya berdiri, Zidan merasa ada garis tak kasatmata yang memisahkan mereka. Gadis itu berdiri di sisi rencana dan pertumbuhan—gudang yang sedang dibangun, proyek yang menjanjikan masa depan. Sementara Zidan berdiri di sisi lain, membawa masa lalu yang penuh retak dan kesalahan. Namun cara gadis itu memandangnya tidak seperti merendahkan—melainkan seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu yang bisa dia gunakan.
“Siapa namamu?”
“Zidan. Zidan Pratama.”
“Aku Naira,” katanya. “Pemilik proyek.”
Kata itu jatuh datar, tapi mengikat semua udara di sekeliling mereka.
Zidan mengernyitkan kening, mengamati wajah asing dengan nama familiar. Kalimatnya meluncur hampir spontan. "Naira Atmaja?"
"Bukan," kata Naira dengan sentuhan senyum getir di bibir. "Naira Wijaya."
Zidan tidak bertanya lebih lanjut, tapi anehnya alarm bawah sadarnya berbunyi seolah ingin memperingatkannya.
"Apa ada masalah dengan namaku?"
"Tidak."
Naira mengangguk ringan. “Saya ingin tahu kenapa proyek ini berjalan lambat.”
Zidan berdiri di sampingnya dengan jarak yang cukup dekat untuk bicara tanpa harus meninggikan suara. “Kami tertahan di dua hal. Pertama, izin perubahan desain belum turun. Kedua, baja kiriman terakhir tidak sesuai spesifikasi.”
Naira menoleh. “Tidak sesuai bagaimana?”
“Ketebalannya kurang dua milimeter.”
Nada Zidan tetap datar. Dia tidak membela diri, tidak mencari simpati. Dia hanya menyampaikan fakta—dan entah kenapa, itu membuat Naira semakin memperhatikan.
“Kalau tetap dipasang?”
"Bangunan ini akan berdiri, tapi tiga tahun lagi harus melakukan renovasi ulang.”
Ada hening singkat. Di kejauhan terdengar suara las.
“Bagaimana dengan progres yang lainnya?”
“Kami hentikan pemasangan. Anak-anak siap kerja, tapi materialnya saya tahan. Kalau nanti diganti, bongkarnya mahal.”
Naira mengangguk pelan, menyetujui keputusan Zidan yang jelas dan tegas. “Berapa lama penggantian material?”
“Tujuh sampai sepuluh hari. Kalau izin desain turun tepat waktu.”
Naira menyilangkan tangan, memandang rangka gudang sekali lagi. Saat dia berbicara, suaranya tenang. “Saya tidak mau bangunan ini cepat jadi tapi bermasalah tiga tahun ke depan.”
Zidan menoleh sepenuhnya sekarang. Tatapan mereka bertemu, jenis tatapan yang serius, sejajar. Ada rasa saling memahami yang muncul tanpa perlu diucapkan. Untuk sesaat Zidan bahkan merasa sorot mata itu tidak asing, tapi dia mengabaikan feeling-nya.
“Itu juga yang saya inginkan.”
“Oke. Ganti material. Saya urus percepatan izin.”
Zidan mengangguk. “Saya siapkan laporan teknisnya.”
Mereka berjalan lagi. Langkah Naira dan Zidan selaras, hampir tanpa disadari. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada kata personal. Tapi di sela profesionalitas itu, ada kepercayaan yang mulai tumbuh diam-diam di tempat yang seharusnya steril.
“Berapa lama kamu bekerja di sini?” tanya Naira.
“Saya kerja harian.”
“Pendidikanmu? ”
“SMK, jurusan Teknik Konstruksi dan Properti.”
“Tidak lanjut kuliah?”
“Lanjut, tapi tidak sampai selesai.”
Naira mengangguk, mengalihkan topik. “Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan ini?”
“Sebulan,” jawab Zidan.
“Baik. Saya tunggu."
"Saya tidak akan mengecewakan Bu Naira."
"Saya percaya."
Zidan bertanya-tanya bukankah Naira terlalu percaya pada orang yang baru ditemui?
***
Keesokannya, Naira datang kembali untuk memeriksa detail.
“Kamu bisa kerja tetap,” katanya akhirnya.
Zidan tertegun. “Maksud Bu Naira?”
“Kamu saya angkat sebagai karyawan tetap. Untuk sementara, kamu saya tempatkan sebagai pengawas lapangan di proyek gudang. Kalau kinerjamu baik, posisimu akan saya tetapkan sebagai pengawas lapangan tetap perusahaan."
Zidan diam sejenak. “Ada satu hal yang perlu saya sampaikan.”
Naira menunggu.
“Saya mantan narapidana.”
Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada perubahan sikap. Seolah informasi itu bukan peringatan, melainkan potongan terakhir yang dia butuhkan untuk mengambil keputusan.
“Kasus kekerasan?” tanya Naira.
“Bukan.”
“Penipuan proyek?”
“Bukan juga.”
Naira mengangguk. “Kalau begitu,” kata Naira, suaranya tetap tenang, “kita bicara masa depan.”
Zidan menatapnya, sedikit kaku. Untuk pertama kalinya sejak pintu penjara terbuka, seseorang tidak memintanya menjelaskan masa lalu.
Dia tidak tahu siapa gadis ini sebenarnya. Dia hanya tahu satu hal: dunia belum menerimanya kembali, tapi gadis ini baru saja memberinya pintu samping—bukan untuk menyelamatkannya, tapi untuk memilihnya.