4.Ikatan Sunyi

1107 Words
Naira menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Garis rahangnya kini lebih halus, hidungnya jadi sedikit berbeda. Wajah itu asing tapi matanya tetap sama—mata yang masih menyimpan ingatan tentang ruang sidang, borgol, dan satu nama yang tidak pernah benar-benar pergi. Kurang dari sebulan setelah keluar dari rumah sakit dengan wajah baru, Naira bergerak cepat untuk menyisir ulang kasus Sera. Dia mengumpulkan laptop lama, ponsel cadangan, dan akun surel yang sudah lama mati. Dia membayar ahli IT, berharap pada kelalaian kecil yang lupa dihapus manusia. Hasilnya nihil. Yang tersisa hanya potongan pesan tanpa pengirim, jejak digital tanpa identitas. “Tidak cukup,” kata ahlinya akhirnya. “Tidak ada satu pun yang bisa dibawa ke pengadilan.” Hari kedelapan sampai kelima belas, dia mengejar manusia, bukan lagi data. Teman-teman Sera. Dia ingat pernah mendengar gadis itu berkata, “Pacar Sera bukan Zidan.” Pengacara sudah disiapkan, dan jalur resmi sudah dibuka, namun ketika diminta bicara di depan hukum, gadis itu menolak. “Saya tidak yakin,” katanya pelan. “Saya takut… kalau saya salah, hidup saya juga selesai.” Dia menolak bersumpah. Menolak bertanggung jawab. Ketakutan kembali menang. Hari keenam belas sampai kedua puluh tiga, Naira mengejar nama yang paling ingin dia jatuhkan: Arkan Wardana. Dia menyewa investigator, kemudian mendengar tentang Arkan yang kerap bertemu banyak gadis yang memiliki mata sama seperti Sera. Namun setiap cerita berhenti di kalimat yang sama, “Saya tidak mau terlibat.” Tidak ada laporan. Tidak ada BAP. Tidak ada bukti hukum. Arkan bersih. Ternyata ketakutan manusia lebih kuat daripada kebenaran. Hari kedua puluh tujuh, Naira duduk di hadapan pengacara. “Semua ini spekulasi,” kata pengacara sambil melihat berkas, “tidak ada bukti konkret.” “Kalau saya bicara?” tanya Naira. "Kamu bisa dipidana karena sumpah palsu, dan kredibilitasmu runtuh. Setelah itu semua, peluang Zidan bebas pun hampir mustahil." Di situlah semuanya berakhir. Setelah itu Naira tidak lagi mengejar kasus, melainkan kepastian. Dia memastikan Zidan sehat, dan tidak dipindahkan ke lapas yang lebih buruk. Dia memastikan lewat teman SMA yang menjadi petugas administrasi. Tahun pertama, pertanyaannya sederhana. “Apakah dia Sehat?” “Apakah terlibat masalah?” “Bagaimana pekerjaannya di bengkel lapas?" Jawabannya singkat, administratif. Bersamaan dengan itu, satu nama lain mulai didengarnya: ayah Zidan. Selama beberapa hari, Naira hanya memperhatikannya dari jauh, seperti pengecut yang tahu dirinya tidak pantas mendekat. Tubuh lelaki itu makin kurus setiap minggu. Punggungnya membungkuk, langkahnya pelan, seolah dadanya terus ditekan beban yang tak terlihat. Suatu sore, di depan warung kecil dekat lapas, pria itu terhuyung. Naira turun dari mobil. “Pak—” Tangan tua itu gemetar saat mencoba berdiri. Napasnya pendek-pendek, keringat membasahi pelipis. Naira langsung memanggil ambulans. Tangannya sigap, suaranya tenang, tapi dadanya sesak, seolah dia mendekap ayahnya sendiri. Di rumah sakit, dokter berkata, “Beliau harus rawat inap. Kondisinya kronis. Ini pun sudah terlambat dibawanya.” Naira mengurus semua administrasi. Dia datang beberapa kali setelah itu. Duduk di kursi yang sama. Membawakan buah. Mendengarkan cerita tentang Zidan kecil, anak yang jarang minta apa pun. Setiap kunjungan justru membuat dadanya semakin berat oleh rasa bersalah. Sebulan kemudian, Ayah Zidan meninggal. Naira datang lebih awal ke pemakaman, tapi berdiri jauh. Mobil tahanan berhenti tidak jauh dari sana. Zidan turun dengan tangan terborgol, dikawal dua petugas. Langkahnya kaku. Wajahnya kosong, seperti seseorang yang belum memahami apa yang terjadi. Bahu Zidan sedikit turun. Tidak ada tangis, tapi pemandangan itu menyayat hati. "Bahkan lewat ayahnya pun aku gagal," pikirnya, dan kegagalan itu tidak punya saksi, selain dirinya sendiri. Naira pergi sebelum prosesi selesai. Di mobil, tangannya gemetar di setir. "Maaf... Maaf... Maaf... " gumamnya, berulang-ulang, diiringi tangis yang dia tekan rapat. Dadanya terasa sesak, seolah semua udara ikut terkubur bersama jasad ayah Zidan. Sejak hari itu, obsesinya menemukan bentuk baru. Dia tidak hanya ingin tahu apakah Zidan hidup, melainkan ingin tahu bagaimana pria itu bertahan. Tahun-tahun berikutnya, dia menghafal segalanya tentang Zidan; jam makan, jam kerja, dan hari-hari terburuknya. Dia menyesuaikan hidupnya dengan hukuman lima tahun itu, seolah waktu Zidan adalah poros hidupnya. Ini bukan lagi kepedulian. Ini ketergantungan—cara paling sunyi untuk bertahan hidup dari rasa bersalah yang tak pernah mendapat pengampunan. Pada tahun kelima, Naira berhenti bertanya. Dia tahu Zidan akan bebas. Pagi itu, dia berdiri di seberang jalan, melihat gerbang terbuka, lalu Zidan melangkah keluar. Pria itu menjadi lebih kurus. Wajahnya keras dan kusam dengan sedikit janggut yang menambah kesan berantakan. Zidan sendirian. Tidak ada yang menyambutnya. Naira melangkah satu kali ke depan, lalu berhenti. Dia sadar, dia tidak punya hak menyambut siapa pun. *** Naira tidak berniat mengikutinya. Dia hanya kebetulan berada di dalam mobil ketika Zidan keluar dari gang sempit itu. Dia melihat pria itu memakai kemeja kusut, membawa map cokelat di tangan, dan langkahnya sedikit ragu tapi dipaksakan tegap. Refleks, Naira memperlambat laju mobil. "Hanya sampai persimpangan," katanya pada diri sendiri. Zidan berhenti di sebuah kantor kontraktor kecil. Naira parkir agak jauh. Dia tidak turun atau mendekat, hanya menunggu. Lima belas menit kemudian, Zidan keluar, tanpa ekspresi. Dia menyeberang jalan, masuk ke gedung lain. Kali ini lebih lama. Dia tahu hasilnya bahkan sebelum Zidan keluar lagi. Penolakan ketiga hari itu. Di percobaan kelima, Naira melihat Zidan berdiri lama di depan pintu. Tangannya menggenggam map erat-erat, lalu mengendur. Dia tidak masuk, malah berbalik pergi ke jalan yang tidak bisa dilalui mobil. Naira sangat penasaran Zidan mau ke mana, jadi dia memutuskan turun dari mobil dan mengikutinya dari jarak aman. Tapi saat hampir ketahuan, dia segera berlari kembali ke mobilnya. Naira menutup matanya sejenak. Sebuah keputusan terbentuk tanpa kata. Malam itu, Naira menelepon kepala proyeknya. “Kita percepat proyek gudang di Jalan Cempaka. Mulai saja lusa.” “Tapi pengawas lapangan sedang ada proyek lain, Bu.” “Tidak masalah. Ikuti sesuai jadwal.” “Jadi urusan lapangan bagaimana, Bu?” “Cukup mandor. Saya atau Reina sesekali cek progress.” “Masalah administrasinya, Bu?” “Reina yang atur.” “Baik, Bu Naira.” Telepon ditutup. Proyek Cempaka tidak besar, hanya renovasi sederhana. Sempurna untuk comeback-nya Zidan tanpa menarik perhatian. *** Dua hari kemudian, Naira memastikan mandor proyek Cempaka tidak akan hadir penuh di lapangan. Baik itu alasan rapat, inspeksi, atau urusan administrasi, semuanya sah digunakan. Sesuai dugaannya, Zidan datang melamar ke proyek sebagai buruh harian. Naira melihatnya dari mobil. Hari pertama, Zidan bekerja seperti buruh umumnya; angkut semen, pasir, susun batu bata. Pekerja kasar. Hari ketiga, Zidan mulai memberi arahan kecil tanpa sadar. Hari kelima, pekerja lain mulai bertanya kepadanya, bukan ke mandor yang hampir tidak pernah muncul. Naira menerima laporan harian. Dia membacanya lebih teliti daripada laporan keuangan. Setiap kalimat terasa seperti napas baru yang dia tiupkan untuk Zidan dan entah kenapa, juga ke dadanya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD