Tidak ada yang berbeda dari proyek gudang di Jalan Cempaka. Itu hanya bangunan tua dengan rangka besi yang belum seluruhnya terpasang, lantai semen berdebu, suara mesin las yang berdengung tanpa ritme, serta udara bercampur bau logam panas dan semen basah. Naira sudah puluhan kali berada di lokasi seperti ini untuk memeriksa proyek, memberi instruksi, atau mengambil keputusan. Biasanya, tempat hanyalah tempat. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Begitu kakinya melangkah turun dari mobil, dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya. Tidak terlihat dari luar memang, tapi dia tahu tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat memberi perintah. Dia datang bukan hanya sebagai pemilik proyek, tapi juga sebagai seseorang yang membawa dosa lama.
Dia menarik napas pendek, lalu melangkah.
Ketika pandangannya menangkap seorang pria berdiri di tengah gudang—membelakangi cahaya sore, mengenakan helm proyek, tubuhnya berdebu tapi tegak—langkah Naira melambat. Terlalu singkat untuk disadari orang lain, tapi cukup untuk membuat dadanya berdebar gila-gilaan.
Zidan Pratama.
Nama itu sudah ada di kepalanya selama lima tahun ini, dan sekarang pemilik nama berdiri nyata di hadapannya. Rasanya berbeda dari sekadar mendengar laporan. Rasanya lebih berat, lebih menyesakkan. Dia bahkan ingin menangis sekarang, tapi profesionalisme yang dibangunnya selama setengah dekade menghentikannya.
Dia menelan ludah pelan.
Zidan tidak terlihat seperti seseorang yang baru keluar dari penjara. Tidak juga terlihat seperti korban kambing hitam. Dari caranya berdiri, dari fokus matanya mengamati struktur besi, dia tampak seperti pria yang sedang bekerja. Profesional dan terkendali.
Naira memaksa kakinya melangkah. Bahu ditegakkan. Wajah disetel netral. Dia sudah lama belajar bagaimana menyembunyikan apa pun di balik ekspresi yang tenang, termasuk menyembunyikan getar kecil di tangannya.
"Tenang. Profesional. Jangan salah langkah..." batinnya.
“Siapa penanggung jawab di sini?”
Suaranya stabil, terdengar professional, dan tanpa celah. Sangat mulus untuk seseorang yang sedang menahan napas.
Zidan menoleh.
Tatapan mereka bertemu—singkat, datar, dan cukup untuk membuat Naira sadar: Zidan tidak mengenalinya sama sekali.
Ada hentakan kecil di d**a Naira—cepat, tajam—lalu dia menguncinya rapat. Tatapan Zidan tidak menuduh, juga tidak mengenali. Itu hanya tatapan orang yang sedang bekerja dan harus menjawab pertanyaan.
Zidan mendekat. Jarak mereka menyempit.
“Seharusnya mandor,” katanya. “Tapi dia tidak datang.”
Suara itu lebih rendah dari yang Naira bayangkan. Tenang. Tidak defensif. Dia hampir lupa bernapas sesaat.
“Dan sekarang?” tanya Naira.
“Sekarang saya yang pegang lapangan.”
Naira menatap wajah Zidan lebih lama. Tidak ada kebencian atau sisa dendam di sana. Zidan menatapnya setara, seolah mereka hanya dua orang asing di lokasi proyek. Dan justru itu yang membuat tenggorokan Naira terasa lebih kering.
Kalau kamu tahu siapa aku, kamu tidak akan bicara setenang ini.
“Siapa namamu?”
“Zidan. Zidan Pratama.”
Nama itu menghantamnya lebih keras dari dugaannya. Dia sudah mendengarnya ratusan kali, tapi mendengarnya langsung dari mulut Zidan terasa seperti luka lama yang dipaksa terbuka tanpa suara.
“Aku Naira,” katanya setelah jeda singkat. “Pemilik proyek.”
Dia menangkap reaksi kecil di wajah Zidan—kening yang sedikit mengernyit.
“Naira Atmaja?”
Darah Naira seperti berhenti mengalir sedetik.
Tidak. Pembicaraan ini tidak boleh ke arah sana.
“Bukan,” jawabnya cepat, terlalu cepat bagi orang yang seharusnya tenang. Dia menyeimbangkan nada. “Naira Wijaya.”
Dia bahkan berani memberi senyum tipis, cukup untuk menutupi ketegangan akibat dusta.
"Apa ada masalah dengan namaku?" tanya Naira saat melihat Zidan hanya diam.
"Tidak."
Syukurlah.
Naira mengangguk, memaksa dirinya kembali ke peran.
“Saya ingin tahu kenapa proyek ini terlambat.”
Mereka mulai berjalan menyusuri gudang. Zidan menjelaskan panjang lebar tentang masalah teknis. Naira mendengarkan sambil mengamati setiap sudut gudang. Secara profesional, semuanya masuk akal. Tapi pikirannya bercabang dua. Satu sisi menilai pekerjaan. Sisi lain mengamati lelaki yang pernah dia hancurkan hidupnya—dan yang ternyata masih berdiri lurus.
Naira bertanya, menimbang, dan menguji. Zidan menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Tidak ada keluhan maupun usaha untuk menyelamatkan diri. Hal itu membuat rasa bersalah Naira semakin berat.
Saat Zidan berkata bahwa bangunan ini bisa berdiri, tapi akan bermasalah tiga tahun lagi jika material tidak diganti, Naira tahu—lelaki ini tidak murah. Dulu, dia menghancurkan orang seperti ini.
Naira mengambil keputusan cepat. Dia mengganti material. Mengurus ulang izin. Keputusan itu terdengar rasional. Tidak ada yang akan tahu bahwa di baliknya, Naira sedang membuat satu janji sunyi yang bahkan tidak pantas dia ucapkan: Aku tidak akan membiarkanmu jatuh lagi. Tidak saat kau sudah ada di hadapanku.
Mereka berjalan beriringan. Langkah seirama. Naira sadar, tapi membiarkannya. Ini belum sampai kata nyaman, tapi dia tidak membencinya.
Dia bertanya soal latar belakang Zidan—tentang lulusan dan pengalaman kerja. Setiap jawaban menekan sesuatu di dadanya. Seandainya dulu pria ini tidak dipenjara, akan sesukses apa dia hari ini?
“Saya tidak akan mengecewakan Anda,” kata Zidan akhirnya.
Kalimat itu hampir membuatnya kehilangan kendali, karena tanpa sadar, Naira menjawab jujur, “Saya percaya.”
Kepercayaan itu jelas bukan milik seorang pemilik proyek. Itu milik seorang perempuan yang diam-diam sedang menebus dosa.
***
Keesokannya Naira kembali untuk memeriksa detail.
“Kamu bisa kerja tetap,” katanya.
Naira melihat keterkejutan di wajah Zidan. Untuk pertama kalinya, itu membuatnya sedikit… lega.
Saat Zidan mengaku sebagai mantan narapidana, Naira sudah siap. Dia telah hidup dengan pengakuan itu jauh sebelum hari ini.
Dia bertanya singkat apakah itu kasus kekerasan atau penipuan proyek. Karena jawaban Zidan “tidak” maka dia langsung ke intinya.
“Kalau begitu, kita bicara masa depan.”
Ketika Zidan menatapnya dengan kaku, dengan ekspresi lega seolah dunia akhirnya berhenti menolak, Naira tahu: Pertemuan ini membuka satu kemungkinan bagi Zidan, sementara baginya, ini adalah awal dari belenggu penebusan.