Bab 4: Retak di Permukaan
Dua bulan telah berlalu sejak malam hujan itu. Hubungan Raden dan Aurora semakin dalam, semakin gelap, semakin tak terkendali. Penthouse di Senopati kini jadi rumah kedua bagi Aurora. Ia pindah secara diam-diam, meninggalkan apartemen lamanya yang penuh kenangan perjuangan. Kini, lemari penuh gaun-gaun baru, rak sepatu dipenuhi heels branded, dan laci perhiasan berisi hadiah-hadiah dari Raden—kalung berlian, gelang emas putih, anting mutiara yang harganya cukup untuk beli mobil kecil.
Raden semakin sering ke sana. Kadang malam hari setelah acara resmi, kadang siang hari dengan alasan “kunjungan proyek” di sekitar kawasan itu. Stafnya sudah terbiasa dengan jadwal mendadak bos mereka. Nadia juga mulai terbiasa dengan “rapat malam” yang semakin sering. Ia tidak banyak tanya lagi. Mungkin karena sudah lelah, mungkin karena masih percaya pada citra suaminya yang sempurna.
Tapi retakan mulai muncul.
Malam itu, Raden datang lebih awal dari biasa. Pukul tujuh malam, saat Jakarta masih macet parah. Ia masuk dengan kunci duplikat yang sudah ia buat sendiri. Aurora sedang di dapur kecil penthouse, memasak pasta sederhana—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya Raden pesan catering mewah. Ia pakai kaftan pendek putih, rambut diikat asal, tanpa makeup. Terlihat lebih muda, lebih alami.
Raden berdiri di pintu, memandang lama tanpa suara.
Aurora menoleh, tersenyum. “Eh, datang cepat. Lapar?”
Raden tidak jawab senyum. Ia masuk, taruh tas kerjanya di sofa, lalu peluk Aurora dari belakang dengan kuat. Terlalu kuat.
“Pak… leher saya,” protes Aurora pelan.
Raden baru lepas. Ia balik badan Aurora, tatap matanya dalam-dalam. “Siang tadi Mbak syuting sama siapa?”
Aurora mengerutkan kening. “Video klip baru. Sama sutradara biasa, sama beberapa model pria. Kenapa?”
Raden ambil ponselnya, buka i********: Aurora. Ada story baru: behind-the-scenes syuting, Aurora tertawa dengan seorang aktor muda tampan yang sedang pegang pinggangnya untuk pose.
“Ini,” kata Raden dingin. “Ini kenapa?”
Aurora tarik napas panjang. Ini bukan pertama kali. “Pak, itu cuma kerja. Pose buat kamera. Tidak ada apa-apa.”
“Tapi dia pegang Mbak,” suara Raden mulai naik. “Pegang pinggang Mbak seperti milik dia.”
Aurora mundur selangkah. “Bapak mulai lagi. Saya sudah bilang, kalau Bapak tidak suka saya kerja, saya berhenti saja. Tapi Bapak sendiri yang bilang jangan, biar tidak curiga orang.”
Raden diam. Ia tahu Aurora benar. Ia yang meminta Aurora tetap berkarier agar tidak ada kecurigaan. Namun, setiap kali melihat pria lain menyentuh Aurora—meski hanya untuk kebutuhan kamera—ia merasa seperti ada yang merobek dadanya.
Ia menarik Aurora lagi, kali ini lebih lembut namun menuntut. "Maaf. Saya cuma… takut kehilangan Mbak."
Aurora memeluk balik. "Saya di sini kan. Tidak ke mana-mana."
Malam itu, rasa cemburu Raden bermutasi menjadi gairah yang kasar. Ia tidak lagi peduli pada pasta yang mendingin di meja. Ia menggiring Aurora ke kamar utama, tempat seprai sutra abu-abu sudah menunggu. Di bawah temaram lampu nakas, Raden seolah ingin melampiaskan seluruh ego dan rasa kepemilikannya.
Namun, di balik kegelapan koridor apartemen yang sunyi, sesosok bayangan berdiri membeku di depan pintu yang tidak tertutup rapat.
Itu Aditya.
Ia berhasil masuk ke gedung itu dengan menyuap salah satu petugas keamanan yang ia kenal. Kini, ia berdiri di celah sempit pintu kamar yang sedikit terbuka. Napasnya tertahan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut suaranya akan ketahuan.
Dari celah itu, Aditya melihat pemandangan yang menghancurkan sekaligus membakar jiwanya. Ia melihat ayahnya—sang Gubernur yang selalu bicara soal moralitas di podium—kini sedang berlutut, mengungkung Aurora di bawah tubuhnya dengan intensitas yang mengerikan. Punggung kokoh ayahnya yang biasanya dibalut jas mahal kini tampak liar, mendominasi wanita di bawahnya.
Aditya terpaku. Pandangannya terkunci pada Aurora. Rambut panjang wanita itu tergerai berantakan di atas seprai, kontras dengan kulitnya yang tampak bercahaya di bawah lampu remang-remang. Ia mencatat setiap inci ekspresi di wajah Aurora—perpaduan antara kepasrahan dan kekuatan mental yang luar biasa.
Sial.
Sebuah gairah yang gelap dan tak terduga menghantam d**a Aditya. Ia tidak merasa jijik melihat perselingkuhan ayahnya. Ia justru merasa iri yang membakar. Ia melihat ayahnya sedang memuja sebuah mahakarya yang seharusnya tidak pantas dimiliki oleh pria setua Raden.
“Kau tidak pantas memilikinya, Ayah,” bisik Aditya dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar.
Hasrat itu muncul liar dan tak terkendali. Aditya tidak lagi peduli pada pengkhianatan ayahnya kepada ibunya. Kini, ia hanya ingin satu hal: merebut Aurora. Ia ingin melihat ekspresi itu hanya untuknya, bukan untuk pria munafik yang sedang bergerak di depan matanya sekarang.
Aditya mundur perlahan saat mendengar suara desah napas yang semakin berat dari dalam. Ia menghilang ke dalam kegelapan lorong sebelum Raden sempat menyadari kehadirannya.
***
Keesokan harinya, masalah baru muncul.
Nadia Rahma sedang di salon langganannya di Pantai Indah Kapuk. Sambil keramas, ia mengobrol dengan teman-teman sesama istri pejabat. Obrolan ringan: anak, bisnis, liburan. Lalu salah satu teman, istri seorang pengusaha properti, berkata santai, “Eh Nad, suamimu lagi dekat sama penyanyi itu ya? Yang dulu hits, Aurora apa gitu?”
Nadia berhenti menggulir ponsel. “Apa maksudnya?”
Temannya tertawa kecil. “Ya ampuun, kamu nggak tahu? Gosip di kalangan kita. Katanya Pak Raden sering ke apartemen baru di Senopati. Penthouse atas nama perusahaan temennya si Anang itu loh.”
Nadia tersenyum kaku. “Ah, gosip biasa. Mas Raden kan sering kunjungan proyek properti.”
“Iya sih,” kata teman itu lagi. “Tapi katanya malam-malam juga. Dan Aurora pindah ke sana, loh. Netizen lagi rame kok, cuma belum berani viral karena takut kena blokir akun.”
Nadia tidak jawab lagi. Ia pura-pura sibuk ponsel. Tapi sepanjang hari itu, kata-kata itu menggantung di kepalanya.
Malamnya, saat Raden pulang ke rumah dinas, Nadia sudah menunggu di ruang keluarga. Ia pakai baju rumah sederhana, tapi matanya tajam.
“Mas, kita bicara bentar,” katanya tenang.
Raden duduk di sofa seberang. “Ada apa, Sayang?”
Nadia tarik napas dalam. “Mas sering ke Senopati akhir-akhir ini?”
Raden tidak kedip. “Iya. Ada proyek baru di sana. Mau dibangun taman kota terpadu.”
“Malam-malam juga?”
Raden diam sebentar. “Kadang iya. Rapat sama investor.”
Nadia tatap suaminya lama. “Mas, aku tidak bodoh. Aku tahu Mas lagi ada yang lain.”
Raden tersenyum tipis, pura-pura santai. “Nad, kamu capek kali. Gosip di luar banyak. Jangan percaya.”
Tapi Nadia tidak mundur. Ia ambil ponselnya, tunjukkan screenshot dari akun gosip anonim: foto buram Raden masuk ke lobby apartemen Senopati malam hari, dan foto Aurora di balkon penthouse yang sama.
“Ini gosip?” tanya Nadia dingin.
Raden tatap foto itu. Dadanya berdegup kencang. Tapi wajahnya tetap tenang. “Bisa saja editan. Zaman sekarang gampang.”
Nadia taruh ponselnya. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tegas. “Mas, aku sudah sabar bertahun-tahun. Saat Mas dituduh menggelapkan dana, aku tetap di sini, dukung Mas, jaga citra keluarga. Tapi kalau Mas bohong lagi… aku tidak tahu bisa tahan berapa lama.”
Raden bangun, dekati Nadia, peluk istrinya. “Nad, percaya aku. Tidak ada apa-apa. Aku cuma kerja.”
Nadia lepas pelukan. “Aku mau bukti, Mas. Aku mau lihat jadwal rapat Malam itu. Aku mau telepon staf Mas.”
Raden diam. Ia tahu ini bahaya. Tapi ia tetap tersenyum. “Besok aku kasih semua datanya.”
Nadia naik ke lantai atas tanpa kata lagi.
Malam itu, Raden tidak tidur. Ia ke ruang kerja, telepon Aurora.
“Besok Mbak jangan upload apa-apa di IG. Tutup komentar juga,” katanya langsung.
Aurora yang baru selesai mandi, kaget. “Kenapa tiba-tiba?”
“Ada rumor mulai rame. Nadia sudah curiga.”
Aurora diam lama. “Pak… kita berhenti saja yuk. Sebelum semuanya hancur.”
Raden suaranya langsung keras. “Tidak. Mbak tidak boleh pergi. Mbak milik saya.”
Aurora tarik napas. “Pak, ini sudah bukan lagi main-main. Istri Bapak tahu.”
Raden diam. Lalu suaranya pelan lagi, hampir memohon. “Satu minggu ini Mbak diam saja. Saya urus. Saya janji.”
Aurora tutup telepon tanpa jawab iya atau tidak.
Di penthouse yang sunyi, Aurora duduk di balkon, memandang lampu-lampu kota. Ia pegang kalung berlian di lehernya—hadiah ulang tahun dari Raden bulan lalu. Cantik, tapi terasa seperti belenggu.
Di rumah dinas, Raden duduk di kegelapan ruang kerja. Ia buka galeri ponsel, lihat ratusan foto Aurora yang ia simpan: candid saat tidur, saat mandi, saat tersenyum di ranjang. Obsesinya sudah terlalu dalam untuk dilepaskan.
Tapi di luar sana, netizen mulai ramai. Akun-akun gosip mulai posting cocoklogi: foto lama Raden dan Aurora di acara yang sama bertahun-tahun lalu, komentar lama Raden di postingan Aurora yang digali lagi, foto mobil dinas terparkir di basement apartemen Senopati.
Badai mulai datang.
Dan Raden tahu, kali ini mungkin tidak bisa ia kendalikan lagi.