Bab 5: Jaring-Jaring Kecurigaan
Pagi di rumah dinas gubernur biasanya diawali dengan aroma kopi luwak yang kuat dan suara gemericik air dari kolam ikan di halaman tengah. Namun, pagi ini, suasananya terasa dingin, meski matahari Jakarta sudah mulai menyengat di luar sana. Nadia Rahma duduk di meja makan, jemarinya yang lentik menggenggam cangkir porselen dengan tekanan yang tidak wajar. Matanya menatap lurus ke arah pintu ruang kerja Raden yang masih tertutup rapat.
Semalam adalah titik balik. Ucapan temannya di salon bukan sekadar angin lalu; itu adalah peluru yang tepat sasaran. Nadia bukan wanita yang mudah goyah oleh gosip, tapi ia memiliki intuisi seorang istri yang telah mendampingi suaminya dari nol, dari saat Raden hanya seorang arsitek idealis hingga menjadi orang nomor satu di provinsi ini. Ia tahu kapan Raden berbohong. Ia tahu arti dari tatapan mata yang menghindari kontak, dan ia tahu bau parfum yang tidak berasal dari koleksi miliknya.
Raden keluar dari ruang kerja dengan pakaian rapi—batik sutra motif parang dan celana kain hitam yang disetrika tajam. Ia tampak segar, seolah badai kecil semalam tidak pernah terjadi.
"Mas berangkat sekarang," kata Raden singkat, mencoba mencium kening Nadia.
Nadia sedikit memiringkan kepalanya, membuat bibir Raden hanya menyentuh ujung rambutnya. "Mas sudah cek jadwal yang aku minta?"
Raden menghentikan gerakannya. Wajahnya mengeras sesaat sebelum kembali ke topeng ketenangan yang sempurna. "Sekretarisku sedang merapikannya. Kamu tahu sendiri, Nad, akhir tahun begini banyak audit dan rapat mendadak. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu ada acara pengajian hari ini, kan? Fokus ke sana saja."
Setelah Raden pergi dengan iring-iringan mobil pengawal yang sirinenya meraung membelah kemacetan, Nadia tidak bergegas bersiap untuk pengajiannya. Ia justru masuk ke kamar pribadinya dan mengunci pintu. Ia mengeluarkan sebuah ponsel lama yang jarang ia gunakan, lalu mencari sebuah kontak bernama 'Pak Darma'.
Darma adalah mantan intelijen kepolisian yang kini bekerja sebagai konsultan keamanan swasta. Raden mengenalnya, tapi Nadia yang lebih sering berkomunikasi dengannya untuk urusan pengamanan acara-acara sosial.
"Halo, Pak Darma. Saya butuh bantuan. Ini sangat pribadi," bisik Nadia. Suaranya bergetar, namun penuh tekad.
"Apa yang bisa saya bantu, Ibu?" suara berat di ujung telepon menjawab.
"Saya butuh daftar penghuni dan akses keluar-masuk di Apartemen Senopati Suites dalam satu bulan terakhir. Khususnya untuk satu unit penthouse yang dimiliki oleh perusahaan Artha Mandiri. Dan... saya ingin tahu apakah ada mobil dinas atau mobil pribadi suami saya yang terpantau di sana."
Ada jeda di seberang sana. Darma tahu risiko dari permintaan ini. "Itu gedung dengan privasi tinggi, Bu. Tapi saya akan coba lewat jalur belakang. Beri saya waktu empat puluh delapan jam."
"Dua puluh empat jam, Pak Darma. Saya tidak bisa menunggu lebih lama."
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota, seorang pria bernama Arya Satya sedang menyesap cerutu di ruang kerjanya yang luas. Di hadapannya, tiga layar monitor besar menampilkan berbagai data—mulai dari survei elektabilitas hingga pindaian media sosial.
Arya adalah rival terkuat Raden. Jika Raden adalah wajah kemajuan dan estetika, Arya adalah wajah realpolitik yang licin. Ia sudah lama mengincar kursi gubernur, dan ia tahu bahwa menjatuhkan Raden tidak bisa dilakukan dengan isu kinerja. Rakyat mencintai pembangunan yang dilakukan Raden. Satu-satunya cara untuk menghancurkan Raden adalah dengan menghancurkan moralitasnya.
Seorang pemuda dengan hoodie hitam masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk. Ia adalah 'Admin' di balik akun @MataRakyat.
"Bos, fotonya sudah saya edit agar lebih dramatis. Tapi saya butuh sesuatu yang lebih eksplisit. Foto masuk lobby itu masih bisa disangkal dengan alasan rapat bisnis," kata pemuda itu.
Arya tersenyum tipis, asap cerutu mengepul dari mulutnya. "Jangan terburu-buru. Kita sedang memancing paus besar. Biarkan istrinya yang bekerja untuk kita lebih dulu. Saya punya orang di lingkungan rumah dinasnya. Nadia sudah mulai bergerak. Begitu dia menemukan bukti itu, kita pastikan bukti itu jatuh ke tangan kita lebih dulu sebelum sampai ke pengadilan agama."
"Kenapa tidak langsung kita bongkar sekarang, Bos?"
"Karena kalau kita yang bongkar, itu akan terlihat seperti serangan politik. Tapi kalau istrinya yang membongkar, itu adalah tragedi kemanusiaan. Rakyat lebih suka menonton kehancuran seorang pahlawan karena cinta terlarang daripada sekadar debat politik. Kita buat Raden Wijaya membusuk dari dalam."
Di tempat lain, di penthouse yang kini terasa seperti penjara kaca, Aurora sedang duduk di depan piano putihnya. Jemarinya menekan tuts-tuts dengan asal, menciptakan nada-nada disonansi yang mencerminkan kekacauan hatinya.
Teleponnya berdering. Raden.
"Halo, Pak," sapa Aurora. Ia mulai jarang memanggil namanya jika suasana hatinya sedang buruk.
"Kamu di mana? Jangan keluar hari ini. Saya dengar ada wartawan yang mulai mencari tahu tentang unit itu," suara Raden terdengar cemas, ada nada otoriter yang mulai mengganggu Aurora.
"Saya mau belanja, Pak. Stok makanan habis. Saya tidak bisa terus-menerus mengandalkan layanan antar," keluh Aurora.
"Saya akan suruh staf saya mengantarkannya. Kamu tetap di dalam! Kamu mengerti betapa bahayanya posisi saya sekarang? Kalau satu saja foto kamu keluar dari gedung itu hari ini, semua yang kita bangun akan hancur!"
"Semua yang Bapak bangun, maksudnya?" Aurora memotong dengan tajam. "Karir Bapak, citra Bapak, keluarga Bapak. Bagaimana dengan saya? Saya sudah membatalkan tiga kontrak iklan karena Bapak bilang itu terlalu berisiko. Saya kehilangan identitas saya, Raden! Saya bukan lagi penyanyi, saya hanya... pajangan di penthouse ini."
Raden terdiam di seberang sana. Napasnya terdengar berat. "Mbak... tolong. Saya melakukan ini untuk melindungi kita. Saya sangat mencintai Mbak. Saya tidak mau Mbak jadi sasaran amuk massa kalau ini terbongkar."
"Cinta atau obsesi?" bisik Aurora, tapi ia yakin Raden mendengarnya.
Tanpa menunggu jawaban, Aurora mematikan sambungan telepon. Ia berjalan menuju cermin besar di ruang tamu. Ia melihat dirinya—masih cantik, masih mempesona, namun matanya redup. Ia meraih tas tangannya, memakai kacamata hitam besar dan masker. Ia tidak peduli dengan larangan Raden. Ia butuh udara segar. Ia butuh merasa menjadi manusia lagi, bukan sekadar 'idola simpanan' yang disembunyikan di balik kemewahan.
Saat ia turun menuju lobby melalui lift khusus penghuni, ia tidak menyadari bahwa di seberang jalan, seorang pria dengan kamera lensa tele sedang menunggu. Dan di sudut lain basement, seorang pria suruhan Darma sedang mencatat setiap langkahnya.
Jaring-jaring itu mulai merapat. Raden Wijaya, sang arsitek yang biasa membangun struktur kokoh, tidak menyadari bahwa fondasi hidupnya sendiri sedang digerogoti oleh rayap yang ia pelihara dengan tangannya sendiri.