Hubungan

1228 Words
“Kamu senang?” tanya Revan menghampiri Aluna untuk bisa berjalan beriringan dengan gadis itu setelah rapat antara perusahaan Revan dan Aluna dilakukan kali ini di kantor Revan. “Jangan dekat-dekat, kamu sendiri yang bilang kalau kita status pacarannya diundur, kita ga perlu interaksi sekarang” Aluna langsung memberi jarak antara dirinya dan Revan karena pria ini berjalan tepat di sampingnya sembari Aluna juga melihat ke sekitar untuk memastikan mereka sedang tidak menjadi perhatian orang-orang. “Santai aja, anggap aku lagi bicara santai sambil dengan ramah mengantar kolegaku keluar.” “Ga perlu.” Revan mengabaikan jawaban tidak ramah Aluna, “jadi gimana? Senang kan karena aku yang udah pegang proyek ini?” “Kenapa harus senang? Memang sejak awal harusnya kamu, sesuai dengan yang kamu janjikan. Karena terlalu lamban aku jadi harus repot dulu. Menyebalkan.” “Tenang saja, setelah ini semua akan berjalan sesuai dengan rencana. Aku hanya terlalu sibuk sebelumnya.” Revan tetap dengan gaya belagak santainya karena ia sudah berhasil melalui fase panik sebelum ini. “Mungkin bagimu ini proyek kecil, tapi ini penting untukku, jadi aku harap kamu tidak menganggap remeh. Aku yakin kamu punya banyak sekali kesibukan di luar ini.” Revan mengangkat alisnya, “kamu sangat suka berpikiran negatif pada orang ya, siapa memangnya yang menganggap proyek ini kecil? Aku selalu serius apapun proyeknya.” “Baik, terima kasih.” “Sepertinya Pak Tedi agak khawatir saat tahu yang pegang proyek ini adalah aku. Padahal dia sudah susah payah diam-diam bernegosiasi dengan orang sebelumnya.” “Walau bagaimanapun tetaplah seperti tidak tahu apapun, Om Tedi tetap punya peran di kantor. Aku merasa tadi cara bicaramu kurang mengenakkan padanya.”Aluna mengingatkan karena Aluna sangat peka dan menyadari cara bicara Revan yang agak berbeda saat menanggapi pendapat dari pamannya di rapat tadi. Revan tertawa kecil, “jujur tadi aku tidak bermaksud, aku hanya benar-benar kurang suka dengan opininya saja. Kamu tidak perlu khawatir.” Aluna tidak menjawab dan disaat itu pula handphone Aluna berdering. Aluna mengecek handphonenya, namun ia memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Aluna mematikan layar handphone dan menyimpannya lagi. “Argio? Kenapa tidak diangkat?” Revan bertanya karena memang tadi ia ikut mengintip. “Nanti saja.” Jawab Aluna pendek dan semakin mempercepat langkahnya. “Itu Argio yang tadi ikut rapat kan? Apa hubunganmu dengannya?” “Apa sih?” Revan tertawa, “jujur saja tadi aku salah fokus karena dia, sepanjang rapat fokusnya bukan ke pembahasan, tapi ke kamu. Kalian ga lagi pacarana kan?” Aluna langsung berdecak malas, “ga usah ngarang.” “Lah? Siapa yang ngarang, orang kelihatan jelas gitu.” Revan yakin sekali dengan apa yang ia katakan, “kalian kenapa? Lagi berantem?” “Ga jelas,” Aluna menjawab dengan tatapan tidak suka pada Revan, “udah jangan ikutin aku.” “Aku cuma mau antar sampai depan aja ga boleh?” “Udah dibilang ga usah, kenapa ngeyel sih?” “Kenapa jadi marah-marah??” Revan kaget karena sekarang ekspresi Aluna tampak benar-benar tidak mengenakkan dan sepertinya memang tidak bisa diajak bercanda. Aluna tidak menjawab, gadis itu benar-benar pergi begitu saja dengan langkah besar dan cepatnya meninggalkan Revan yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. “Hahaha, susah banget ya?” disaat itu Revan dihampiri oleh Pak Surya, papanya. “Papa?” “Seru banget liat kamu dicuekin sama perempuan, kan biasanya kamunya yang nyuekin perempuan yang suka sama kamu.” Komentar Pak Surya karena kebetulan dia melihat adegan Aluna memperlihatkan ekspresi tidak senang dan berakhir meninggalkan Revan. “Emang gitu, aku udah mulai paham polanya. Papa nanti lihat aja kalau usaha aku bakalan berhasil. Aluna memang suka tarik ulur.” Memang Revan ini senang sekali mengarang sesuka hatinya. “Ya semoga aja deh ya, walaupun papa sebenarnya pesimis.” *** “Udah tahu siapa si Argio-Argio itu??” tanya Revan pada Gavin yang baru saja masuk ke ruangannya. Seperti yang Revan sampaikan pada Aluna, dari awal Revan memang sudah salah fokus pada salah satu pria muda dari kantor Aluna saat rapat gabungan kemarin. Beberapa kali Revan mendapati pria itu memperhatikan Aluna padahal itu bukanlah momen Aluna berbicara. Sebenarnya bisa saja ia bertanya langsung pada Aluna, namun tampaknya wanita itu tidak dalam keadaan hati yang baik. Lagipula Revan yakin Aluna tidak akan mau menceritakan sesuatu yang tidak perlu seperti ini. Lalu kenapa Revan ingin tahu sekali? Ya karena dia hanya ingin tahu dan tidak mau mengganggu pikirannya dengan persepsinya sendiri. Berakhir dengan Gavin yang harus menambah to do list nya. “Gue udah cari tahu, dan gue yakin lo kaget sih.” Gavin mengambil posisi duduk di kursi yang tepat ada di depan meja kerja Revan. “Kenapa? Pacarnya Aluna ya?” Gavin menggeleng, “dia itu anaknya Pak Tedi.” “Hah?? Kandung? Berarti sepupu Aluna?” “Betul.” Revan mengerutkan dahinya, “jangan bilang…” “Kayanya Pak Tedi itu mau jatuhin Pak Damar biar nanti yang akan menggantikannya adalah si Argio itu. Ya walaupun sebenarnya dari wasiat kakeknya Aluna kalau nanti yang gantiin Pak Damar adalah Aluna.” Revan mengusap dagunya berpikir, “Aluna itu tidak memperlihatkan powernya untuk menjadi penerus pimpinan utama.” “Sebenarnya yang serunya bukan itu.” Gavin membuyarkan Revan yang tampak sedang berpikir. “Apa?” “Dari rumor yang beredar katanya Argio itu suka dan berusaha ngejar Aluna.” Revan langsung membelalak, “hah? Serius? Mereka sepupuan kan?” Gavin mengangguk, “ini ga tahu sih motifnya apa, dia beneran suka Aluna atau hanya mau ngincer posisi Aluna atau ya salah satu cara dia dan ayahnya saja.” “Dari aku lihat sekilas kemarin aja kayanya dia beneran ada perasaan sama Aluna. Tapi menurutku ini gila aja sih. Tapi dari Alunanya sendiri gimana? Ga balik suka kan?” “Ga ada yang tahu. Itu lo bisa konfirmasi sendiri ke Aluna, ga perlu gue yang repot nyari info kan? Tolong deh kalau masalah personal gini jangan kasih gue, susah nyari infonya. Mending lo suruh gue bongkar rahasia perusahaan orang aja.” Gavin sekalian mengeluh. Memang kadang ada saja ide dari Revan untuk menambah pekerjaan Gavin. Revan tertawa, “lo emang manusia paling keren, bonusnya nanti gue traktir ngopi, atau mau minum malam ini? Kita open table deh.” “Lo gila? Lo belum beneran baikan sama nyokap lo, jangan nyari masalah lagi. Gue ga mau disemprot Bu Larisa perkara biarin lo ke klub di weekday.” Gavin sudah waspada karena setiap kali Revan buat masalah, dia juga tidak luput terkena omelan. “Apa nunggu weekend? Udah lama banget nih ga main, rekor baru gue ga sih?” “Minum aja sebenernya ga papa, masih bisa gue kondisiin. Masalahnya lo suka bikin perkara. Minimal lo berantem sama orang. Inget target, nama lo masih dipertimbangin sama direksi. Lo juga harus rutin pulang ke rumah dulu sampai Bu Larisa lupa sama masalah terakhir lo. Ga mungkin kan lo pulang ke rumah dalam keadaan mabok?” Revan menyisir kasar rambutnya sambil menunjukkan wajah stres, “ya gue harus ngapain lagi dong? Hidup gue rasanya kosong banget, kasihan banget kebahagiaan dan kebebasan masa muda gue harus direnggut begini.” “Lo harus pilih, bebas sekarang atau bebasnya nanti pas udah jadi direktur utama.” “Apa gue gangguin Aluna aja ya? Sambil ngepoin masalah dia sama Argio.” Revan tertawa senang dengan ide barunya. “Lo kayanya harus nyari kegiatan menyenangkan lainnya yang tidak mengganggu orang lain deh Van.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD