Berbeda

1213 Words
“ HAH???” Papa dan mama ternganga kaget mendengar alasan Revan, mereka sampai saling tatap-tatapan untuk memastikan bahwa mereka sedang tidak salah dengar. “Maksudnya?? Coba ngomongnya yang benar dulu, papa belum dengar ini sama sekali,” papa angkat bicara karena ia juga sama sekali tidak tahu tentang hal ini dari Revan sebelumnya. “Ini caraku buat bisa deketin anaknya Pak Damar.” “Anak Pak Damar Wijaya?? Siapa??” papa bertanya bukan karena sama sekali tidak tahu, namun ia tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan. “Ya siapa lagi kalau bukan Aluna? Papa tahu kan Aluna?” Revan menjelaskan. “Tunggu dulu, kamu sebegininya sampai mohon mohon ngelakuin proyek yang kamu ga suka demi perempuan? Revan, kamu sehat?” mama bertanya terheran-heran sampai ia bergerak lebih dekat pada Revan untuk coba memastikan anaknya sedang dalam keadaan waras atau tidak. “Iya ma.” “Seorang Revan? Sejak kapan kamu ngejar perempuan? Bahkan sampai sebegininya. Bukankah selama ini kamu ga pernah gini? Selalu perempuan dulu kan yang deketin kamu?” Revan menjawab pertanyaan mamanya dengan anggukan, “aku serius, soalnya yang ini beda. Aku suka dan harus aku yang ngejar.” Mama langsung menggeleng, “mama makin ga ijinin.” “Yah!? Kenapaaa??” Revan terkejut karena mamanya langsung menolak mentah-mentah. “Semua tipe perempuan kamu selalu jelek, mama ga pernah suka sama semua perempuan yang pernah deket sama kamu. Apalagi kamu sampai pertaruhin kerjaan bahkan kantor disini. Mama ga bakal biarin.” “Aku akui semua cewek aku sebelum ini emang ga ada yang benar. Tapi yang ini beda, Ma. Yang ini aku harus perjuangin. Tanya aja papa, papa tahu Aluna kan?” Revan beralih meminta pertolongan kepada papanya yang sebelumnya kembali diam. “Kamu tahu, mas?” mama bertanya serius kepada suaminya. Papa tampak ragu untuk bicara, “iya, papa tahu, hanya saja...” “Hanya saja apa?” “Jangan deh Van,” papa memberikan jawaban yang cukup mengejutkan bagi Revan. “Hah? Kok gitu? Papa tahu kan Aluna anaknya Pak Damar?” Revan mendesak papanya. Revan pikir papanya akan langsung mendukung dirinya karena ia dengar sendiri dari awal papanya menyukai Aluna. “Iya, karena papa tahu makanya papa ga ijinin. Aluna itu baik banget anaknya, papa ga yakin dia bakalan mau sama kamu. Bahkan rasanya papa ga akan biarin anak sebaik dia sama kamu.” Papa menjawab dengan sangat jujur sesuai dengan sudut pandangnya. “Pa!?” Revan kehilangan kata-kata. “Revan, kamu ga usah becanda. Nanti kalau kamu ga berhasil sama si Aluna Aluna itu malah makin kacau semuanya.” Mama menatap anaknya itu dengan tatapan benar-benar menyuruh Revan berhenti bicara omong kosong. Revan menarik napas dalam, ia harus bisa menenangkan pikirannya agar bisa meyakinkan orang tuanya, jika ini gagal semuanya benar-benar akan hancur berantakan. “Okey ini mungkin terdengar tidak masuk akal bagi mama dan papa, tapi aku minta tolong coba dengarkan dulu penjelasanku dengan baik.” Revan coba mengambil perhatian dan fokus orang tuanya terlebih dahulu yang masih geleng-geleng kepala. “Untuk pertama kalinya aku tertarik sebegininya sama perempuan, awalnya aku pikir ya udah mungkin cuma tertarik biasa karena dia keliatan cantik dan pintar. Tapi aku udah sempat beberapa kali interaksi sama dia dan aku makin kepikiran karena beda banget dari perempuan yang biasa aku temuin. Aku udah coba deketin tapi Aluna susah banget dideketinnya, papa mama coba aja deh tanya Gavin kalau ga percaya.” Revan menceritakan dengan sangat meyakinkan cerita yang tentu sudah ia karang sebelumnya. Papa dan mama saling lirik coba memastikan bagaimana pikiran dan tanggapan mereka satu sama lain terhadap kasus pertama Revan bertingkah seperti ini, sesuatu yang baru bagi mereka selama hidup menjadi orang tua Revan. “Aku udah coba deketin, tapi mencari momen untuk ketemu Aluna aja susah luar biasa, jadi aku berpikir satu-satunya cara deket sama Aluna ya kerja sama kantor kita ini. Bukan sekedar itu sebenarnya, aku berpikir ini adalah cara yang keras untukku bisa berubah lebih baik. Jika aku gagal menjadi orang yang lebih baik disini, aku akan kehilangan karir sekaligus orang yang aku suka. Selama ini aku selalu gagal untuk berubah, aku pikir mungkin dengan tekanan keras seperti ini aku akan mau tidak mau harus berubah.” Setelah penjelasan panjang lebar Revan, papa dan mama menghela napas bersamaan. Ini adalah cerita dan rencana Revan, tapi mereka sebagai orang tua yang merasakan bebannya karena mereka tahu sekali untuk seorang Revan ini adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bukan sekali dua kali sebelumnya Revan mengatakan untuk bisa berubah, tapi tetap saja tidak ada perubahan berarti. “Jadi bagaimana? Kasih aku kesempatan, mungkin untuk karir aku bisa usahakan di luar ini, tapi masalah Aluna aku belum tentu dapatkan kesempatan lainnya.” Revan menutup permohonannya dengan kalimat yang kuat serta ekspresi wajah yang benar-benar perlu dikasihani. Siapapun harus memberikan Revan piala penghargaan aktor pendatang baru terbaik tahun ini. “Gimana, Ma?” papa yang sebenarnya termakan cerita anaknya coba untuk tidak gegabah dengan bertanya pada sang istri. Mama menarik napas dalam sambil memegang pelipisnya untuk kesekian kali karena bingung, “kamu sudah pertimbangkan dengan matang sebelum bicara gini?” “Aku bahkan hanya memikirkan ini setiap malam di minggu ini sampai membuatku tidak bisa tidur.” “Ga usah berlebihan,” ujar papa tidak percaya. “Astaga, ini beneran. Aku baru pertama kali dalam hidupku seperti ini, aku juga berpikir di usiaku sekarang aku harus serius dalam memilih pasangan.” “Kamu sendiri yang bilang, ini mempertaruhkan dua hal sekaligus, karirmu dan juga kehidupan pribadimu. Artinya kamu benar-benar harus menjaga sikapmu dengan keras.” Mama menegaskan kembali. Revan mengangguk, “ini satu-satunya kesempatanku memperbaiki karir dan hidupku sekaligus.” Mama melihat ke papa, “kamu mau kasih proyek itu ke Revan? Menurut kamu Revan bisa selesaikan?” Papa mengangguk. “seharusnya proyek ini bukan hal yang sulit untuk Revan kalau dia bisa menjaga sikapnya. Kita berurusan dengan perusahaan Wijaya yang memiliki branding baik dan juga berurusan dengan pemerintah. Kuncinya disini hanya bisa sabar, tenang dan komunikasi yang baik.” “Sabar, tenang dan komunikasi yang baik. Kamu dengar itu? Kebetulan itu juga adalah hal yang paling kamu tidak bisa. Kamu yakin bisa menantang dirimu untuk berubah disini?” mama menatap Revan dengan tajam. “Mama papa bisa lihat, aku akan berusaha melakukannya.” Mama mengangguk, “kalau dari mama silahkan, kamu sudah berkomitmen dengan diri kamu sendiri.” “Baiklah, besok kita atur di kantor.” Revan tidak bisa menahan senyumnya untuk tidak melebar, akhirnya apa yang ia rencanakan bisa dimulai, “makasih ma, pa.” “Mama bisa lihat dulu ga seperti apa Aluna itu sampai bikin kamu semengusahakan ini?” mama tampaknya penasaran karena dua orang laki-laki di hadapannya ini sudah mengetahuinya dan sepakat mengatakan dia adalah gadis yang baik. “Oke, ini aku kasih lihat, sebentar.” Revan mengeluarkan handphonenya dengan semangat untuk menunjukkan salah satu sosial media Aluna kepada mamanya. Mama memperhatikan layar handphone yang menunjukkan sosial media Aluna yang berisikan berbagai foto kegiatan Aluna yang memang menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang sangat produktif dan bersahaja. “Kalau seandainya gagal, kamu harus ingat kamu tetap harus profesional dalam pekerjaan. Kamu baru pertama kan seperti ini? Mama ingatkan sejak awal kalau perasaan dan logika itu akan sangat sulit diatur, apapun itu nanti kamu harus tetap waras dan ingat resiko yang sekarang kamu ambil.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD