“Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.” Ujar Revan menghampiri Aluna yang sudah duduk di salah satu meja di kafe yang ada di sekitar kantor Revan.
Bagaimana Revan tidak kaget? Malam disaat ia memberikan tawaran pada Aluna, gadis itu langsung pulang dengan raut wajah yang seolah mengatakan tidak akan sudi lagi bertemu dengan Revan. Revan bahkan juga berusaha menghubungi kembali dalam satu minggu ini, namun Aluna benar-benar mengabaikan semuanya. Namun hari ini tiba-tiba Aluna mengirimkannya pesan dan mengatakan ia sudah menunggu Revan. Benar saja, gadis cantik itu sudah menunggu dengan minuman dan makanan ringan yang sudah tersedia di meja.
“Silahkan duduk,” Aluna mempersilahkan dengan singkat.
“Apa kabar? Kamu baik-baik saja?” Revan memulai obrolan karena walaupun Aluna yang mengajak bertemu namun dari gerak-gerik gadis itu ia seperti belum ingin memulai obrolan.
“Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku ingin mendengarkan tawaranmu waktu itu dengan lebih baik.” Setelah bergulat terlebih dahulu dengan pemikirannya sendiri Aluna memutuskan benar-benar menyampaikan tujuannya untuk bertemu Revan hari ini.
Revan tersenyum miring, entah kenapa rasanya puas dan senang sekali melihat ekspresi Aluna sekarang.
“Jelaskan kembali karena waktu itu aku sebetulnya tidak begitu paham karena pikiranku sedang kacau. Tapi jika tawaran itu sudah tidak berlaku lagi, yasudah aku akan pergi.”Aluna kembali bicara dengan cepat bahkan tangannya juga sudah bergerak hendak merapikan tas miliknya karena Revan tak kunjung berbicara, ia malah memperhatikan setiap detail kecil pergerakan Aluna yang membuat gadis itu agak gelisah.
“Tenang, kamu bisa dengarkan dengan baik, dan dengan begitu aku juga akan menjelaskannya dengan lebih perlahan.” Revan bergerak meminum minuman yang sudah dipesakan oleh Aluna untuknya.
Aluna kembali memposisikan dirinya menjadi lebih nyaman untuk bisa mendengarkan Revan.
“Walaupun kamu seperti tidak terlihat berperan besar di perusahaanmu, tapi aku tahu bahwa otak di setiap keputusan kantor ada di kamu. Jadi pertama, aku mau kamu bisa terima pengajuan kerja sama dari kantorku. Aku bisa jamin dengan cepat finansial kantormu akan stabil. Di sisi lain perlahan kita bisa tunjukkan kedekatan personal. Aku akan bantu kamu dalam masalah internal, aku akan tunjukkan kekuasaan sehingga aku yakin orang-orang akan berpikir berulang jika ingin mengusikmu. Aku nanti bisa jelaskan apa saja yang bisa aku lakukan untukmu, yang penting aku bisa jamin ini akan sangat membantu kamu dan papa kamu. Aku memiliki power untuk itu, kamu bisa perkirakan saja dari keadaan kantorku yang mengalami perkembangan pesat saat ini.”
Aluna mengangguk, “aku tahu kamu memiliki kemampuan untuk itu. Tapi apa yang kamu inginkan dariku?”
“Kamu memiliki penilaian yang sangat baik dimanapun, semua hal tentang kamu di kenal sangat positif. Aku punya segalanya kecuali itu, jadi aku butuh kamu. Ini akan membantuku untuk mendapatkan apa yang seharusnya memang untukku, pimpinan utama peruasahaan selanjutnya.”
Aluna menarik napas dalam dengan pemikiran yang penuh dengan berbagai hal, “kamu yakin?”
Revan mengangguk, “walaupun perusahaanmu tidak begitu besar, tapi aku yakin dengan potensi brandingmu. Setidaknya jika trik hubungan personal kita tidak berhasil, kerja sama dengan perusahaanmu saja aku pikir itu sudah cukup.”
“Kamu tahu kenapa sebelumnya aku ragu untuk menerima kerja sama dengan perusahaan super besar seperti milikmu?” Aluna melemparkan pertanyaan.
Revan tertawa kecil dan mengangguk, “takut hanya sebagai bentuk manipulasi?”
Aluna mengangguk, “kalian sudah berencana seperti itu?”
“Ya…,” Revan mengangguk.
Mata Aluna langsung membesar kaget dengan jawaban menggantung Revan.
“Pada awalnya, karena terlalu merepotkan harus menggunakan energi terbarukan, namun kita tidak akan mendapatkan ijin jika tidak demikian. Dan dengan alasan itulah aku tidak mau ikut campur proyek ini dari awal.”
“Aku tidak salah menilai ternyata,”guman Aluna tertawa miris.
“Tapi bukankah itu sebenarnya juga menguntungkan bagi perusahaanmu? Kalian tidak akan dirugikan untuk itu.”
Gadis cantik dengan rambut sebahu itu melihat Revan, “itu juga yang dipikirkan orang-orang di kantor, tapi tidak dengan aku dan papa. Aku masih sangat ingat dengan tujuan utama kakek mendirikan perusahaan secara susah payah, dia akan sangat kecewa jika akhirnya berakhir dengan tipuan seperti itu.”
Revan mengangguk sambil memajukan dirinya dengan posisi duduk yang lebih tegak, “seperti yang diduga, ada pemuda idealis disini. Karena sekarang aku sudah mau mengurus rencana proyek ini, aku akan jamin ini berjalan dengan seharusnya. Sesuai dengan kamu dan apa yang kakek kamu mau.”
Ucapan Revan tanpa sadar membuat sebuah senyuman hadir di wajah cantik Aluna, “benarkah?”
“Iya, kamu bisa pegang kata-kataku dan disisi lain kesepakatan antar kita selaku personal juga harus berjalan.”
Kedua tangan Aluna kini saling bertemu dengan jari yang saling bertautan karena cukup ragu untuk menyampaikan apa yang sangat ingin ia sampaikan, “tentang itu…”
“Ya?”
“Aku tidak mau minta maaf untuk ini karena kamu sebelumnya sudah mencari tahu banyak hal tentangku, aku jadinya juga mencari tahu beberapa hal tentang kamu.”
Alis Revan terangkat mendengar Aluna, “ada yang ingin kamu tanyakan atau sesuatu yang memberatkan untukmu dari beberapa hal yang kamu tahu tentangku?”
“Kamu ingin kita jadi pasangan kan? Tapi apa kamu benar-benar sedang single? Aku tidak ingin repot untuk hal seperti itu. Berurusan dengan pacarmu atau apalah itu.”
Revan tertawa, “tentang itu aku yang urus. Semuanya aman, aku bisa pastikan kamu tidak akan repot untuk hal demikian. Jadi apa kamu tertarik?”
Aluna bergerak memegang pangkal hidungnya sambil menutup mata, ia merasa memang sudah tidak waras memutuskan datang kesini untuk mendengarkan lebih lanjut penawaran Revan yang bagi Aluna itu adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar selama hidup. Tapi ia terus memikirkannya selama satu minggu ke belakang. Posisinya di kantor semakin sulit, dan setelah Aluna cari tahu tentang Revan, pria ini benar-benar akan sangat bisa membantunya di perusahaan jika memang benar ada di pihaknya. Tapi menjalankan sebuah hubungan palsu, ini sudah jelas hal yang tidak benar dan sesuatu yang tidak pernah terbersit sedikitpun akan Aluna lakukan. Itu hal yang sangat bertentangan dengan prinsip dan semua hal yang ia lakukan selama ini.
“Kerja sama di perusahaan aku harap berjalan dengan profesional dan kamu harus selalu ada di pihakku dan membantuku untuk masalah internal. Dan untuk kesepakatan hubungan personal aku harap ini juga ada rules yang jelas diantara kita.” Akhirnya Aluna memutuskan untuk mengambil kesempatan kerjasama ini dengan Revan.
Senyum Revan langsung terlihat lebar sekaligus puas karena sesuatu yang ia pikir sudah gagal ternyata berhasil. Ia berhasil menaklukkan Aluna untuk mau bekerja sama dengannya yang artinya tujuannya akan semakin mudah setelah ini, mempertahankan posisinya sebagai pimpinan utama perusahaan selanjutnya.
“Baiklah, aku tahu kamu akan ketat terkait kerja sama personal kita. Setelah ini kamu boleh pikirkan dan tentukan rules antara kita, akupun juga. Setelah itu kita bisa bicarakan lagi dan mulai tentukan kapan dan bagaimana ini semua di mulai. Di sisi lain aku juga akan coba ajukan lagi kerja sama ke kantormu.”
Aluna menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum ia mengangguk setuju dengan apa yang Revan katakan.
“Senang bekerja sama dan akan menjalin hubungan dengan wanita cantik sepertimu,” Revan memajukan tangannya untuk bersalaman dengan Aluna dengan senyum khas miliknya.
Senyuman penuh rencana.