Kesepakatan

1195 Words
“Aluna, papa masih kaget dengan keputusan kamu untuk menerima kerja sama ini.” Papa bicara pada Aluna setelah rapat selesai yang mana baru saja mereka resmi menjalin kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Ardana. “Yang paling penting kita sudah pastikan mereka benar-benar akan melakukan sesuai dengan kesepakatan kita. Dan ini salah satu cara paling efektif saat ini untuk membuat keuangan kantor kita bisa stabil bahkan lebih baik.” Jawab Aluna sambil merapikan beberapa kertas yang ada di hadapannya. “Syukurlah mereka sepertinya tidak seperti yang kita khawatirkan di awal, kamu hebat sekali bisa memastikan ini kembali. Kita hampir saja kehilangan hal besar yang mungkin tidak datang dua kali. Dan di satu sisi papa gak nyangka mereka balik nawarin ke kita padahal keadaan kantor kita sedang dalam keadaan tidak baik karena data yang bocor sebelumnya.” Aluna mengangkat kepalanya untuk memperhatikan wajah lega papanya, memang sebenarnya dari awal sang papa sangat ingin menerima tawaran kerja sama perusahaan Ardana, namun ia benar-benar mendengarkan dan mengikuti keputusan Aluna yang sangat ia percaya. “Terlepas dari itu, setidaknya sekarang papa bisa lebih tenang, kan? Jangan terlalu mikirin banyak hal lagi ya, percaya deh semuanya akan berjalan dengan baik.” Lanjut Aluna bicara dengan nada sangat lembut sambil menggenggam satu tangan ayahnya. “Terima kasih ya sayang,” balas sang ayah mengusap pelan puncak kepala Aluna dengan tangannya yang lain. Saat itu perhatian Aluna teralih karena getar handpone yang tengah ia simpan di kantongnya, dengan cepat ia coba memeriksa panggilan tersebut. Namun ia tidak mengangkatnya dan langsung mematikan layar. Panggilan dari Revan, ia tidak akan mengangkat panggilan tersebut di depan ayahnya. “Pa, hari ini aku ada janji ketemu teman, aku pulangnya ga bareng papa ya.” Dahi ayah Aluna sedikit berkerut karena jarang sekali Aluna membuat janji dengan teman apalagi di hari kerja seperti sekarang, “tumben?” “I..,iy iya soalnya ini ak…” “Iya, sering-sering aja ya. Kalau gitu papa keluar duluan.” Papa tertawa pelan dan berjalan keluar meninggalkan Aluna sendirian di ruang meeting. Aluna kembali memeriksa handphonenya dan ternyata Revan masing menelfonnya tanpa henti. Setelah memastikan papanya sudah benar-benar keluar, barulah Aluna mengangkat panggilan tersebut. “Halo…” “Lama sekali ngangkatnya!” langsung terdengar jawaban berupa suara Revan yang mengomel. “Bisa sabar kan? Orang ga selamanya stand by untuk angkat telfon.” “Dan orang ga selamanya bisa menunggu ya Aluna. Katanya mau ketemu, ayo cepat. Aku nungguin.” Mata Aluna langsung mengarah ke jam dinding yang ada di ruangan, bahkan ia juga mengecek jam di handponenya untuk memastikan, “ini belum sesuai dengan jam yang aku bilang.” “Kamu bilang setelah rapat.” Aluna memutar bola matanya malas, namun tetap mencoba menjelaskan dengan baik, “iya, maksudnya aku nentuin jam ketemu kamu sesuai perkiraan selesai rapat. Karena rapat kita ternyata selesai lebih awal, artinya aku ada waktu untuk ngelakuin hal lain dulu sekarang.” “Ga bisa, karena rapat udah selesai kita ketemuan sekarang.” Revan tampaknya tidak mau mendengar penjelasan Aluna sama sekali. “Revan…” “Aku ini masih di parkiran kantor kamu, aku mau jalan ke tempat yang kamu bilang.” “Iya duluan aja, kamu bisa nyantai dulu disana selagi aku ngelakuin sesuatu dulu.” “Sekarang kamu juga harus jalan, ayo bareng aku aja kalau gitu.” Aluna memegang pelipisnya, ia belum lama kenal Revan tapi ia tahu kalau keputusan terbaik sekarang adalah mengikuti apa yang Revan katakan karena dipastikan manusia ini tidak akan pernah mau mengalah, bahkan untuk hal kecil sekalipun. “Yaudah, kamu jalan duluan, aku beberes bentar dan langsung jalan juga.” “Kenapa ga barengan biar sekalian? Perlu aku jemput lagi ke dalam?” “Ga boleh, ini masih area kantor dan kita baru aja resmi jalin kerja sama bisnis, akan aneh sekali kalau orang-orang ngelihat aku langsung barengan sama kamu. Yang ini tolong paham.” Aluna menegaskan di akhir karena tidak mau malah jadi bertele-tele. “Baik, laksanakan. Sampai jumpa!” Revan langsung setuju dan mengikuti ucapan Aluna tanpa protes apapun lagi. ** “Aku sudah pesankan berdasarkan info yang aku dapat dari file yang udah kamu isi,” Revan menyambut Aluna dengan senyum lebar dan bangga menunjukkan hasil makanan dan minuman yang sudah ada di meja hasil pesanannya. Aluna duduk di kursi yang ada di depan Revan sambil memperhatikan makanan yang ada di antara mereka, “kamu sudah baca semuanya?” Revan tertawa, “sebenarnya belum, tapi khusus hari ini aku baca bagian makanan.” Setelah mereka setuju untuk menjalankan kesepakatan, untuk mempermudah Aluna membuat sebuah form yang bertujuan mengetahui diri mereka satu sama lain agar hubungan pura-pura mereka nantinya bisa berjalan dengan mulus dan meyakinkan. “Tidak ada yang spesial, note nya kamu hanya tidak kuat makanan pedas dan sangat suka makanan sehat.” Revan menyampaikan kesimpulan yang ia dapat dari data Aluna. “Jika sudah baca semuanya, setidaknya sempatkan isi bagianmu, aku belum tahu apa-apa sama sekali,” balas Aluna meminum minuman miliknya. Pria itu tertawa, “kamu ingin tahu? Aku akan ceritakan secara langsung, kita isi pertemuan kita dengan membahas banyak hal. Mengenal Revan adalah hal yang sangat menyenangkan.” Aluna menghela napas panjang, “kamu sudah baca syarat yang aku kirimkan? Setuju?” “Yang bagian minimalisir sentuhan fisik. Aku agak keberatan karena biasanya aku sangat physical touch dengan pasangan. Aku sangat natural dalam melakukannya.” “Lakukan dengan pasangan aslimu, tidak denganku.” “Kita akan terlihat tidak meyakinkan.” Revan berusaha negosiasi. “Lakukan jika memang butuh. Dan tidak berlebihan.” Revan mengangkat bahu pasrah, “baiklah, tapi maklum toleransi jika aku tidak sengaja melakukannya.” Aluna mengabaikan kalimat terakhir Revan, “dan jika dalam proses ini kamu memiliki pasangan lain, aku minta tolong sembunyikan dengan baik, aku tidak mau terseret dan repot membereskannya. Aku sudah bilang ini sejak awal.” “Itu berlaku kebalikan?” “Ya tentu, lagipula kamu tidak perlu khawatir tentang itu.” Revan memiringkan kepalanya memperhatikan Aluna, “kenapa? Tidak berpikir untuk memiliki pasangan yang sebenarnya?” Aluna menggeleng, “tidak tahu, yang penting aku bisa jamin kamu tidak perlu memikirkannya.” “Baguslah kalau begitu, jika dilihat dari alur yang kamu buat, aku setuju,” Revan membuka sebuah file yang dikirim Aluna berupa rekayasa alur waktu hubungan palsu mereka. Satu hal yang Revan bisa simpulkan dari Aluna adalah gadis ini seseorang yang rapi dan terencana, dia memikirkan berbagai hal dengan sangat matang dan hati-hati. “Bulan ini kita akan jalan beberapa kali dan mulai perlihatkan kalau kita sering jalan bersama dan di bulan depan kita bisa sampaikan pada orang-orang kalau kita tengah berpacaran.” Lanjut Revan sambil mengangguk-angguk. “Pastikan rahasia ini terjaga dengan baik. Dan aku merasa secara sifat kita sepertinya memiliki banyak perbedaan yang pastinya mungkin nanti akan ada konflik antar kita, aku harap kita bisa menganggap ini adalah kesepakatan layaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan dengan profesional. Aku sebenarnya sudah tuliskan semuanya di file, khawatir kamu melewatkan bagian itu jadi aku ingatkan lagi. Aku masih menunggu jika ada yang ingin kamu revisi dari apa yang aku buat.” “Tentu, aku akan selesaikan membacanya nanti. Untuk sekarang mungkin kita bisa fokus selesaikan makan dulu. Rapat barusan membuatku lapar, kamu juga kan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD