“Ini sih totally ga cocok sama lo sih,” komentar Gavin memperhatikan layar laptopnya duduk di karpet pada Revan yang sedang tiduran di sofa apartemen miliknya.
“Se gak cocok itu?”
Gavin geleng kepala karena sekarang ia sedang disuruh Revan untuk membaca semua file yang dikirim Aluna terkait hubungan pura-pura mereka ke depannya. Karena Aluna yang juga semakin mendesak Revan untuk melengkapi file miliknya, berakhirlah dengan Gavin yang harus menyelesaikannya.
“Bener-bener sih, Aluna itu cewek yang semuanya positif. Liat aja dari hobinya, dia suka baca, olahraga dan healingnya naik gunung atau trekking. Nah lo kalau mumet kan clubbing sambil mabok. Bahkan Aluna ga konsumsi alkohol sama sekali. Dan satu lagi, dia nandain banget kalau ga suka asap rokok ataupun vape. Yakin lo bisa nih tahan sama Aluna walaupun pura-pura?”
“Mau ga mau gue akalin. Lo lihat kan Vin gimana respon orang-orang pas gue bilang kalau gue bisa bikin kantor Aluna mau kerja sama dengan kita? Belum cukup untuk pastiin posisi gue gantiin papa.”
“Ya masalahnya ada di cara lo nyampein. Lo kalau ngomongnya dengan rendah hati ya respon mereka ga akan kaya gitu.”
Revan yang tadinya berposisi tiduran langsung bangkit untuk duduk menunjukkan wajah kesal, “ya gimana gue ga kesel? Bilangnya memang kantor Aluna emang udah pertimbangin terima, lah kan gue tahu sendiri dari Aluna kalau dia dari awal emang ga mau kerja sama dengan kita. Ngomong emang pada bacot semua.”
“Nah masalahnya disitu, kesabaran lo lebih tipis dari tisu. Sumpah gue gemes banget liat respon lo, padahal kan di momen itu bisa nunjukin perubahan sikap lo yang lebih tenang. Itu akan ngaruh banget ke penilaian direksi ketimbang beneran lo yang bikin perusahaan Wijaya mau terima kerja sama kita.”
Revan mulai menyalakan sebatang rokok dengan ekspresi wajah yang masih terlihat belum santai, mengingatnya saja berhasil membuatnya marah kembali.
“Kalau lo bisa tenang, lo ga perlu nih repot-repot bikin hubungan palsu sama Aluna.”
“Lo yang ngasih ide di awal, sekarang lo juga yang kayanya ga setuju dengan gue.”
Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung, “ya kalau baca datanya Aluna gini, gue jadi ragu aja kalau ini bakal mulusin jalan lo atau malah nambah masalah lain.”
Revan menggeleng, “gue udah susah payah yakinin Aluna, gue ga bisa buang kesempatan ini gitu aja. Lo denger ga kemarin abis rapat ketemu Aluna papa sama yang lain bilang apa?”
“Yang mana?”
“Mereka notice Aluna walaupun Aluna ga banyak ngomong di pertemuan itu. Ini udah kaya golden ticket banget buat gue.”
Gavin menghembuskan napas pelan, “baiklah, setidaknya mungkin dalam proses ini perlahan lo belajar sikap tenang dari Aluna. Gue kemarin sempat denger Pak Surya bisik bisik tentang Aluna.”
“Papa bilang apa?”
“Bisa punya anak seperti Mbak Aluna, gimana cara Pak Damar ngedidiknya. Pak Surya udah sampai di tahap dia ngerasa udah salah ngedidik lo sebagai anaknya.”
“Udahlah ga usah dipikirin, intinya sekarang gue bakal bener-bener jalanin hubungan pura-pura sama Aluna, udah pasti semuanya akan mulus.”
“Jadi ini data lo gue isi apa adanya aja beneran sejelek-jeleknya, apa gue baik-baikin?” Gavin memastikan sebelum ia mulai mengetikkan segala sesuatu tentang Revan yang sudah sangat ia ketahui luar dan dalam itu.
“Lo tulis dulu aja apa adanya, abis itu biar gue cek dan ubah sesuai yang gue mau.”
“Oke.”
*
Mata Aluna menyipit dan dahinya berkerut membaca balasan file yang tengah malam seperti ini dikirimkan oleh Revan.
“Ah, dengan mengetahui tentang dia malah membuatku takut untuk menjalankannya,” gumam Aluna yang dibuat kaget dan semakin kaget membaca baris demi barisnya.
“Ngerokok, dalam kurung akan ditahan sesuai kebutuhan. Suka ke klub malam dan kalau bisa sesekali Aluna juga harus ikut untuk bonding chemistry??” Aluna membaca tulisan itu dengan kesal.
“Aku benar-benar sudah gila memutuskan berhubungan dengan Revan.”
Aluna kini bergerak mengirimkan pesan kepada Revan
Kepada: Revan Ardana
Aku sepertinya memiliki banyak komentar untuk file data dirimu
Dari: Revan Ardana
Kamu sudah membacanya?
Aku orang yang sangat menarik kan?
Aku tahu itu
Kepada: Revan Ardana
Kalau kamu baca dataku dengan detail
Aku tidak tahan rokok dan alkohol
Menurutmu bagaimana caranya aku ke klub malam?
Dari: Revan Ardana
Aku tidak minta kamu ngerokok atau minum
Just having fun
Mungkin hanya datang sekali
Untuk formalitas aja
Kepada: Revan Ardana
Aku tidak bisa
Dari: Revan Ardana
Ini kesepakatan dua pihak
Harus ada yang dikorbankan satu sama lain
Siapa yang bilang harus profesional?
Kepada: Revan Ardana
Ada sesuatu yang harus dan tidak harus dikorbankan
Mungkin kamu harus belajar itu dulu
Kita lihat siapa yang profesional
Dan siapa yang hanya mau terlihat profesional
Revan terdiam melihat balasan pesan terakhir Aluna, tangannya yang dari tadi selalu bersiap segera membalas pesan Aluna kini hanya diam hingga akhirnya ia tertawa kecil, “sepertinya aku harus menyiapkan diri menghadapi Aluna, dia memang bukan gadis biasa.”
***
“Selamat sore!”
Sapaan yang diiringi pintu terbuka membuat Aluna kaget bukan main, Revan dengan santai kini masuk ke ruangannya.
“A..ap. apa yang kamu lakukan disini?”
“Aku lewat dan memutuskan untuk mampir, apa itu aneh?”
“Ya tentu saja aneh! Kamu tadi bilangnya apa ke resepsionis dan asistenku yang ada di depan?” Aluna masih menatap Revan dengan melotot.
Revan angkat bahu, “aku disambut baik. Karyawanmu memiliki attitude yang baik. Lagian kenapa harus kaget sih? Kan sebentar lagi mereka tahu kita akan ‘jadian’. Beberapa bunga terakhir aku sudah kirim dengan nama ‘Revan’, bukan Mr.R lagi. Aku beri tahu karena aku rasa kamu tidak melihat bunga itu sama sekali.” Revan kini mengambil posisi duduk di sofa yang ada di ruangan Aluna sambil memperhatikan semua detail ruangan Aluna yang memiliki konsep simpel namun sangat rapi.
Aluna tertawa kecil melihat Revan dari kursi meja kerjanya, “jika kamu mengirimnya di waktu yang tepat, aku melihatnya.”
“Aku mampir sekalian karena tadi kamu bilang kamu ingin bicara sesuatu denganku.”
Aluna bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Revan untuk ikut duduk di sofa yang posisinya berseberangan dengan pria yang menggunakan kemeja abu muda itu, “aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau aku tidak salah ingat, bukannya terakhir kali kamu bilang kerja sama bisnis kita dari pihak Ardana bakalan kamu yang pegang?”
Revan mengangguk, “ya, tapi untuk sekarang aku belum bisa pegang karena aku harus selesaikan proyek lain terlebih dahulu.”
Aluna tidak langsung menjawab, dia terdiam sejenak, “hm...”
“Kenapa? Ada masalah? Untuk sementara proyek ini dipegang orang yang menurutku bagus.”
“Di rapat terakhir aku rasa ada sesuatu yang janggal, aku khawatir ada orang dalamku yang bernegosiasi diluar ini dengan pihakmu.”
“Maksudnya?”
“Aku tidak tahu siapa yang benar-benar di pihak papaku saat ini. Yang aku tahu hanyalah banyak yang ingin menjatuhkan papa. Kerja sama dengan perusahaanmu bisa jadi momen untuk mereka. Jujur aku sulit menjelaskannya karena ini masih pemikiranku.”
Revan langsung mengangguk, “aku tahu, aku paham maksudmu.”
“Kamu tahu kan, proyek ini seperti bumerang untukku. Aku berani karena kesepakatan kita dan kamu akan ada di pihakku.”
“Kamu bisa pegang itu, aku akan segera pegang kendali proyek ini.”
Aluna mengangguk, “terima kasih. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan itu. Lalu sekarang kamu mau apa?”
“Kamu mengusirku?”
“Aku hanya bertanya.”
“Habis ini kamu mau ngapain?”
Aluna melirik jam dinding di ruangannya, “aku mau olahraga.”
“Ayo.”
“Hah?”
“Ya ayo, kamu mau olahraga apa?” Revan tampak bersemangat.
“Aku cuma mau lari.”
“Okey, kita lari bareng.”
Dengan cepat Aluna menggeleng, “nggak! Aku sukanya lari sendiri.”
“Sekarang barengan, kan selama ini kamu sendiri karena ga ada temennya, sekarang udah ada aku.”
“Ga usah, aku ga perlu teman, aku biasa sendiri.”
“Ga mau tahu, aku ikut.”
“Aku langsung lari habis ini, kamu mau lari gimana? Pakai baju ini? Sepatu ini?” Aluna sekarang mencoba menolak dengan cara yang masuk akal, karena dia memang tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Revan karena yang ada bukannya merasa senang dia malah kesal.
“Kamu masih kerja kan? Kamu baru lari kalau kerjaan kamu udah selesai kan? Yaudah aku keluar bentar beli baju sama sepatu.” Revan sudah berdiri berniat pergi yang membuat Aluna menganga tidak percaya.
“Lah? Ngapain si?”
“Tenang aja, ga lama. Dalam waktu singkat aku udah kesini lagi jemput kamu buat olahraga, ga usah panik gitu pisah sebentar denganku.”
“Dih!?”