“Besok ga mau kerja ah kalau gini,” keluh Revan lalu meminum air mineral dengan napas yang masih tersengal-sengal.
“Lah? Kok gitu?” tanya Aluna yang duduk bersebelahan dengan Revan yang mana mereka sama-sama sedang meluruskan kakinya setelah lari bersama sore ini. Walaupun awalnya Aluna tidak mau, apa boleh buat karena Revan betul-betul kembali ke kantor Aluna dengan set baju dan sepatu baru khusus untuk menemani Aluna lari.
“Cape banget! Bisa dipastiin ini besok kaki sakit semua. Larinya lama banget. Ga mau kerja.”
“Kan tadi udah dibilang berhenti aja, ga usah ikutin aku. Situ kan yang ngeyel, belagu banget.”
“Harga diri!” Revan bicara sambil menepuk dadanya, “tapi aku ga expect kamu lari sekuat itu.”
“Bukan akunya yang kuat, tapi kamu yang ga biasa.” Aluna terkekeh sambil kini ia juga meminum minuman miliknya.
“Kamu rutin begini? Suka?” Revan memposisikan duduk lebih nyaman dengan meletakkan kedua tangannya menjadi tumpuan di belakang badan seraya memperhatikan Aluna yang berjarak hanya sekitar dua jengkal darinya.
“Suka? Aku tidak pernah memikirkan aku suka atau tidak, tapi aku rutin melakukannya.”
“Ya artinya itu suka.”
“Kenapa?”
“Kamu melakukannya rutin ya pasti karena suka lah.” Dengan sederhana Revan menyimpulkan.
“Kamu rutin bekerja apa artinya karena kamu suka bekerja?”
Revan tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. “hm.., walaupun kadang suka tiba-tiba males, ya di beberapa momen aku sangat menyukai apa yang aku kerjakan.”
“Oh ya?”
Pria itu mengangguk, “apa kamu tidak?”
Gadis itu angkat bahu, “aku tidak memikirkannya.”
“Itu, kakimu kenapa?” perhatian Revan beralih pada bekas luka di lutut Aluna yang tidak sengaja terlihat walaupun Aluna menggunakan celana yang tadinya menutupi lutut namun memang longgar.
“Oh?” Aluna dengan cepat menutupi lututnya lagi, “jatuh.”
“Ya jatuhnya kenapa?”
“Saat event lari marathon.”
“Apa kamu menyelesaikannya? Sampai finish?”
Gadis itu mengangguk, “aku jatuh tidak jauh sebelum finish. Aku tetap bisa selesaikan.”
“Sepertinya kamu memang sangat menyukai lari. Dari kecil?” Revan bertanya dengan wajah yang tampak benar-benar antusias ingin tahu.
“Tidak, aku memiliki keseimbangan yang tidak begitu bagus, bahkan dulu aku benci jika ada ujian praktek lari saat sekolah. Saat aku mencoba berlari lebih cepat pasti akan berakhir jatuh.” Aluna menjelaskan sambil tertawa kecil.
“Kamu mencoba melawan kelemahanmu? Dan sekarang kamu jadi pelari yang kuat.”
Aluna mengangguk, “mungkin aku kuat berlari lama. Tapi aku masih belum bisa berlari cepat. Aku jatuh karena mencoba menambah kecepatanku.” Aluna mengusap kakinya sendiri dan tertawa lagi.
“Kamu tidak bisa main kejar-kejaran.”
“Aku paling tidak suka dikejar apapun.”
Revan tertawa, “aku juga tidak suka dikejar-kejar apapun kalau begitu.”
Aluna menoleh melihat Revan dan hanya membalas dengan kekehan kecil.
“Hari ini aku sudah ikuti kegiatan yang kamu suka, lain kali gantian.” Ucap Revan sambil memainkan telunjuknya di hadapan Aluna.
Aluna memalingkan wajahnya malas, “apapun itu, tapi untuk ikut ke klub aku tidak mau.”
“Pernah ke klub malam?”
“Pernah.”
“Kalau udah pernah ya itu harusnya kamu biasa aja.”
“Karena udah pernah makanya aku bisa bilang kalau aku ga mau. Bukan masalah minum atau apanya, aku ngerasa ga nyaman aja.”
Revan mengangguk sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya, “ya mungkin nanti kamu bisa coba lagi. Tapi sesekali mampirlah ke kantorku, tanpa perlu alasan mampir saja, aku akan senang. Aku sudah sering menghampirimu.”
“Ga ada yang nyuruh juga.”
“Ya kalau ga gitu, hubungan kita ga ada pergerakan terlihat. Gimana? Udah ada yang notice belum hubungan kita?”
Aluna mengangguk, “beberapa hari lalu papa nanyain aku lagi deket sama seseorang atau gimana. Karena papa sempat lihat bunga yang kamu kirim.”
“Terus kamu bilang apa?”
“Ya aku bilang lagi sering ngobrol sama kamu.”
“Responnya?”
“Hm, ga begitu buruk.”
Revan langsung mengangkat alisnya mendengar jawaban Aluna, “ga begitu buruk? kok ga bagus??”
“Papa ragu aku deket sama orang kaya kamu. Kayanya papa udah denger kabar kurang enak dari kamu deh.”
“Setidaknya aku putra Surya Ardana, papa kamu harusnya seneng dong?”
Dengan cepat Aluna menggeleng, “papaku bukan orang yang seperti itu dan papa tahu seleraku seperti apa.”
“Oh, jadi sekarang lagi bilang kalau aku bukan your type?”
“Kenapa kaget? Aku juga tahu kalau aku bukan tipe kamu. Ya sekarang kita berusaha aja untuk nunjukin kalau tipe bisa berubah.” Aluna menjawab santai sambil kembali meminum minuman miliknya.
“Aku ada rekomendasi klub malam yang aku yakin kamu bakal suka.” Revan kembali bersuara setelah beberapa saat mereka hanya diam memperhatikan orang-orang di sekitar mereka.
“Jangan balik bahas itu lagi.”Aluna menjawab dengan tidak suka secara jelas.
“Aku hanya teringat dan merasa butuh menyampaikan padamu. Kamu mungkin hanya belum ketemu tempat klub yang enak aja. Aku tahu banyak tempat bagus.”
“Aku ada rekomendasi tempat nge-gym enak.” Aluna mengalihkan karena sepertinya pria yang berhadapan dengannya ini suka sekali berbicara dengan topik yang melompat kesana-kemari.
“Kamu sedang menghinaku? Mau bilang aku tidak bugar?”
Aluna tertawa meremehkan, “tersinggung? Aku tidak bicara apapun.”
“Kamu harus lihat badanku tahun lalu!” Revan agaknya mudah terpancing dengan obrolan ini.
“Tahun lalu? Aku hanya bisa melihatmu sekarang yang lari aja ga kuat.”
Revan tertawa tidak percaya karena terang-terangan Aluna sedang mengolok-oloknya, “wah, berani sekali.”
“Kataku, dari pada sibuk ngajakin aku ke klub, sibukin diri lakuin hal positif dulu aja.” Aluna bicara seraya mengencangkan tali sepatunya lalu berdiri, “aku mau lari lagi, kamu kalau ga kuat duduk aja, atau kalau bosen boleh pulang atau mau ke klub dulu kali.”
“Siapa bilang? Mau lari berapa putaran lagi? Mau lari sampai pagi? Ayo!!”
“Ngomong doang semua orang juga bisa,” Aluna geleng kepala lalu benar-benar mulai berlari meninggalkan Revan.
“Gue buktiin!!” Revan si paling tidak mau kalah menyusul Aluna kembali ikut berlari.
***
“Udahlah Pa, aku aja yang pegang proyek itu,” Revan sudah memohon secara berulang kepada papanya yang masih sibuk di meja kerja berusaha tidak memperdulikan putranya itu.
“Ga usah, ini bukan proyek tipe kamu. Ga usah nyari perkara deh Van, masih ada banyak proyek menarik yang bisa kamu pegang.”
“Tapi kan ini aku juga yang bantu hingga akhirnya perusahaan Wijaya mau kerja sama dengan kita. Kenapa ga sekalian aja, kan proyek yang kemarin aku pegang udah kelar dan hasilnya sangat memuaskan.”
Pak Surya menghembuskan napas lelah sambil kini benar-benar mengarahkan pandangannya pada Revan yang duduk di depan meja kerjanya, “iya, papa tahu, dan terima kasih. Tapi kamu sendiri yang dari awal bilang paling males ngurusin proyek yang ada banyak sangkut pautnya sama pemerintah. Proyek sama perusahaan Wijaya akan selalu berkaitan dengan pemerintah. Bahkan di awal rencana proyek ini, kamu sama sekali ga tertarik.”
“Tapi sekarang aku tertarik.”
Gelengan yakin kembali ditunjukkan oleh Pak Surya, “kalau di proyek ini kamu bikin masalah gara-gara emosimu, ini akan sangat fatal, nama kamu akan dicoret permanen dari calon pimpinan utama. Ini hanya proyek kecil, jangan mencari masalah besar di dalamnya.”
Revan sangat pusing karena walaupun dia berhasil mewujudkan kerja sama perusahaannya dengan perusahaan Aluna, ia tidak diberikan hak memegang proyek itu. Ia sudah kepalang janji dengan Aluna, dan semuanya akan kacau balau tidak sesuai rencana jika ia tidak bisa mengubah keputusan ini.
“Makanya disini aku bakal buktiin kalau aku memang layak maju jadi pimpinan utama, ini momen orang-orang bisa melihat perubahan aku, Pa. Revan yang lebih sabar dan bijak.”
“Tidak.” Tegas sekali Pak Surya menolak sambil berjalan meninggalkan kursi meja kerjanya membelakangi Revan untuk melihat ke luar jendela.
“Papa ga percaya aku bisa berubah? Atau papa memang ga mau aku yang maju gantiin papa ya?”
“Dari dulu bilangnya mau berubah, bakal lebih sabar, ga bakal bertingkah lagi, tapi sampai sekarang lihat diri kamu.”
“Yang ini aku serius.”
“Papa bilang tidak ya tidak.”
“Pa! Dengerin aku dulu, kali ini ak.... argh!” Revan yang sudah menggebu-gebu untuk terus bernegosiasi ingin ikut berdiri untuk mendekati papanya namun terhenti karena ia lupa kalau kakinya sedang sakit. Salahkan dirinya yang memaksakan lari menandingi Aluna namun berakhir keram dan sampai hari ini masih belum bisa berjalan dengan normal.
Papa menengok sejenak untuk melihat Revan yang tengah meringis memijat kakinya, namun setelah itu papa kembali berpaling.
“Sekali ini percaya sama aku, aku ga pernah kan sepengen ini ngerjain sebuah proyek? Aku akan lakuin yang terbaik.” Revan terus membujuk dengan wajah yang sangat memohon.
“Kamu kalau masih ngeyel, ngomong sama mama kamu. Papa ikut kata mama.”
Revan membelalak kaget, “ga usah ke mama lah!”
“Kalau ga ke mama, dari papa ya tidak.”
Revan tidak bisa menjawab, ia hanya bisa menghembuskan napas keras sambil memikirkan bujukan apa yang harus ia sampaikan kepada mamanya. Menghadapi mama yang bagaikan raja terakhir, ini akan sulit.
“Minimal pulang terus jelasin kenapa sampai ada botol alkohol di dapur dan harganya bisa semahal itu ke mamamu.”