Alaric menyusun bantal di tengah ranjang, membagi wilayah tempat tidur itu menjadi dua, kiri dan kanan. “Lo tidur di sana, gue di sini.” Luna mengerucutkan bibirnya. Si kunyuk ini aneh sekali. Kenapa pula ranjang harus dibagi dua seolah mereka ini sedang main perang-perangan. Saat ini mereka berada di kamar Alaric di kediaman orang tuanya dan tidak mungkin mereka tidur terpisah. Orang tua Alaric bisa marah kalau tahu selama ini anak dan menantunya tidak pernah sekamar bersama. “Nggak usah pakai beginian kenapa?” protes Luna. “Enak aja! Entar gue ketendang-tendang. Lagian ...” “Lagian apa?” “Entar lo terpesona melihat kegantengan gue terus lo ngapa-ngapain gue,” lanjut Alaric dengan PD-nya. Kontan Luna melempar bantal ke arah Alaric. Alaric tertawa puas. “Kalau gitu tidur aja di

