Alaric masuk ke restoran dengan hati tak menentu. Tadi siang ia menerima WA yang membuat dirinya tak bisa berkonsentrasi bekerja. WA itu berisi ajakan untuk bertemu. Alaric butuh waktu dua jam untuk berpikir sampai akhirnya ia setuju untuk bertemu. Alaric mencari sosok yang mengundangnya. Ia temukan sosok bergaun merah yang ia cari-cari sedang duduk di meja di sudut ruangan. Jantung Alaric berdegup kencang. Degup itu makin kencang seiring ia makin dekat dengan meja tempat perempuan itu duduk. “Sellina,” sapa Alaric. Perempuan bernama Sellina itu berdiri dan segera memeluk Alaric erat-erat. Alaric kaget. “Akhirnya kamu datang. I miss you,” bisik Sellina tepat di telinga Alaric. “Kapan pulang?” tanya Alaric berusaha melepaskan pelukan Sellina. “Minggu lalu,” Sellina tersenyum. Ia ta

