“Iya, Ma, sampai nanti sore,” Luna menutup telepon.
“Ciyeeee ... mama mertua ya?” Fanya mencolek pipi Luna yang merona bahagia. “Kayaknya lo happy banget, gue ngiri.”
“Hihi ... sabar, entar giliran lo juga datang.”
“Kenapa jadi lo duluan sih yang nikah sama Alaric, padahal kan gue yang minta dicomblangin sama Natha,” Fanya manyun.
“Itu yang namanya jodoh, kita nggak pernah tahu kapan datang dan sama siapa,” Luna tersenyum.
“Tapi gue happy kok lihat lo happy. Apalagi kayaknya mertua lo sayang gitu sama lo.”
“Iya, gue beruntung. Papa dan Mama memang baik. Gue nggak nyangka diterima sebagai mantu. Ini barusan Mama telepon, nanti sore kami janjian mau ke desainer untuk bikin kebaya pernikahan dan setelah itu ke toko furnitur, mau milih perabot untuk rumah yang akan kami tempati nanti.”
“Emang lo sama Alaric sudah beli rumah?”
“Kata Mama, mereka memberikan satu rumah mereka untuk hadiah pernikahan kami. Terus gue disuruh milih sendiri perabotannya. Sebab, rumahnya masih kosong. Perabotannya juga termasuk hadiah, katanya. Gue jadi nggak enak sih, tapi Mama dan Papa maunya gitu.”
“Ya ampuuun, enak banget sih jadi lo. Udah punya mertua baik, tajir lagi. Si Alaric punya saudara yang jomblo nggak? Gue rela kok digerebek hansip.”
Luna terbahak mendengar ucapan Fanya.
“Nggak ada, dia kan anak bungsu. Lagian Natha gimana dong?”
“Payah nih comblangnya curi start dari yang mau dicomblangin. Ngomong-ngomong Alaric gimana? Dia masih jutek sama lo?”
Luna mengembuskan napas. “Ya gitu deh. Kayaknya dia bete banget sama gue. Padahal kan gue nggak sengaja narik dia. Lagian mana gue tahu kalau kami akan dinikahin paksa.”
“Benar-benar ya tuh orang. Jadi, setelah jadi suami lo, dia tetap sombong luar biasa?”
“Iya, tetap sombong, malah makin parah. Dia nggak pernah ngehubungin gue. Semua keperluan untuk pesta pernikahan nanti dia nggak mau tahu. Buat dia, pernikahan ini adalah bencana,” Luna berkata sambil nyengir.
“Lo tenang aja. Gue yakin, suatu saat dia akan balik jatuh cinta sama lo.”
Fanya merangkul bahu Luna. “Emang kapan rencana pesta pernikahan kalian?”
“Sepuluh hari lagi.”
***
Luna mematung di depan pintu rumah keluarga Baratajaya. Jadi, ini rumah Alaric. Luna tak menyangka Alaric benar-benar dari keluarga berada. Ia pikir penampilan keren Alaric hanya sok gaya, tapi rupanya ia memang kaya raya. Depan rumah saja luas begini, gimana nggak kaya, pikir Luna.
“Kok diam saja?” tegur Bu Baratajaya. “Ayo masuk, ini kan rumah kamu juga.”
Luna baru sadar kini ia termasuk keluarga Baratajaya. Ya ampuuuun, ia yang tak seberapa ini tiba-tiba jadi menantu keluarga super tajir? Pantas undangan saja empat ribu lembar lebih. Luna merasa ia tak cukup pantas bersanding bersama Alaric. Jelas saja Alaric kesal luar biasa. Lelaki seperti dia seharusnya mendapatkan perempuan yang juga berasal dari keluarga sederajat dan tentunya cantik dan seksi, bukan seperti dirinya yang biasa-biasa saja.
“Tuh kan diam lagi. Ayo!” Bu Baratajaya menggandeng tangan Luna.
Ragu-ragu Luna melangkah. Di ruang tamu berjajar pajangan kristal mahal. Luna berjalan hati-hati. Ia takut terpeleset dan jatuh menabrak salah satu pajangan itu. Sesampai di ruang keluarga, Luna lebih takjub lagi. Sofa-sofa besar berjajar seolah memanggil-manggil untuk ditiduri.
Pasti empuk sekali, pikir Luna. Belum lagi home theater yang pasti bersuara menggelegar seperti di bioskop. Di dinding terpasang foto-foto keluarga, termasuk foto Alaric sewaktu wisuda. Luna tersenyum sendiri.
'Ternyata suamiku memang ganteng sejak dulu,' gumamnya dalam hati.
“Luna, selamat datang,” tegur suatu suara.
Luna menoleh dan segera memberikan salam kepada Pak Baratajaya.
“Ini rumah keluarga kami. Sekarang rumah kamu juga. Maaf, kami belum mengundang keluarga kamu untuk datang kemari. Maklum, waktunya sangat terburu-buru ya.”
“Ini tadi juga Mama yang dapat ide dadakan untuk mengundang Luna makan malam bersama,” ujar Bu Baratajaya. “Kamu duduk dulu, ya! Mama ganti baju sebentar.”
Luna duduk di salah satu sofa yang ternyata lebih empuk daripada dugaannya sambil berbincang ringan dengan Pak Baratajaya. Rupanya Mbak Erin, anak sulung keluarga Baratajaya, sudah empat tahun ikut suaminya berdomisili di Swedia. Sehari-hari rumah besar ini hanya dihuni oleh Alaric, kedua orang tuanya, dan beberapa asisten rumah tangga.
Pak Baratajaya sudah menjelang usia pensiun; sementara kegiatan sehari-hari Bu Baratajaya adalah mengurus yayasan sosial bersama rekan-rekannya. Tak lama, Bu Baratajaya yang sudah berganti dengan baju yang lebih santai datang dan mengajak mereka untuk menuju ruang makan.
Lagi-lagi Luna harus menahan napas melihat keindahan rumah keluarga Baratajaya. Ruang makan berkonsep semi terbuka dan menghadap langsung ke kolam renang. Pantulan cahaya lampu dari kolam membuat suasana di seputar ruang makan tampak begitu indah dan romantis. Luna yakin, makanan apa pun yang disajikan pasti enak jika disantap di ruang makan seindah ini. Sementara itu, di atas meja makan sudah tersaji bermacam hidangan yang tampak lezat.
“Ayo duduk, sebentar lagi Alaric pasti pulang. Ini kejutan untuk dia. Dia belum tahu ada kamu.” Bu Baratajaya tertawa kecil.
“Ooo ...”
Tak lama Luna mendengar suara yang sangat ia kenal berujar, “Ngapain lo di sini?”
Alaric berdiri tak jauh dari meja makan sambil mendelik. Luna cuma menyengir.
“Kok ngapain? Aneh sekali kamu ini. Sudah cepat cuci tangan dan duduk sini,” ujar Bu Baratajaya.
Setelah memberikan salam kepada kedua orang tuanya, Alaric duduk sambil menggerutu.
“Tadi selesai belanja, Mama punya ide untuk ajak Luna kemari. Kan kita sudah jadi keluarga. Cepat atau lambat kan Luna harus datang ke rumah ini,” tutur Bu Baratajaya sambil menyendokkan nasi dan hidangan lainnya untuk suaminya.
Luna yang melihatnya jadi salah tingkah. Mama mengambilkan makanan untuk Papa? Lalu aku harus bagaimana? Luna melirik Alaric.
Seolah bisa membaca pikirannya, Alaric berkata, “Nggak usah diambilin, gue bisa ambil sendiri.”
Ya sudah, Luna menghela napas.
Bu Baratajaya yang melihat ekspresi anak dan menantunya langsung berkomentar, “Kalian kan sudah menikah. Mungkin sekarang belum terbiasa, masih malu-malu. Sama seperti Papa dan Mama dulu. Tapi nanti lama-kelamaan malah keenakan lho diladeni istri.”
Pak Baratajaya tersenyum simpul dan melirik istrinya dengan mesra. Kedua orang tua Alaric itu berpandangan sambil saling tersenyum. Luna jadi iri melihatnya. Kok bisa ya, lain kelakuan bapak, lain pula kelakuan anak. Bapaknya mesra begitu, anaknya galak begini.
“Makan yang banyak, ya, Luna. Maaf, karena mendadak, Mama belum bisa masak untuk kamu. Kali lain kamu harus coba masakan Mama. Dijamin ketagihan.”
Luna hanya tersenyum. Diliriknya lagi Alaric yang makan dengan lahap seolah tidak ada manusia lain di ruang makan itu selain dirinya.
“Oh, ya, gimana tadi belanjanya? Sudah ketemu yang cocok?” tanya Pak Baratajaya.
“Tadi di butik lancar. Kan sudah akad nikah, hanya tinggal mendaftarkan ke KUA, jadi nggak perlu kebaya putih lagi. Tapi Luna akan memakai gaun semi-kebaya untuk acara resepsi. Mama nggak sabar melihat betapa cantiknya Luna nanti,” jelas Bu Baratajaya dengan wajah berbinar. “Tapi waktu di toko furnitur, Luna sempat bingung.”
“Bingung kenapa?” tanya Pak Baratajaya.
“Iya, Pa. Luna baru tahu ternyata rumah yang akan dibeli besar sekali,” sahut Luna.
Pak Baratajaya tertawa. “Tidak besar. Cukup itu untuk kalian berdua dan anak-anak kalian nanti.”
Alaric tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk. Luna terkikik dan takjub. Di saat sedang terbatuk-batuk, Alaric masih sempat mendelik kepadanya.
“Hati-hati. Kamu makan seperti habis puasa sepuluh hari,” tegur Bu Baratajaya sambil mengulurkan segelas air putih.
Setelah batuknya reda, Alaric bertanya, “Memang rumah yang mana sih?”
“Yang di Jalan Bahagia. Nggak terlalu besar kok. Kamarnya cuma lima.”
“Apa?” seru Alaric. “Nggak, nggak. Rumah sebesar itu too much untuk kami berdua.”
“Apanya yang too much. Satu kamar kalian, tiga kamar anak, satu kamar tamu. Sudah pas,” sanggah Bu Baratajaya.
“Nggak, nggak. Siapa juga yang mau punya anak, apalagi tiga.”
“Kok gitu sih! Papa Mama kan ingin segera punya cucu dari kalian.”
“Pokoknya, nggak!”
“Mmm ... Papa, Mama, sepertinya kami memang belum membutuhkan rumah sebesar itu,” sela Luna. “Bolehkah kalau kami cari sendiri rumahnya? Rumah mungil saja, dua kamar juga cukup. Rumah sebesar itu akan terasa sepi kalau hanya ada sedikit penghuni.”
Orang tua Alaric saling pandang.
“Ya sudah kalau kalian maunya begitu. Memang untuk pasangan yang baru menikah rumah mungil saja cukup. Apalagi kalian kan dua-duanya sibuk bekerja dan jarang di rumah,” kata Pak Baratajaya.
“Dan kami tidak akan segera punya anak,” tambah Alaric.