Sambil makan malam, urusan rumah akhirnya mencapai kata mufakat. Orang tua Alaric memilih rumah mereka yang di Jalan Tenteram untuk ditempati Alaric dan Luna. Rumah itu sudah full-furnished karena dulu sempat disewakan dan memiliki dua kamar. Luna jadi menebak-nebak ada berapa rumah milik keluarga Baratajaya.
“Nanti kamu antar Luna pulang ya,” ujar Bu Baratajaya kepada Alaric. “Atau Luna mau menginap di sini?”
“Nggak, Ma, makasih. Luna nggak bawa baju untuk kerja besok.”
“Kenapa nggak naik taksi aja sih? Ngerepotin aja. Mana rumahnya lumayan jauh,” decak Alaric.
Seketika Pak Baratajaya yang dari tadi diam memberikan ceramah bahwa Alaric adalah suami Luna dan salah satu kewajiban suami adalah memastikan keselamatan istrinya dan melindunginya dari bahaya apa pun. Ditambah dengan kata-kata sakti, “Kalian kan sudah menikah.” Alaric manyun sementara Luna menyengir.
“Apa ketawa-ketawa?”
Luna menghentikan cengirannya mendengar kata-kata Alaric.
“Alaric, kamu ini ...”
“Iya, Pa, iya. Mantu Papa akan Alaric antarin pulang. Tapi mandi dulu boleh kan ya?” Tanpa menunggu lagi, Alaric segera kabur.
“Anak itu memang begitu, kamu yang sabar ya,” Bu Baratajaya menepuk tangan Luna.
“Sudah biasa kok, Ma. Alaric memang suka asal bicara, tapi Luna tahu, hatinya baik.”
Alamaaaak, bisa besar kepala si kunyuk itu kalau tahu dia kupuji, gumam Luna dalam hati.
“Untung Alaric dapat istri yang sabar seperti kamu. Jodoh memang selalu tepat.”
Orang tua Alaric sama-sama tersenyum. Hati Luna teduh melihatnya. Sungguh beruntung memiliki mertua sebaik ini. Meskipun Alaric masih belum menerimanya, Luna merasa baik-baik saja punya Papa dan Mama mertua yang sayang padanya.
“Kamu tunggu Alaric di kamarnya aja. Ayo Mama antar.”
“Nggak apa-apa nih, Ma?” ujar Luna ragu sesampai mereka di depan pintu kamar Alaric.
Bu Baratajaya tertawa kecil. “Kalian kan sudah menikah. Kamar Alaric kamar kamu juga. Nanti kalau Alaric marah, laporin sama Mama. Ya sudah, Mama tinggal.”
Luna masuk ke dalam kamar Alaric dengan hati-hati. Kamar itu rapi untuk ukuran cowok. Suasananya serba biru. Di pojok kamar terletak lemari kaca tempat Alaric menyimpan koleksi kamera dan peralatan fotografinya. Kamar itu juga wangi. Luna tergoda untuk merebahkan diri di atas ranjang besar yang tampaknya sangat nyaman. Rasanya memang nyaman sekali hingga mata Luna mengantuk.
Dalam tidur yang lelap itu, Luna bermimpi berada di padang rumput sangat hijau. Matahari bersinar cerah dan angin semilir. Luna mengenakan gaun lebar selutut berwarna pink, warna kesukaannya. Rambutnya tergerai dan bergerak bebas tertiup angin.
Terdengar suatu suara memanggil namanya. Luna menoleh dan melihat Alaric menghampirinya sambil membawa seikat bunga cantik warna merah. Alaric berlutut memberikan bunga itu kepada Luna. Luna menerimanya penuh sukacita. Lalu mereka saling berkejaran di padang rumput yang terhampar luas sejauh mata memandang.
Gelak tawa terdengar tak henti-henti sampai akhirnya keduanya sama-sama merebahkan diri di atas rumput. Luna menatap Alaric dan Alaric balas menatapnya. Wajah mereka berdua begitu dekat. Alaric yang memakai kemeja putih longgar terlihat sangat tampan. Suaminya itu kemudian bangkit dan menempatkan wajahnya di atas wajah Luna, membuat jantung Luna berdetak luar biasa. Wajah Alaric semakin dekat ke wajahnya.
This is it, he is going to kiss me, gumam Luna dalam hati. Luna memejamkan mata dan menunggu dengan jantung berdebar. Satu, dua, tiga ... kok Alaric tidak kunjung menciumnya?
Penasaran, Luna membuka mata. Dilihatnya wajah Alaric yang masam sedang duduk di sofa memperhatikannya. Lho, kok nggak di padang rumput? Spontan Luna memutar mata mengelilingi ruangan. Ya Tuhan, ini di mana? Serta-merta Luna bangun. Astaga, rupanya ia ketiduran di kamar Alaric. Alaric bangun dari sofa dan mendekatkan wajahnya ke arah Luna persis seperti dalam mimpi tadi.
“Sudah bangun? Dasar Sleeping Beauty wannabe!”
Luna berdiri dari ranjang dan merapikan rambutnya yang berantakan.
“Kali lain kalau mau berubah pikiran kasih tahu. Katanya nggak mau menginap tapi ini malah tidur di kamar orang. Tuh kamar tamu masih banyak. Make up your mind, mau menginap atau pulang? Sudah jam berapa ini?”
Luna melirik jam tangannya. Ya ampun, sudah hampir jam dua belas malam. Berarti ia tertidur cukup lama.
“Maaf. Aku mau pulang ...”
“Ya sudah sana pulang,” kata Alaric ketus.
“Antarin ...” Luna merajuk.
“Dasar merepotkan!”
Tapi tak urung Alaric meraih kunci mobil dan keluar kamar meninggalkan Luna. Ia berjalan mengikuti Alaric.
“Alamat rumahku di ...”
“Sudah tahu!” potong Alaric.
Luna mengangkat bahunya. Kenapa sih Alaric selalu berkata dengan nada ketus? Tidak bisakah ia bersikap manis seperti dalam mimpi itu tadi? Tapi kali ini Luna mengaku salah tertidur di kamar Alaric. Dia pasti bete harus mengantarkan pulang tengah malam begini. Tiba-tiba Luna merasa seperti Cinderella, pulang menjelang pukul dua belas malam. Luna senyum-senyum.
“Kenapa senyum-senyum sendiri? Gila?” tegur Alaric ketus.
Luna menoleh ke arah Alaric yang sedang mengemudi di sampingnya. Ternyata Alaric lebih cakep dilihat dari samping. Hidungnya mancung. Wah, suamiku ini tampan sekali, batin Luna.
“Rumah yang akan kita tempati nanti dekat dari rumah kamu?” Luna mencoba membuka pembicaraan.
“Hmm ...” sahut Alaric pendek.
“Berarti dari kantor kamu nggak terlalu jauh?”
“Hmm ...”
“Ada halaman belakangnya ya? Berarti aku bisa mencoba menanam bunga dan sayuran.”
“Hmm ...”
Semua ucapan Luna hanya ditanggapi seperti itu oleh Alaric. Lama-lama Luna kesal dan memutuskan untuk diam dan mengamati jalanan. Tak lama terdengar handphone Alaric berbunyi.
“Hai,” suara Alaric lembut menyapa si penelepon.
Luna memutar kepalanya memperhatikan Alaric. Siapa yang telepon malam-malam begini? Kenapa Alaric berubah menjadi selembut itu?
“Oo ... ini masih di jalan, lagi antar teman pulang,” ucap Alaric.
Luna membelalakkan matanya. Teman? Teman barusan Alaric bilang? Sial! Aku lebih buruk daripada lagu “Kekasih yang Tak Dianggap”. Aku adalah istri yang tak dianggap, pikir Luna kesal.
“Nanti aku telepon kamu lagi ya. Bye,” Alaric mengakhiri pembicaraan.
“Siapa itu?”
“Mau tahu aja,” sahut Alaric kalem.
“Kenapa aku dibilang cuma teman? Kita ini kan sudah menikah,” protes Luna.
Boleh dong protes, pikir Luna. Bagaimanapun Alaric adalah suaminya dan ia tak rela menyandang status istri yang tak dianggap.
Alaric mendecak. “Jangan lo pikir pernikahan sialan ini akan serta-merta membuat lo bebas ngatur gue mau ngapain dan mau tahu urusan gue!” ujar Alaric tajam.
Luna hanya diam. Otaknya sibuk berpikir. Penelepon tadi pasti perempuan. Nggak mungkin Alaric berbicara selembut itu kalau tidak dengan perempuan. Lalu tadi Alaric menggunakan kata “kamu”? Sedangkan dengannya Alaric menggunakan kata “lo”? Ya ampun!
“Udah sampai,” tegur Alaric.
Luna turun. Sebelum menutup pintu ia bertanya, “Kamu langsung pulang?”
“Nggak, gue mau ronda.”
Luna terkikik. “Ya udah, makasih. Kamu hati-hati ya,” ucap Luna sebelum menutup pintu mobil.
Alaric meninggalkan rumah Luna. Beberapa saat kemudian ia meraih handphone-nya dan menekan sebuah nomor.
“Rosi, kamu di mana? Aku ke sana.”
***
Suara musik tempo cepat terdengar memenuhi ruangan. Alaric memutar mata ke sekeliling. Senyumnya merekah melihat seorang gadis menghampirinya dan kemudian menghambur ke pelukannya.