BAB 5

1651 Words
Luna menggeliat. Perlahan ia membuka mata. Samar tercium aroma bunga memenuhi kamar hotel yang dihias demikian cantik menjadi kamar pengantin. Luna mencoba menggerakkan kakinya. Rasanya begitu nyaman sewaktu kulit kakinya yang terbuka bersentuhan dengan sprei selembut beludru. Kaki Luna capek sekali. Demikian juga badannya. Rasa sakit terasa di setiap inci tubuh. Siapa yang tak capai berdiri berjam-jam menyalami tamu sebanyak kira-kira empat ribu kali dua. Wajah Luna juga terasa kaku karena harus tersenyum sepanjang acara. Tapi Luna bahagia. Pesta semalam benar-benar indah, bahkan lebih indah daripada yang berani ia impikan. Orang tuanya, orang tua Alaric, dan seluruh keluarga tampak sangat bahagia juga. Luna tersenyum dengan hati berbunga. Rasanya ia masih tidak percaya bahwa saat ini dirinya sudah berstatus menikah dan jadi seorang istri. Padahal sebelum ini ia sudah lama menyandang status single. Ia dan Alaric pun tidak pacaran, malah selama ini mereka seperti kucing dan anjing tiap kali bertemu. Luna biasanya mencari-cari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Alaric atau setidaknya menghubungi Alaric via telepon atau WA. Sebaliknya, Alaric hanya bersikap manis kalau ada perlu. Di luar itu Alaric lebih sering sinis. Alaric amat berbeda dengan Natha, yang di balik sikap cuek dan kalem yang ia tampakkan sebenarnya ia ramah, hangat, dan siap membantu. Mereka bekerja di perusahaan berbeda tapi masih satu grup. Kebetulan Luna dan Fanya juga bekerja pada grup perusahaan yang sama. Divisi tempat Luna dan Fanya bekerja pun sama dengan divisi yang ditempati Alaric dan Natha. Karena pekerjaan itu pula mereka kenal. Lantaran masih satu grup, kadang mereka harus bekerja sama. Sebenarnya hanya Luna yang sering berhubungan dengan Alaric dan Natha, tapi kadang Luna juga melibatkan Fanya supaya ia setidaknya punya modus untuk say hello ke Natha. Oh, iya, mana ya Alaric Baratajaya yang kini sudah jadi suaminya itu? Luna geli sendiri membayangkan kalau-kalau ia harus memanggil Alaric dengan sebutan “Mas” atau “suamiku” atau “sayang”. Mungkin dia sedang mandi. Luna bangkit dan meraba-raba mencari handphone-nya yang semalam ia selipkan di bawah bantal. Setelah ketemu, ternyata banyak sekali ucapan selamat yang masuk baik via SMS, DM, WA, dan berbagai media sosial yang ia punya. Luna membaca ucapan itu satu per satu sambil tertawa-tawa. Lalu ia menekan nomor telepon Fanya. “Halo Nyonya Alaric Baratajaya, selamat pagi ...” sapa Fanya. “Halooo ... Eh, gimana sama Natha semalam?” Semalam Luna sebisa mungkin mendekatkan Natha dan Fanya. Segala macam alasan digunakan mulai dari foto bersama, jadi pendamping pengantin, hingga minta Natha menemani Fanya ambil kipas yang tertinggal di kamar. Padahal itu semua hanya modus. Luna tak akan pernah lupa, gara-gara mencomblangkan Fanya dan Natha-lah ia sekarang bisa menikah dengan Alaric. “Kok malah nanyain gue sama Natha? Lo sendiri gimana semalam? Sudah ngapain aja?” Fanya mengakak. “Apanya yang gimana?” “Ya semalam, lah. Udah ngapain aja sama suami?” “Ya tidurlah. Capek tahu berdiri beberapa jam.” “Tidur? Terus ngapain?” “Nggak ngapa-ngapain kok, kami langsung tidur.” “Serius lo?” Fanya terdengar tak percaya. “Sebelum tidur kalian nggak ngapa-ngapain dulu gitu?” “Tentunya ngapa-ngapain.” “Apaan tuh?” seru Fanya. “Hmm ... ganti baju, hapus make up, mandi, cuci kaki, terus bobok.” “Ahhh nyebelin! Serius lo nggak berbuat yang aneh-aneh sama Alaric? Ceritain dong.” Luna tertawa geli. “Helloooo ... lo mikir apa? Ini masih pagi Nona Fanya. Malam pengantin gue nggak seperti yang lo bayangin. Gue langsung tidur. Gue tepar.” “Ah, nggak seru,” Fanya mendengus. “Pantas lo udah bangun. Terus sekarang Alaric di mana? Kok lo malah telepon gue?” “Nggak tahu, mungkin mandi,” sahut Luna pendek. “Istri teladan sekali. Baru sehari sudah nggak tahu suami ada di mana.” Luna tertawa. “Ya udah, gue mau mandi dulu terus sarapan. Bye.” Luna menutup telepon dan berdiri dari ranjang. Ia menuju meja rias dan membuka satu kotak cantik berisi lingerie hadiah Mbak Erin. Lingerie itu sangat bagus, penuh renda, berwarna ungu muda, dan sangat menggoda. Luna tertawa geli. Sayang sekali malam pengantin ini tak seperti malam pengantin umumnya. Lagi pula mana berani ia pakai baju seseksi itu di depan Alaric. Membayangkan saja pipi Luna menghangat menahan malu. “Sudah bangun lo, Sleeping Beauty wannabe. Nggak di kamar hotel, nggak di kamar orang, hobinya molor.” Luna menatap Alaric yang hanya mengenakan bathrobe putih. Air menetes-netes dari rambutnya yang basah. Dengan penampilan seperti itu, Alaric yang berkulit terang tampak sangat segar dan tampan di mata Luna. Ya ampun, my husband is such a perfect guy, Luna menahan napas. “Woi, malah diam,” tegur Alaric sambil melambaikan tangan. “Kan aku capek, wajar kalau bangun siang,” jawab Luna sekenanya. “Lo capek? Gimana gue? Semalaman gue tidur di sofa.” “Kenapa nggak di kasur?” Alaric mendengus. “Lo tuh nguasain kasur seenaknya. Gerak kanan kiri, gue ketendang-tendang. Nggak nyadar lo ya?” “Maaf ...” “Lagian siapa juga yang mau tidur seranjang sama yang bukan mahram.” “Bukan mahram gimana?” protes Luna. “Ah sudah berisik. Mandi sana cepatan. Habis itu kita sarapan. Gue lapar,” tukas Alaric. Luna pergi ke kamar mandi sambil mengerucutkan bibirnya. Ternyata dalam waktu kurang dari 24 jam Alaric sudah kembali ke sifat aslinya. Ke mana Alaric yang manis semalam? Bukan mahram dia bilang? Dasar orang aneh! *** Setelah sarapan dan check out, Alaric dan Luna melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikut. Bali? Bukan. Lombok? Salah. Luar negeri? Aduh, itu hanya ada dalam mimpi. Lalu ke mana? Ke Jalan Tenteram, rumah mereka. Tidak ada bulan madu layaknya pasangan pengantin baru umumnya. Padahal Mbak Erin ingin mengundang mereka berdua ke Swedia. Tapi tawaran itu ditolak Alaric. “Sedang banyak project, nggak bisa cuti lama,” begitu Alaric berkilah. Dasar suami nggak asyik. Sebenarnya Luna mau, tapi kalau Alaric sudah bilang begitu, Luna bisa apa. Mamanya berpesan, setelah menikah, yang dikatakan oleh suami ibarat sebuah titah; itu adalah wujud bakti seorang istri. Apa yang dikatakan suami asalkan tidak melanggar aturan agama, wajib dituruti, begitu pesan Mama. Jadi, kalau Alaric sudah bilang tidak ada bulan madu, Luna harus menurut bukan? Tidak apa-apa, kali lain juga bisa, pikirnya menghibur diri. “Home sweet home!” teriak Luna gembira sambil membuka pintu. Dengan langkah ringan ia masuk ke tiap ruangan yang ada. Rumah mungil mereka punya 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 ruang makan yang menyatu dengan dapur, dan 2 kamar mandi. Di bagian belakang rumah terdapat tempat untuk mencuci dan menjemur baju serta sebidang halaman yang rencana akan menjadi lahan percobaan Luna untuk menanam sayur dan bunga. Rumah bergaya minimalis satu lantai itu sebagian besar didominasi warna putih dengan sentuhan pink pada beberapa perabot atau pajangan dan hiasan stiker kupu-kupu yang ditempelkan di dinding ruang keluarga. Sesuai dengan nama jalan tempat rumah ini berada, Luna langsung merasa tenteram begitu memasuki pintu utama. Luna memasuki kamar dan langsung merebahkan diri. Rasa capai karena acara semalam masih tersisa. Sambil merebahkan diri, Luna mengamati setiap sudut kamar yang tertata apik dan menikmati wangi pengharum ruangan yang disemprotkan oleh mesin otomatis. Ranjangnya besar dengan kualitas super; sekuat apa pun ia loncat-loncat tampaknya pegasnya tetap akan bandel. Bantal dan gulingnya empuk. Spreinya sangat halus dan bed cover-nya dilapisi busa tebal. Pasti enak sekali menggulung diri di balik bed cover itu kala hari hujan. Luna terharu, mama dan mama mertuanya benar-benar sudah mengubah rumah ini bagai surga. Tak lama Luna pun tertidur. Luna terbangun menjelang pukul tujuh malam. Ia masih asing dengan rumah barunya sehingga sesaat setelah membuka mata ia merasa kaget. Dalam satu hari ini sudah dua kali ia terbangun di kamar yang terasa bukan kamarnya. Luna melangkahkan kaki ke luar kamar dan memanggil-manggil nama Alaric. Rupanya Alaric sedang menonton TV di ruangan keluarga. “Sleeping Beauty wannabe sudah bangun rupanya,” sapa Alaric sinis. Luna tersenyum. Ia sudah mulai terbiasa dengan panggilan Sleeping Beauty wannabe. Ternyata diam-diam Alaric punya panggilan sayang untukku tapi gengsi untuk mengakui, pikir Luna sambil terkikik. “Lo punya hobi lain nggak selain molor dan ketawa sendiri?” sindir Alaric. “Masak misalnya?” “Masak?” “Iya masak. Jangan bilang lo nggak bisa masak?” Alaric mengernyit. “Bisa sih kalau cuma bikin telur ceplok,” sahut Luna asal. “Whatever. Sementara tadi lo molor, gue ke supermarket beli beras dan lain-lain, tuh ada di dapur dan sebagian gue taruh di kulkas. Lo lihat aja apa yang bisa lo masak untuk malam ini.” Ya ampun, minta istri masak kayak nyuruh pembokat, batin Luna. “Kenapa harus masak sih? Aku masih capek. Kita beli aja ya,” pinta Luna. Alaric memandang Luna dengan tatapan meremehkan. “Jadi lo emang nggak bisa masak? Ckckck ...” “Bisa, tapi nggak sekarang.” Alaric menghela napas. “Luna, dengar ya. Gue dari tadi pergi ke supermarket lalu menonton TV sambil nahan lapar, nungguin lo bangun, dan sekarang lo nggak mau masak? Istri macam apa lo!” Aiiissshhh si kunyuk ini, kayak dia paling benar aja. Dia nyuruh istri kayak nyuruh pembokat, suami macam apa dia, rutuk Luna dalam hati. “Lo tahu, nyokap gue sesibuk apa pun selalu nyempatin masak untuk keluarga, meskipun cuma satu masakan. Let's say ada tiga hidangan, minimal satu dari hidangan yang tersedia itu nyokap gue yang masak. Gue juga kalau nggak ada halangan atau ada acara pasti makan di rumah. Jadi gue mau lo juga bisa kayak nyokap gue. Itu salah satu kewajiban istri.” “Terus kewajiban kamu sebagai suami apa?” “Ngabisin masakan yang dibuat istri meski rasanya nggak enak.” Luna tergelak. Kunyuk ini belajar ngeles di mana. Ada aja jawabannya. “Mana ada kewajiban istri kayak gitu. Ya udah kalau gitu akan kusediakan tiga hidangan: nasi putih, kerupuk, sama telur ceplok. Setidaknya satu hidangan, yaitu telur ceplok, aku yang masak,” jawab Luna nggak mau kalah lalu berlalu ke dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD