Kulkas rupanya sudah penuh dengan berbagai bahan makanan. “Ya ampun, si kunyuk ini mau kasih makan orang sekelurahan apa, belanja banyak banget,” Luna geleng-geleng kepala. Diambilnya beberapa butir telur, sekaleng jamur, dan sayuran. Ia mau bikin omelet jamur dan tumis sayur campur jamur saja—yang cepat. Di dalam rice cooker ia lihat sudah ada nasi yang baru matang. Rupanya si kunyuk tahu juga cara menanak nasi, pikirnya kagum.
“Ayo makan,” ajak Luna setelah semua makanan terhidang di meja makan.
Alaric mengamati satu per satu makanan. Diam-diam dia memuji Luna dalam hati. Rupanya si Sleeping Beauty tahu juga cara memasak meski entah rasanya gimana.
“Ini nggak akan bikin gue sakit perut kan?” tanya Alaric dengan ekspresi seolah dia harus memakan makanan basi.
“Nggak, paling langsung mati,” jawab Luna cuek.
Luna tertawa melihat Alaric mendelik ke arahnya. “Mau diambilin atau ...?” Luna sengaja menggantung kalimatnya.
Alaric berpikir sejenak. Wah, ini sudah mulai kayak rumah tangga beneran. Kalau diambilin makanan enak sih, tapi kok rasanya rumah tangganya jadi serius. Kalau nggak diambilin, ya nggak apa-apa juga.
“Gak usah, gue ambil sendiri.”
“Ya sudah.”
Alaric menyendok hidangan dan mulai makan. “Jadi, gimana rasanya?” tanya Luna sambil memperhatikan Alaric yang makan tanpa bicara.
“Lumayan.”
Luna cuma mengangkat bahu. Sudah capek memasak, tanggapannya cuma itu. Ya sudah, yang penting si kunyuk nggak mengomel karena keasinan atau nggak enak. Entah beneran lumayan atau apa, Alaric menghabiskan semua hidangan yang tersedia. Luna jadi senang.
“Lo mau ngapain?” tanya Alaric melihat Luna mengangkat piring setelah makan. “Mau cuci piring.”
“Nggak usah,” larang Alaric. “Itu bagian gue. Lu kan udah masak, gantian gue yang cuci piring.”
Luna terperangah. Tidak salahkah yang barusan ia dengar? Si kunyuk sombong ini mau cuci piring? Kok dia mendadak jadi baik? Jangan-jangan ada maunya.
“Emangnya bisa?”
Alaric mendengus. “Ya bisalah. Emang lo pikir gue anak manja? Gini-gini juga gue biasa bantuin nyokap. Udah sana lo nonton TV aja.”
“Terserah deh.” Luna lalu duduk memperhatikan Alaric mencuci piring.
“Ngapain lo masih di situ?”
“Lihatin kamu cuci piring.”
“Sana-sana, nonton TV. Lo gangguin aja,” usir Alaric.
“Gangguin apaan, kan cuma lihat.”
“Sana pergi cepatan,” usir Alaric lagi dengan wajah serius.
“Grogi ya dilihatin, haha ...” Luna tertawa lalu pergi sebelum Alaric semakin marah.
***
Luna pergi ke kamar dan menelepon Vanna menceritakan kejadian sepanjang hari ini sekaligus menanyakan perkembangan hubungannya dan Natha. Sayang sekali, kata Vanna, Natha belum juga melakukan gerakan apa-apa pasca-pesta pernikahan Alaric dan Luna. “Ya elah, baru juga kemarin,” pikir Luna. Lagipula berbeda dengan Alaric yang pecicilan dan banyak gaya, Natha tipe cowok tenang yang nggak banyak omong. Sifatnya dengan Alaric bagaikan bumi dan langit. Kalau Alaric seperti api yang selalu meletup-letup, Natha laksana air yang mendinginkan. Mungkin karena itulah mereka cocok sebagai sahabat lantaran bisa saling melengkapi.
Sebenarnya tipe cowok seperti Natha yang menjadi tipe Luna. Ia selalu suka cowok kalem yang nggak pecicilan, tapi kenapa malah dapat jodoh Alaric yang banyak tingkah, suka caper, sekaligus mudah baper. Tapi ya sudahlah. Secara fisik, Alaric adalah tipe Luna; cakep, putih, tinggi, dan atletis karena rajin olahraga. Andai saja sifat Natha digabungkan dengan fisik Alaric, dia akan menjadi pria yang sangat luar biasa. Tapi Alaric yang sekarang juga nggak apa-apa. Untuk Luna, Alaric sudah sempurna.
Obrolan Luna dan Vanna terhenti saat Alaric masuk kamar. “Nggak capek lo telepon dua jam? Cekikikan lagi. Entar sama tetangga dikira kuntilanak. Udah jam berapa ini.”
“Aish, si kunyuk ini, nggak bisa apa nggak komentar,” rujuk Luna dalam hati.
“Kenapa? Laki lo udah ngajak bobok ya? Hahaha ...” Vanna menggoda.
“Apaan sih lo. Biasa, dia suka caper,” ujar Luna sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Alaric.
“Kenapa pakai bisik-bisik?” tegur Alaric.
Aish, mau tahu aja!
“Udah dulu ya. Ada yang baper. Bye.” Luna menutup telepon.
“Kamu nggak mau tidur?” tanya Luna.
“Menurut lo?” Alaric balik bertanya. Alaric mengambil selimut dari lemari.
“Kamu mau ke mana?”
“Tidur.”
“Tidur di mana?”
“Di kamar sebelah.”
Kamar sebelah? Kepala Luna mendadak pening. “Gue yang bego atau apa ya? Kenapa Alaric mau tidur di kamar sebelah?”
“Kenapa nggak di sini?”
“Kan gue udah bilang, siapa juga yang mau tidur seranjang sama yang bukan mahram,” jawab Alaric sambil ngeloyor pergi.
“Aish, nyebelin banget! Tadi ceramah tentang kewajiban istri memasak bla bla bla ... sekarang dia bilang aku bukan mahram dia. Itu kunyuk otaknya kebalik-balik,” gerutu Luna.
Wajah Alaric muncul lagi dari balik pintu kamar. “Oh ya, besok bangunnya pagian. Lu kan harus bikinin gue sarapan.”
***
Selamat hari Senin. Hari ini Luna dan Alaric sudah sama-sama kembali bekerja. Hanya ada jeda satu hari libur setelah pesta pernikahan mereka yang megah. Padahal ada hadiah paket wisata ke Derawan selama lima hari dari salah satu kolega Pak Anobimo, tapi Alaric menolak untuk pergi. “Nanti saja, masa berlakunya kan masih lama,” begitu alasan Alaric.
Ketika Luna meminta izin untuk menggunakannya untuk pergi berlibur bersama Vanna, Alaric malah menjawab dengan nada ketus, “Kalau masih mau bebas ke mana-mana sendiri, tidak usah menikah.” Ya ampun, manusia yang satu ini susah sekali disuruh berkata-kata dengan cara yang manis. Mungkin dia harus dikirim ke sekolah kepribadian.
“Lo kasih makan gue telur lagi? Lama-lama gue bisa bertelur,” Alaric berkomentar melihat telur ceplok terhidang saat sarapan.
Pagi itu Luna bangun kesiangan. Ia hanya sempat menggoreng telur, lalu menghidangkannya bersama nasi sisa semalam. Luna belum terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Biasanya semuanya sudah disiapkan mamanya. Lalu, tadi ia lupa membubuhkan garam, jadi telur ceplok itu pun pasti hambar. Meski begitu, Alaric menyantap sarapan seadanya itu tanpa komentar tambahan. Rupanya dia menepati kata-katanya untuk menghabiskan makanan yang dibuatkan Luna sekalipun nggak enak.
“Gue kasih tahu jadwal harian gue mulai besok,” ucap Alaric di sela-sela mengunyah makanan. Luna menyimak.
“Pagi jam 05.30 gue nge-gym di ruko depan kompleks. Biasanya gue nge-gym sepulang kerja bareng Natha, tapi kasihan lo kalau ditinggal di rumah sendirian, ya kan. Jadi gue nge-gym-nya pagi aja. Habis itu gue pulang, mandi, dan sarapan di rumah. Gue nggak rewel soal makanan. Lo masak gosong juga gue makan, tapi jangan tiap hari makan telur, nanti kolesterol. Gue antar lo ke kantor, pulangnya lo bareng Vanna kan?”
Luna mengangguk. Arah rumah Vanna dan rumah mereka memang searah.
“Pulang kerja gue akan langsung pulang, kecuali ada urusan. Lo kalau mau pulang telat kasih tahu gue, gue juga kalau telat kasih tahu lo. Gue makan malam di rumah. Terserah lo masak apa, yang penting gue makan di rumah. Oh ya, gue nge-gym Senin, Selasa, Kamis, Jumat. Ada pertanyaan?”
Luna nyaris tertawa. Alaric bicara seolah sedang memberi kuliah. “Ada pertanyaan? Hahaha ...” Rupanya begini menikah tanpa pacaran. Karena tidak tahu sifat dan kebiasaan masing-masing, jadi perlu sesi tanya jawab macam ini.
“Ada pertanyaan?” ulang Alaric.
“Kamu nggak mau tahu jadwal harian aku?” Luna balik bertanya.
“Asal lo nggak macam-macam, semua terserah lo.”
“Nggak macam-macam maksudnya gimana?”
“Asal lo nggak ngelakuin semua hal yang nggak pantas dilakukan seorang istri, semua terserah lo.”
“Macam-macam contohnya apa?”
“Selingkuh!” Alaric memberikan penekanan pada kata yang baru diucapkannya sambil menatap Luna lekat-lekat.
Luna mencibir. Selingkuh? Selingkuh sama apa? Kambing? Sebelum nikah aja aku menyandang predikat jomblo menahun, gumam Luna dalam hati.
“Ada pertanyaan lain?”
“Hmm ... kalau aku bisanya cuma goreng-gorengan gimana? Kan kamu nggak mau makan telur tiap hari,” Luna sengaja memancing.
“Sudah gue duga,” desis Alaric. “Kalau gitu gantian; hari ini telur, besok tahu, besok tempe, besoknya lagi nugget, besoknya lagi apa gitu yang cuma tinggal goreng. Asal cuma menggoreng, lo pasti bisa kan?”
“Aku juga bisa kalau merebus mi instan.”
“Itu opsi terakhir!”
“Memang nanti kamu nggak bosan tiap hari makan 3T (tahu, tempe, telur) goreng tanpa diselingi makanan lainnya?”
“Kalau memang lo bisanya itu ya nggak masalah.”
Halah, si kunyuk sok bijak. Awas ya nanti kukasih makan 3T tiap hari. Melempem kamu kurang gizi gimana? Nanti aku dimarahi Mama.
Alaric menatap Luna dengan pandangan mulai senewen. Ini anak benar-benar atau cuma iseng?
“Kurang gizi bisa minum vitamin.”
“Kalau misalnya tahu atau tempenya gosong nggak apa-apa?”
“Lo kebanyakan tanya. Sudah cepatan makan, nanti telat,” tukas Alaric.
“Tadi katanya suruh tanya.”
“Nanti malam tanya lagi. Ayo cepatan.”
Luna tertawa dan cepat-cepat menghabiskan sarapan. Dasar kunyuk nggak konsisten!