BAB 8

1021 Words
“Lo punya nomor telepon Dwidaya Advertising? Gue butuh nih,” Fanya muncul di depan ruangan Luna. “Nggak ada. Coba tanya ke Natha deh. Dia pasti punya.” “Kenapa lo nggak tanya sama Alaric aja? Dia juga pasti punya.” “Malas,” sahut Luna pendek. “Yah ... kok gitu. Masa gue yang tanya ke Natha. Lo tahu sendiri gue suka grogi dan salah tingkah tiap ngobrol sama dia,” desak Fanya. “Kalau lo gitu melulu, kapan lo bisa jadian sama dia? Nggak kasihan sama gue yang terus-terusan jadi modus?” Luna mencari nama Natha di handphone-nya dan menekan tombol call. “Halo Luna, ada yang bisa dibantu?” sapa Natha ramah. “Hai ... ini ada cewek cantik mau bicara.” Luna menyerahkan handphone-nya kepada Fanya. Fanya menerima ponsel Luna sambil mendelik. Mereka berdua lalu bicara. Luna memperhatikan sambil tertawa-tawa. Sungguh lucu melihat Fanya salah tingkah padahal mereka hanya bicara di telepon. Sejenak Luna lupa akan rasa sedih yang ia rasakan semalam. “Ciyeee yang baru ngobrol sama kecengan.” Fanya tersipu-sipu. “Natha itu emang so sweet banget ya. Dia bahkan nanya apa ada yang dia bisa bantu, padahal ini nggak ada hubungannya sama dia,” ujar Fanya. “Natha emang gitu. Dia itu baik banget, beda sama sahabatnya, yaitu Alaric Baratajaya yang sombong itu.” “Hush, suami sendiri dikatain. Dosa lho,” tegur Fanya. Luna mengangkat bahu. “Oh ya, kayaknya lo ada pergi ke meeting regional di Palembang ya? Asyik banget.” “Kenapa? Lo mau gantiin gue?” tanya Luna. “Bukan gitu, tapi emang boleh sama suami lo pergi seminggu? Bisa kalang kabut dia,” Fanya berkata tanpa menyadari perubahan raut wajah Luna yang tiba-tiba muram. “Nggak masalah. Nggak ada gue juga dia nggak apa-apa.” “Ya pasti apa-apalah. Dia udah biasa ada yang nyiapin sarapan, nyiapin baju, dan lain-lain. Gitu kata bokap gue kalau ditinggal nyokap pergi satu atau dua hari. Apalagi ini seminggu.” “Sarapan dia bisa beli. Baju bisa dikasih ke laundry.” Mungkin dia malah bisa bebas berkencan dengan perempuan jago kissing itu, batin Luna nelangsa. Kata-kata Alaric semalam begitu dalam menghujam hatinya. Alaric melirik Luna yang menyantap makan malam dalam diam. Sudah sejak tadi pagi Luna bisu. Alaric tahu Luna sedang marah. Semalam, sewaktu meninggalkan Luna untuk masuk kamar, Alaric sempat menangkap sembab di mata Luna. Lalu dia mendengar isak setelah Luna masuk kamar. Dia tahu, dia salah sudah berkata sekasar itu kepada Luna dan dia merasa buruk telah membuat Luna meneteskan air mata. “Bisa tolong ambilkan perkedelnya?” Alaric memecahkan kebisuan. Luna mengambil satu perkedel dan meletakkannya di piring Alaric tanpa kata. Alaric mengembuskan napas. Ini kali pertama Luna diam sejak menikah. Biasanya Luna selalu merespons apa yang Alaric katakan sekalipun hanya dengan tawa. Tapi Alaric bersyukur, meski sedang marah Luna tetap mau menyiapkan makanan dan segala kebutuhannya. Itu artinya, Luna tidak benar-benar marah. Selesai makan, Luna masuk kamar. Ia mengambil laptop lalu mulai menyiapkan presentasi untuk meeting di Palembang esok lusa. Sedang asyik mengetik, terdengar suara Alaric memanggil dari ruang keluarga. Luna tidak menanggapi tapi Alaric terus memanggil-manggil. “Ke sini dong, temani gue nonton TV.” Dengan malas Luna keluar dari kamar. “Apa?” jawab Luna sambil cemberut. Alaric lega. Akhirnya Luna bersuara meski wajahnya masih terlihat bete. Hanya gara-gara minta cium Luna jadi begini. Alaric merasa lucu. “Temani nonton.” “Aku lagi sibuk.” “Sibuk apaan?” “Siapin presentasi.” “Presentasi kan bisa lo siapin besok. Sekarang temani gue nonton.” “Tapi aku beneran lagi sibuk.” “Lo susah banget ya cuma diminta nemanin suami nonton, gimana disuruh yang lain?” “Iya, iya,” akhirnya Luna mengalah. “Gitu dong,” Alaric tersenyum penuh kemenangan. Luna duduk di samping Alaric dengan wajah kesal. “Lo cemberut melulu entar keriput lo nambah.” “Emang kamu peduli kalau aku keriput?” “Ya peduli lah, entar gue malu kalau keluar bawa istri jelek keriput.” “Ya sudah cari aja istri lain.” Perempuan yang semalam misalnya, yang biaya ke salonnya mungkin lebih besar daripada gajiku satu tahun, lanjut Luna dalam hati. “Ngomong apa sih? Jangan sembarangan kalau ngomong,” tegur Alaric. Luna hanya menatap lurus ke arah televisi yang entah menyiarkan apa. Pikirannya kini tidak ada di sini. Pikiran Luna kembali melayang ke kejadian semalam. Apa salah jika ia cemburu? Alaric kan suaminya. Dan itu berarti ia berhak cemburu? Ia sadar, ia memang tak sebanding dengan perempuan itu. Soal kecantikan ia jelas kalah telak, belum soal lain-lain. Pantas saja Alaric berkata dirinya dan perempuan itu tak bisa dibandingkan. Itu benar dan itu membuat Luna sedih sekaligus sakit hati. “Lo nyiapin presentasi apaan?” “Buat ke Palembang.” “Hah? Emang lo mau ke Palembang?” tanya Alaric kaget. Luna mengangguk. “Kok lo nggak bilang?” “Ini bilang.” “Maksud gue kenapa nggak bilang sebelumnya?” “Lupa,” sahut Luna pendek. “Belum tua kok udah pikun,” gerutu Alaric. “Kapan?” “Lusa.” “Berapa hari?” “Seminggu.” “Seminggu?!” “Iya seminggu. Nggak usah teriak-teriak kenapa. Lebay sekali.” “Lo mau ke Palembang seminggu dan lo baru kasih tahu gue sekarang? Untung gue tanya, kalau nggak tanya, lo nggak akan kasih tahu gue?” “Lebay sekali. Kayak aku mau pergi setahun aja,” sahut Luna cuek. “Seminggu itu lama tahu. Siapa entar yang siapin sarapan gue, makan malam gue, baju gue, yang nyapu rumah, yang nyuci baju?” “Pinjam aja pembantu Mama,” jawab Luna sekenanya. “Lo ini bisa-bisanya nanggapi hal begini dengan santai,” decak Alaric. “Terus siapa yang nemanin gue nonton TV? Lo tuh harusnya sebelum pergi minta izin dulu sama suami, bukannya kasih tahu mendadak begini.” “Sudah dibilangin, aku lupa.” “Dasar pikun. Ya sudah sana pergi yang jauh. Setidaknya selama seminggu gue bebas dari masakan nggak enak lo.” Luna cemberut dan pergi ke kamarnya. Dasar Alaric kunyuk. Kapan-kapan kopinya kumasukin bumbu sianida supaya si sombong itu tahu rasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD