BAB 9

1264 Words
“Aku sudah sampai,” ujar Luna lewat telepon sesampai ia di Palembang. “Cepatlah pulang,” jawab Alaric. “Ini juga baru turun pesawat, Bus.” Si kunyuk mulai lebay sekali. “Pokoknya cepat pulang. Gue udah nggak betah makan masakan restoran yang enak. Lidah gue sudah mati rasa sejak sering makan masakan aneh dan gosong buatan lo.” “Tapi habis juga kan,” balas Luna nggak mau kalah. “Daripada lapar!” “Ngakuin masakan istri enak aja susah banget.” “Pokoknya lo cepat pulang. Ingat, jangan macam-macam sama cowok lain di Palembang!” “Bukannya kamu yang macam-macam?” Bayangan perempuan cantik itu kembali melintas di kepala Luna. “Enak aja. Dengar ya, gue berani bersumpah, cakep-cakep gini gue suami setia. Lo harus bersyukur punya suami cakep dan setia kayak gue.” Luna tergelak. Si kunyuk ini selalu PD-nya tingkat dewa. “Malah ketawa dikasih tahu. Lo kabari gue minimal tiga kali sehari.” “Emangnya minum obat?” “Pokoknya gue bilang minimal tiga kali!” “Iya, cerewet. Udah dulu ya, udah mau ditinggal sama yang lain.” Luna mengakhiri pembicaraan. Sebelum menutup telepon, Alaric masih sempat berkata, “Cepat pulang!” Cepat pulang? Mendarat aja belum ada sepuluh menit. *** “Kesepian ya?” Natha tertawa kecil. Alaric mengembuskan asap rokoknya. “Iya,” sahutnya kemudian. “Nggak ada teman berantem?” “He―eh,” Alaric tertawa sumbang. “Lo harus nikah dulu supaya tahu rasanya kesepian ditinggal istri, Bung Natha Gempal.” Alaric punya julukan untuk sahabatnya ini, yaitu Bung Natha Gempal. Jika Bang Rim Ceper bertubuh kurus, maka Natha sahabatnya sedikit berisi, karena itu Alaric menjulukinya Bung Natha Gempal. “Dan lo harus bersyukur sudah dikasih istri,” balas Natha. “Lo harusnya perlakuin Luna baik-baik. Bukannya ngajak berantem tiap hari.” “Haha ... itu kan bonus karena kebetulan istri gue Luna.” Alaric ingat, sejak kali pertama kenal Luna, ia dan Luna lebih sering berantem. Seperti sudah digariskan seperti itu. Tiap bicara dengan Luna, aneh kalau dia tidak menjawab ketus. Ia suka sekali melihat Luna cemberut; wajah Luna jadi lucu dan menggemaskan. Apabila perempuan lain akan berusaha bertutur kata dan bersikap jujur di depan Alaric, Luna tak begitu. Luna berkata dan bersikap apa adanya—dengan gayanya sendiri. Bila perempuan lain akan berusaha menarik perhatian Alaric, Luna cuek. Alaric jadi penasaran apakah dia tidak menarik di mata Luna. Rata-rata perempuan akan tergila-gila kepada Alaric, tapi Luna tidak. Tak pernah sekalipun Luna berbicara manja seperti perempuan lain. Luna ya begitu. Cuek, apa adanya, tapi baik. Luna suka memberi Alaric makanan kecil seperti cokelat atau kue, tapi itu pun dengan cuek. Alaric tahu, Luna baik ke semua orang. Ia juga membagi cokelat yang sama ke yang lain. Luna sungguh beda dari perempuan lain yang Alaric kenal. Kadang Luna terkesan mengabaikan Alaric atau tidak meliriknya saat mereka bertemu, maka Alaric akan berusaha mencari-cari perhatian Luna. Tak lain agar dia bisa membuat Luna cemberut. Lucu sekali. Perempuan itu juga suka tertawa sendiri dengan cara tertawa yang aneh. Berbeda dengan perempuan lain yang akan mengatur tawa sedemikian rupa agar terlihat anggun. Ia dan Luna juga tak pernah membicarakan yang di luar urusan pekerjaan, baik itu waktu tatap muka, lewat telepon, atau lewat WA dan Snipe. Itu sungguh beda dengan perempuan lain yang berusaha membicarakan hal-hal pribadi dengan Alaric. Alaric tersenyum. Kini baru terasa rumah sepi dua hari tanpa Luna. Masalah makan dan baju itu gampang, tapi rumah terasa hampa. Tak ada yang menemaninya menonton TV, tak ada yang menanggapi ucapannya dengan suara tawa yang lucu, tak ada yang membalas omelannya dengan jawaban asal tidak mau kalah, tak ada masakan Luna yang sederhana tapi membuat dia tidak lagi berselera makan di restoran, tak ada Luna si Sleeping Beauty wannabe yang suka tertidur di sofa saat menonton TV. Sepi. Hening. Alaric kembali merasa buruk teringat air mata Luna beberapa malam lalu. Ia memang suka membuat Luna cemberut tapi tidak pernah punya niat untuk membuat Luna meneteskan air mata. “Lo kangen?” tanya Natha memecah keheningan. Alaric hanya diam. “Kalau lo ngerasa kehilangan, artinya lo kangen. Ngaku aja, susah?” Alaric masih diam. Iya dia memang merasa kehilangan, merasa kesepian, tapi kangen? “Come on, Bro, sama gue lo masih malu. Gue kan udah tahu semua tentang lo.” Alaric mengembuskan napas lagi. “Iya, gue kangen,” jawab Alaric akhirnya. *** Hanya tiga hari Alaric kuat bertahan di rumah tanpa Luna. Selanjutnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua. Mungkin benar kata orang, istri bisa bertahan tanpa suami, tapi suami tak akan pernah sanggup melalui hari tanpa sang istri. Padahal rumah tangga kami cuma rumah tangga bohongan, tapi rasanya sekehilangan ini. Gimana kalau kami seperti suami-istri lainnya yang rumah tangganya berlangsung normal? pikir Alaric. “Kenapa kamu kelihatan kesal gitu?” tegur Bu Baratajaya. Sejak tadi memang Alaric berkali-kali terlihat mendecak sambil memegang handphone. “Ini si Luna, udah di-WA dari tadi nggak dibaca-baca. Kalaupun balas juga cuma singkat. Ditelepon juga nggak diangkat. Menyebalkan!” “Mungkin dia lagi sibuk. Kan lagi meeting.” “Meeting terus sampai malam. Ngabarin suami aja nggak sempat.” Pak Baratajaya tertawa. “Kangen ya?” Pak Baratajaya dan Bu Baratajaya tertawa menggoda Alaric. “Dulu waktu menikah marah-marah, sekarang baru ditinggal sebentar sudah kangen,” sambung Pak Baratajaya. “Bukan kangen, tapi bete WA nggak dibaca-baca,” elak Alaric. “Papa juga begitu kalau mamamu ke rumah Nenek. Dulu kan awal menikah mamamu juga kerja dan sering dapat tugas luar kota. Rasanya Papa tersiksa sekali menunggu di rumah. Makanya ketika kondisi ekonomi keluarga sudah stabil, Papa minta mamamu berhenti bekerja. Papa nggak kuat kalau sering ditinggal-tinggal,” Pak Baratajaya memandang istrinya dengan mesra. “Kenapa Luna nggak kamu minta berhenti kerja saja?” usul Bu Baratajaya. “Dia bisa buka bisnis sendiri nanti. Hobi Luna apa?” “Molor sama ketawa sendiri.” Ah, betapa Alaric rindu suara tawa Luna yang lucu. Kerinduan yang begitu dalam memenuhi dadanya. Jika Luna sudah pulang nanti, ia berjanji akan lebih sering membuat istrinya itu tertawa. “Maksud Mama, misalnya Luna suka memasak atau menjahit, dia bisa menekuni hobinya itu. Kita kan ada satu ruko yang belum ada penyewanya, itu bisa Luna pakai. Selain dia mengerjakan sesuatu yang dia sukai, kamu juga tenang nggak akan sering ditinggal seperti ini.” Alaric memikirkan kata-kata mamanya. Benar juga. Apa Luna berhenti kerja saja? Dalam setahun perusahaan Luna akan beberapa kali mengadakan meeting regional seperti sekarang. Aduh, nggak kebayang ditinggal Luna lagi. “Oh ya, ada salon mau dijual. Luna suka nggak kira-kira mengelola salon? Kalau mau, bisa Mama bantu nego harganya. Tapi itu juga kalau Luna setuju lho. Jangan dipaksa berhenti bekerja.” “Iya, nanti Alaric tanya dulu sama Luna.” “Berarti benar dong kamu kangen sama Luna?” goda Pak Baratajaya. “Kata siapa?” wajah Alaric mendadak merah. “Itu buktinya, kamu memikirkan Luna untuk berhenti kerja, berarti kamu nggak mau ditinggal Luna sering-sering.” “Ah, Papa ini ngarang aja.” Pak Baratajaya terbahak-bahak dan berkata lagi, “Rupanya cinta sudah mulai tumbuh di hati.” “Nggak! Siapa bilang?” bantah Alaric. Handphone Alaric berbunyi. Cepat dibacanya WA yang masuk. “Aku baru selesai meeting.” Dari Luna. Alaric segera mengetik jawaban untuk Luna. “Lama banget sih meeting sampai malam begini,” kata Alaric begitu Luna menjawab panggilan. Pak Baratajaya dan Bu Baratajaya geleng-geleng kepala melihatnya. “Sampai kapan ya, Pa, Alaric begitu sama Luna?” Bu Baratajaya menatap punggung Alaric yang menjauh mencari privasi. “Biarkan saja. Mungkin itu cara Alaric menunjukkan rasa cinta.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD