BAB 10

1162 Words
Luna melambai ke arah Alaric yang berdiri tak jauh dari tempat ia berdiri. Alaric segera menghampirinya. Senyum Luna mengembang. Rasanya ia kangen sekali dengan suaminya yang selalu jutek tapi tampan itu. Seminggu ternyata lama kalau kita berpisah dengan orang yang kita cintai. Kalau boleh, Luna ingin dipeluk dan memeluk Alaric seerat mungkin. Tapi harapan tinggal harapan, jangankan memeluk Luna, Alaric cuma berkata, “Pulang juga lo.” Luna berusaha tersenyum. Aku kira setelah aku pulang hubungan kita akan lebih baik, tapi mungkin justru kamu merasa lebih baik tanpa ada aku di sampingmu. “Sini gue bawain,” kata Alaric sambil mengambil alih troli yang didorong oleh Luna. Detiknya Luna hanya diam. Kenapa wajah Luna terlihat muram? Alaric tidak suka melihat Luna muram begitu. Ia lebih suka melihat Luna cemberut atau tertawa. “Lo sakit?” Luna menggeleng. Ia memperhatikan perempuan yang baru keluar dari pintu kedatangan yang langsung dicium dan dipeluk mesra oleh lelaki yang menjemputnya. Sebersit rasa sedih menyelusup ke hati Luna. Betapa iri ia melihat mereka. Bukankah memang begitu seharusnya jika bertemu kembali dengan orang yang dicintai? Kenapa ia dan Alaric tak bisa seperti itu? Ah ya, aku lupa, Alaric tidak mencintaiku, pikir Luna sedih. Sejak melihat Alaric bercakap-cakap dengan perempuan cantik itu, perasaan Luna jadi sensitif dan mudah sedih. “Kita mampir ke kafe ini dulu ya,” Alaric menunjuk sebuah kafe tak jauh dari tempat mereka. “Tadi sambil nunggu lo, gue pesan minuman di situ.” Luna menurut. “Lo mau pesan apa?” tanya Alaric ketika mereka sudah sampai di kafe. “Apa aja,” jawab Luna sambil matanya tak lepas dari ponselnya. “Green tea latte ya? Lo suka itu kan?” Luna mengangkat wajahnya dan menatap Alaric. “Kok kamu tahu?” “Ya ... tahu aja. Pokoknya, gue tahu,” Alaric tergagap. Aduh, keceplosan. Bisa-bisa Luna mikir gue perhatian sama dia. “Ooo ...” Luna kembali sibuk dengan handphone-nya. “WA-an sama siapa sih? Suami sendiri dicuekin.” “Ini si Fanya nanyain pesanan oleh-olehnya.” “Ooo ...” “Oh ya. Hmmm ...,” Luna tak meneruskan ucapannya. “Kenapa?” “Tapi kamu janji pegang rahasia ya?” “Apaan sih?” “Janji dulu pegang rahasia, please ...” “Iya, iya. Apaan?” “Sebenarnya Fanya suka sama Natha,” Luna terkikik. Tanpa sadar Alaric tersenyum. Akhirnya Luna tertawa juga. Betapa ia rindu suara tawa itu. “Kamu bilangin sama Natha dong kalau Fanya suka dia.” “Nggak mau, bilang aja sendiri.” “Kok gitu sih. Kan Fanya malu. Aku juga bingung gimana caranya bilang ke Natha. Kita comblangin mereka berdua yuk!” “Susah amat sih, suka sama orang ya tinggal bilang!” Luna cemberut. Alaric benar-benar menyebalkan. Sahabat macam apa itu. Padahal dia kartu as untuk bisa masuk ke Natha. “Kamu kok gitu sih. Kamu apa nggak kasihan sama Natha, dia kan sudah lama menjomblo.” “Ya kalau suka sama orang, tinggal bilang sendiri. Gue aja nggak pernah ada yang nyomblangin.” Kecuali hansip, lanjut Alaric dalam hati. “Kan kamu sahabatnya Natha, pasti lebih mudah kalau mau mempersuasi. Misalnya aja kita ngopi bareng berempat, habis itu ya terserah mereka.” “Nggak mau, gue nggak suka kopi,” tolak Alaric dengan wajah menyebalkan. Iiih ... Luna ingin menyitak Alaric saat itu juga. Hellooo ... Alaric Baratajaya kunyuk, this is not about you! Nggak suka kopi katanya? Jawaban macam apa ini? Coffee is not the point! Intinya kan gimana supaya Fanya dan Natha hang out bareng. Alaric mau minum jus kek, bandrek kek, air hujan, atau bahkan minum racun sekalipun, itu urusan dia. Tepat pada saat itu pelayan datang membawakan minuman pesanan Alaric. “Silakan Pak, iced coffee latte-nya.” Luna menatap Alaric dengan pandangan meminta penjelasan: Nggak suka kopi katanya? Terus itu apa? Dasar tukang ngibul! “Gue lagi kepingin nyobain aja. Habis nggak ada lagi minuman yang kayaknya enak,” Alaric berkilah. Sial! “Kenapa nggak pesan air keras aja, siapa tahu kamu bisa lebih cerdas dikit kalau cari alasan,” sindir Luna. “Gitu aja dibahas.” Tak lama green tea latte Luna datang, lalu mereka pun pulang. *** Rumah memang tempat yang paling indah, lebih indah daripada hotel yang paling mewah sekalipun. Luna memasuki rumah dengan hati riang. Rumahnya tampak bersih dan rapi. Luna menoleh menatap Alaric. “Kamu yang bersih-bersih?” “Bukan, Inem pelayan seksi. Ya gue-lah. Emang siapa lagi?” kata Alaric dengan nada ketus yang sudah menjadi trademark-nya. “Kok kamu baik sih,” senyum Luna mengembang. “Gue kan emang baik. Lo aja nggak pernah nyadar,” kata Alaric dengan wajah ponggah. “Gue tahu lo capek. Makanya gue bersih-bersih supaya begitu sampai rumah, lo tinggal molor.” “Ya ampuun so sweet!” Luna mendekati Alaric dan mencubit kedua pipinya. “Ih, apaan sih, ganjen banget,” Alaric berusaha menepis tangan Luna. “Makasih suamiku yang jutek tapi baik hati,” Luna tetap mencubit kedua pipi Alaric. Kemudian Luna berjalan menuju dapur. Alaric mengusap pipi sambil tersenyum kecil. Luna, lo bikin gue geer aja. Lagi-lagi Luna berdecak kagum melihat dapur yang bersih, tidak ada tumpukan piring dan gelas kotor di bak cucian. Stok makanan di dalam kulkas pun banyak. Alaric bahkan sudah menanak nasi. “Gue sudah masak nasi tuh. Kalau nggak capek, lo masak ya.” Luna tidak menjawab. “Lo capek? Ya udah kalau gitu beli aja, delivery.” “Emang kamu mau beli makanan apa?” “Nggak tahu. Nggak ada yang enak,” Alaric manyun. “Tapi kalau lo capek ya udah, terpaksa beli.” “Katanya nggak ada yang enak?” “Ya terpaksa. Daripada nggak makan,” suara Alaric terdengar kecewa. Luna tersenyum lebar. “Berarti masih enakan masakanku dong daripada beli di restoran.” “Nggak. Kata siapa enak. Masakan aneh dan gosong gitu,” Alaric berkilah. “Ahhh ... bilang aja kamu kangen masakan aku, ya kan?” Luna menatap Alaric lekat-lekat dengan pandangan menggoda. “Ya udah pokoknya lo masak deh. Telur ceplok keasinan juga nggak apa-apa,” tukas Alaric. “Hihihi. Masih aja gengsi memuji masakan istri,” Luna tertawa riang. Alaric Baratajaya ini masih saja gengsi untuk mengakui bahwa dia merindukan masakanku. Dasar tukang jaim, gengsinya kegedean. Luna meninggalkan Alaric menuju bagian belakang rumah. “Kamu udah nyuci juga?” teriak Luna dari bagian belakang rumah. “Iya, tapi gue nggak bisa nyetrika.” Luna kembali ke bagian dalam rumah dengan wajah berseri-seri. “Aku nggak nyangka kamu bisa jadi bapak rumah tangga yang baik. Makasih banyak ya Pak Alaric Baratajaya, suamiku yang nyebelin.” “Dikasih hadiah kek suaminya, ini malah dibilang nyebelin,” Alaric mengerucutkan bibirnya. Tanpa disangka-sangka, Luna berjinjit dan cup! Luna mendaratkan ciuman ke pipi kiri Alaric. Alaric kaget. Sebelum ia sempat berkata-kata, Luna sudah berlalu ke kamar mandi sambil berkata, “Aku mandi dulu ya.” Luna, kenapa cuma sebelah. Alaric tersenyum dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD