Luna dapat merasakan detak jantungnya bertambah cepat melihat Bu Baratajaya melangkah mendekat. Begitu pula yang dirasakan oleh Fanya. Sejujurnya, Luna belum benar-benar siap untuk berpisah dari suaminya. Ia hanya merasa bahwa ia harus mulai menyiapkan segala sesuatu bagi masa depannya dan juga Kamari, jika memang jalan perpisahan yang terpaksa harus diambil karena Alaric lebih memilih untuk mengejar kebahagiaannya bersama Sellina. “Siapa yang mau cerai?” ulang Bu Baratajaya yang kini berdiri di samping ranjang yang ditempati oleh menantu kesayangannya. Luna mendadak salah tingkah. Fanya beringsut, menjauh dari ranjang Luna. “Luna, jawab pertanyaan Mama.” Aduh, mati gue. Gue harus bilang apa. Nggak mungkin gue bilang yang sebenarnya. Mama bisa marah besar. “Luna, ada yang kamu sembun

