Alaric berjalan cepat menuju kamar tempat Luna dirawat. Seorang perempuan dengan langkah tidak kalah cepat berjalan di sampingnya. Sesekali Alaric memperlambat langkah agar perempuan itu dapat mengimbangi langkah kakinya. Ia sudah tidak sabar. Ia sudah sangat tidak sabar! Ia ingin segera bertemu dengan Luna—istrinya, cintanya, harapannya, masa depannya, kebahagiaannya, hidup dan matinya. Alaric menarik napas lega ketika mereka berdua tiba di depan pintu kamar di mana Luna sedang berada. “Kamu siap?” tanya Alaric kepada perempuan yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum tipis. Alaric balas tersenyum dan menepuk punggung perempuan itu. Ia tahu pasti, meski perempuan itu mengangguk dan berusaha tersenyum, tampak jelas tergambar di wajahnya bahwa ia juga meras

