Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar yang berwarna abu-abu lembut. Luna membuka matanya perlahan, merasakan berat yang aneh di kelopak matanya, seolah kantuk enggan pergi meski tubuhnya sudah bangun. Ia menggeliat pelan, merentangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Selama beberapa saat, ia terdiam, menatap langit-langit kamar sambil berusaha mengumpulkan serpihan kesadarannya yang sebagian masih tertinggal di alam mimpi. Samar tapi pasti, ingatan tentang mimpi semalam kembali muncul. Itu adalah sebuah mimpi indah yang meninggalkan rasa hangat di dadanya. Di sana, ia berjalan di sebuah taman yang asing bersama seseorang yang wajahnya tak bisa ia kenali, namun kehadirannya terasa begitu nyata dan menenangkan. Luna bukanlah tipe orang yang sering bermimpi, namun

