Natha menatap Luna dengan sorot mata redup. Berjuta perasaan berkecamuk di dalam batinnya. Dia usap lembut wajah Luna yang masih menutup mata. Natha menggenggam tangan Luna penuh rasa haru. Perempuan ini sungguh manis dan baik hati. Tetapi kenapa perempuan sebaik dia harus tersia-sia? Ke mana suaminya? Apakah suaminya pernah berpikir bahwa kini istrinya sedang terbaring tak berdaya dan sangat membutuhkannya? Kembali Natha memperhatikan wajah Luna yang tertidur. Wajah itu damai, napasnya teratur. Tapi tulang rahang dan tulang bahu Luna tampak jelas. Agaknya belakangan ini ia kehilangan beberapa kilo berat tubuhnya. Natha mengangkat wajah seketika mendengar gumam Luna. Dia lihat Luna sudah membuka mata. Natha melepaskan genggaman tangannya. “Kamu sudah bangun. Kepala kamu pusing? Atau ad

