BAB 33

1744 Words

Luna sudah memuntahkan seluruh isi perutnya, tapi mual yang ia rasakan belum juga berkurang, air matanya sampai keluar. Beberapa kali Luna berusaha berdiri, tetapi rasa ingin muntah itu menyerang wajah dan memaksa ia kembali jongkok untuk mengeluarkan apa pun yang tersisa. Setelah beberapa waktu, akhirnya Luna berhasil berdiri. Ia membasuh wajah dan menatap pantulan diri di cermin. Sungguh berantakan. Menyeka wajah dengan handuk, Luna lalu membuka pintu kamar mandi. “Masih mual?” tanya Alaric yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Luna mengangguk lemah. “Badanku lemas, kepalaku sakit.” “Kita ke dokter aja.” “Nggak perlu. Aku nggak apa-apa. Cukup tiduran pasti sembuh.” “Badan cuma begitu masih bisa bilang nggak apa-apa?” “Beneran, nggak apa-apa. Lagian ini masih jam enam pagi, dokte

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD