“Sopan kamu begitu, Luna?!” Suara Abi Jamal menggelegar di ruang kerjanya. Luna yang berdiri di depan Abi Jamal hanya bisa tertunduk. Semua kekesalan yang ia rasakan mendadak tertelan begitu saja. Luna selalu takut melawan ayahnya. “Mau ditaruh mana muka Abi, Luna? Kamu pergi begitu saja saat lagi mengobrol. Kamu seperti anak yang tidak pernah diajari sopan-santun!” Luna tertunduk semakin dalam. “Untung saja mas Hariyanto dan Anas mau mengerti. Coba kalau mereka bukan teman dekat Abi, mau dicap apa Abimu ini, Luna? Seorang pimpinan pesantren tapi tidak bisa mendidik anak perempuannya!” Luna masih menunduk, jemarinya saling meremas gelisah. Dadanya nyeri bukan main. Ia ingin membantah ucapan Abi Jamal. Tapi ia segan dan takut. “Minggu depan, keluarga mas Hariyanto akan ke sini lagi un