“Ning, yang bener aja?” Ahsan ternganga, berkali-kai menelan ludah gugup saking kagetnya dengan ide Luna. “Ahsan, aku nggak bisa dijodohin terus-terusan.” Luna memelas. “Kalau kamu nggak punya keberanian untuk itu, ya sudah nggak ap–” “Bukan gitu, Ning.” Ahsan buru-buru menyela. “Saya cuma mikir, gimana caranya?” “Gampang itu. Nanti aku kabari kapan Abi kosong, kamu tinggal siap-siap aja.” Ahsan menghela nafas pelan. “Sebenarnya tuh saya sudah pernah bilang ke Abi kalau saya… ada niat mengkhitbah Ning Luna.” “Oh ya?” Luna membelalak. “Terus, terus, gimana?” “Ditolak.” Ahsan meringis. Luna mendengus kasar, sudah menduganya. “Abi bilang apa waktu itu?” “Abi anggap Abi nggak pernah denger apa yang kamu bilang barusan, gitu.” Ahsan menirukan ucapan Abi Jamal. Luna tertunduk, menggeram