“Reno, Reno, Reno!” Anin menggeram kesal, tetapi tidak berdaya ketika Alin menariknya menjauh dari meja. “Reno siapa, sih, dia! Apa susahnya ngasih tahu nama belakangnya? Jangan-jangan, dia itu cuma pura-pura kaya!” “Nggak lihat bajunya dia bermerek semua!” desis Alin masih memegang lengan Anin dan membawa sang kakak menjauh. Jangan sampai Zaldy di pecat dari pekerjaannya, karena status Alin di mata teman-temannya pasti merosot dalam sekejap. Belum lagi, ada mental dua anak perempuannya yang menjadi taruhan. “Ruang VVIP di resto yang aku ceritain kemarin juga dia yang sewa. Aku yakin itu uang haram, karena dia punya banyak preman! Mana bawa-bawa senjata. Gila tu orang!” “Tapi cakeeep, Liiin! Sumpah!” Anin berhenti melangkah setelah menyadari jaraknya sudah lumayan jauh. “Enak banget hidu

