bc

CEO Kasar Itu Tergila-Gila Padaku

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
family
HE
age gap
forced
arranged marriage
heir/heiress
drama
lighthearted
enimies to lovers
lies
addiction
like
intro-logo
Blurb

Claudy terpaksa menikah dengan Xavier, pria yang mempunyai reputasi buruk karena perjanjian perjodohan bisnis leluhurnya.

Sayangnya, pernikahan itu hanya di atas kertas. Bagi Xavier, Claudy tidak pernah ada. Dia bahkan tetap bersama kekasihnya, hidup bebas tanpa peduli istri sahnya.

Apakah Claudy sedih? Tidak. Setidaknya, kali ini ia bisa hidup bergelimang harta. Dia bebas dari ayah yang tidak menyayanginya, ibu yang pilih kasih, dan adik yang menyebalkan!

chap-preview
Free preview
Prolog
"Tania kan cantik luar biasa, membanggakan, selalu kalian elu-elukan. Kenapa kalian memaksaku menikah dengan keluarga kaya itu?" Claudy menggigit apel dengan santai, seolah tak peduli, meski jantungnya berdegup cepat. Tatapan wanita cantik itu menusuk ke arah orang-orang yang selalu meremehkannya. "Yakin nggak nyesel? Bukannya Om Leon itu konglomerat kelas atas di Indonesia?" "Diam dan menurut!" bentak Jerry, sang ayah, dengan wajah merah padam. Tangannya menghantam meja begitu keras hingga gelas di atasnya berguncang. "Ya kalau kamu merasa mereka kaya raya, kenapa masih protes? Kamu itu dari kecil selalu melawan orangtua! Lihat Tania! Selalu penurut, selalu membanggakan! Kamu apa? Hanya melukis yang kamu bisa? Itu pun tidak berguna!" Claudy menahan napas, jemarinya meremas apel yang digenggam. "Papa memfasilitasi dia untuk berkarir di dunia artis. Sedangkan aku? Kamu selalu menghina karya-karyaku!" suaranya bergetar menahan amarah. "Karena karya bodohmu itu memang tidak layak!" Jerry kembali menghardik. "Tidak menghasilkan apa-apa! Hanya membuang waktu! Sudahlah, cepatlah menikah! Jangan banyak alasan!" Lexi, sang ibu ikut angkat bicara. Senyum tipis penuh perhitungan tersungging di wajahnya. "Jangan kacaukan rencana keluarga. Kita akan mendapat banyak uang dan keuntungan dari pernikahan kalian. Ini perjanjian kakekmu. Jadi jangan berulah!" Tania, adik yang sejak tadi duduk manis, menyikut lengan ibunya sebelum terkekeh pelan. "Lagian, Xavier itu katanya ganteng kok." Ia menatap Claudy dengan sinis, penuh ejekan. "Cocok lah sama kakak. Cuma itu kan nilai jual kakak, jadi istri orang kaya. Kakak berbeda dengan aku yang sudah mendapat banyak penghargaan bergengsi!" Claudy menoleh, tatapannya tajam, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Ia tahu betul siapa Xavier. Seorang playboy b******k, kasar, kejam, dan penuh skandal. Semua orang di ruang itu juga tahu reputasinya, tapi mereka diam. Lebih tepatnya, mereka sengaja mendorongnya ke lubang api, karena tak ada satupun dari mereka yang rela melepas putri kesayangan keluarga, Tania, untuk jadi tumbal. "Terima aja kak, walaupun reputasinya buruk. Yang setidaknya kakak punya suami kaya! Dari pada kakak menjadi perawan tua dan pengangguran?" "Cepat bersiap. Malam ini kamu harus menemui Xavier. Aku dan Om Leon sudah mengatur kencan buta kalian sebelum pernikahan minggu depan." kata Jerry dengan nada tak bisa ditawar. "Bersikaplah baik, atau Papa akan menghentikan semua akses keuanganmu! Menghancurkan semua lukisan bodohmu itu!" Claudy menahan napas. Saat itu juga, ia sadar. Tidak ada seorang pun di hadapannya yang pernah benar-benar memandangnya sebagai anak. Bagi mereka, ia hanyalah pion. Tiket menuju kekuasaan dan harta. Bahkan mungkin sampah yang sudah lama ingin mereka buang. ***** Claudy melangkah masuk ke restoran kelas atas sesuai alamat yang diberikan ayahnya. Lantai marmer berkilau memantulkan cahaya lampu kristal, sementara stiletto hitamnya berderak setiap kali ia melangkah. Gaun sequins hitam membingkai tubuhnya dengan sempurna, membuatnya tampak seperti bintang yang masuk ke dunia orang-orang elit. Namun semua pesona itu runtuh begitu ia sampai di meja privat yang dimaksud. Pemandangan memuakkan langsung menyambut matanya. Xavier, calon suaminya, sedang memangku seorang wanita, menyuapi kekasihnya dengan tatapan penuh manja. "Oh... menarik sekali." Claudy menarik kursi dan duduk dengan angkuh, wajahnya tersenyum sinis. Ia tidak akan menunjukkan kelemahan lagi. Cukup keluarganya saja yang menindasnya, bukan pria ini. "Jadi ini sambutan calon suamiku?" Xavier mendengus, lalu dengan cuek melempar dua kartu tanpa batas ke arah Claudy. Setelah itu, ia menjatuhkan selembar kertas perjanjian pernikahan ke meja, seperti membuang sesuatu yang tak berarti. "Mira adalah kekasihku." ucap Xavier datar, tangannya masih melingkari pinggang wanita itu. "Kami seharusnya menikah. Tapi karena perjanjian bodoh ini, semuanya gagal. Jadi dengar baik-baik, Claudy. Aku akan memberimu segalanya setelah menikah. Uang, fasilitas, hidup mewah. Asal dengan satu syarat, kamu temani aku berakting membangun keluarga bahagia." Claudy mengamati pria itu. Tampan, ya. Tapi mulutnya pedas, dingin, dan penuh kesombongan. "Jangan pernah bermimpi memiliki Xavier!" Mira menyindir tajam, dagunya terangkat sombong. "Mengaca dulu sebelum berharap." Claudy menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu terkekeh dingin. "Mengaca? Yakin mau membandingkan? Setidaknya dadaku lebih seksi, pinggulku lebih ramping, wajahku lebih manis." Ia menyeringai penuh percaya diri. "Beraninya kamu!" Mira berdiri dengan wajah merah padam. Claudy sengaja mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Xavier, mendorong Mira sedikit menjauh. "Aku setuju. Aku akan tanda tangan!" ujarnya pelan tapi tajam. "Tapi pastikan aku mendapat uang yang tidak terbatas." "Dasar matre!" Mira berteriak geram. Claudy menyipitkan mata. "Oh, dan kamu apa? Kekasih sudah akan menikah dengan orang lain dan kamu masih menempel. Kamu bersamanya demi apa kalau bukan uang? Setidaknya aku akan jadi istri sah, bukan bayangan." "Menyebalkan!" Mira nyaris melayang menampar, tapi Xavier lebih dulu membentak. "Claudy!" suara Xavier menggema, tajam dan penuh wibawa. "Aku akan kasih kamu uang. Tapi jangan pernah ganggu privasiku! Tugasmu hanya satu, temani aku berakting! Mengerti?" Claudy tersenyum puas. "Baiklah! Asal uangnya cukup." Ia meraih pena, menandatangani perjanjian tanpa membaca sepatah kata pun, lalu memungut dua kartu itu. Dengan sengaja, ia mengecupnya berkali-kali, seolah kartu itu adalah tiket kebebasannya. "Sampai ketemu di pelaminan!" katanya riang, berjingkrak kecil sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Begitu keluar, ia mengangkat kedua kartu itu tinggi-tinggi. Senyum lebarnya tak bisa disembunyikan. "Hidup ini jauh lebih baik daripada terkurung di rumah seperti burung! Dengan kartu-kartu ini, aku bisa melakukan apa saja! Aku kaya!" teriaknya bahagia. Sedangkan Xavier hanya duduk diam dengan wajah penuh misteri. Matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan Claudy. Bibirnya melengkung samar, entah itu ejekan atau kekaguman. Baru kali ini ada seseorang yang begitu terang-terangan menginginkan uangnya-tanpa topeng kepura-puraan, tanpa basa-basi manis. "Kamu harus hati-hati, sayang," Mira memeluk lengannya erat, seakan takut Xavier akan direbut begitu saja. Suaranya dibuat manja, nyaring menusuk telinga. "Dia pasti mau memanfaatkanmu. Dia hanya menginginkan uangmu. Tidak akan ada yang bisa mencintaimu dengan tulus... selain aku." Xavier mengepalkan tangan di atas meja. Tatapan matanya mengeras, tapi tetap dingin. "Aku tahu itu." "Kalau begitu jangan tergoda olehnya," bisik Mira sambil menempelkan bibirnya ke pipi Xavier. Ia terus merajuk, mencoba memastikan posisinya tetap kokoh di hati pria itu. Xavier menoleh, menatap Mira sekilas. "Mana mungkin aku tergoda dengan wanita matre sepertinya?" nada suaranya terdengar sinis, meski ada sesuatu yang bergetar samar di ujung kalimatnya. "Keluarganya juga serakah sekali. Mereka menjual putrinya sendiri demi uang dan nama besar." Mira tersenyum lega, lalu semakin mengeratkan pelukannya, seakan ingin menegaskan bahwa dialah satu-satunya yang berhak di sisi Xavier. Namun jauh di dalam, mata Xavier masih terarah pada pintu yang tertutup rapat. Untuk alasan yang tidak bisa ia mengerti, kata-katanya barusan terdengar seperti dia sedang meyakinkan dirinya sendiri. *****

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
738.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
971.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.9K
bc

Not just, the Beta

read
346.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook