Menundukkan Semua Orang

1147 Words
Claudy menatap keluarga besar Xavier. Ada adik laki-lakinya, ayahnya, hingga sang kakek yang sudah sepuh. Hatinya bergetar mengingat kakeknya sendiri, satu-satunya yang dulu benar-benar menyayanginya. Yang paling peduli padanya. "Kamu cantik sekali, Nak Claudy." puji Hedi. "Pantas saja kakekmu dulu berpesan, perjodohan harus denganmu. Kamu paling mirip dengannya." Leon mengangguk mantap. "Benar, Pa. Jangan sungkan di keluarga ini. Dulu kakekmu banyak menolong kami saat krisis. Uang, tenaga, semuanya. Sekarang giliran kami. Anggap saja harta kami juga milikmu." Ia lalu menyodorkan sebuah kotak perhiasan. "Istri om sudah meninggal, tidak ada wanita di sini yang bisa dimintai saran. Om harap kamu menyukai hadiah sambutan ini!" "Terima kasih banyak Om! Claudy sangat menyukainya!" Claudy menatap kalung dengan liontin berlian besar dan berkilauan itu. Harganya pasti puluhan miliyar. Siapa yang nggak suka di beri hadiah seperti ini? "Pakaikan, Xavier!" Leon berseru kepada putranya yang sejak tadi hanya diam. Ia merasa kesal sekaligus heran. Sejak kapan putranya menjadi orang kaku seperti itu? "Kakak juga bantu pilih kalung itu. Sengaja yang berliannya paling besar. Katanya kamu matre!" Xiev, adik Xavier ikut menyindir. Membuat Leon dan Hedi melotot marah. Namun Claudy yang tidak mau ditindas, langsung tertawa seraya menyibakkan rambutnya. Membiarkan Xavier memasangkan kalung padanya. "Xiev, kakakmu benar! Aku memang matre. Lagian saat bertemu, dia sendiri yang memintaku menghabiskan uangnya. Kodrat seorang istri adalah membantu mengatur dan mengurus suami. Termasuk mengurus keuangan. Jadi istri akan bersikap tergantung dengan keadaan suaminya. Jika pas-passan, ya istri harus prihatin. Tapi jika dia kaya, istri harus menyesuaikan. Uang dia akan aku habiskan untuk investasi, menabung, dana darurat, sesekali belanja. Matre versi aku cukup realistis kok!" "Wahhhh sifatmu benar-benar mirip mendiang kakekmu! Jujur, blak-blakkan, bijak, tidak gampang tertindas!" Leon dan Hedi tertawa bersama. "Om bangga padamu! Ayo makan sayang! Kelak kalau Xavier berulah, katakan saja padaku. Biar aku batalkan saham miliknya di perusahaan!" Leon menatap putranya dengan tatapan mengancam. "Xiev kalau bicara sembarangan lagi, uang jajan akan Papa stop! Kerjalah paruh waktu sambil kuliah! Sudah 18 tahun tapi masih kayak anak-anak!" Xavier dan Xiev menatap Claudy yang kini tersenyum penuh kemenangan. Mereka bak anak tiri di sana. "Calon suami, mau aku ambilkan lauk?! Atau mau disuapi?" Claudy menatap penuh dendam kepada Xavier. Pasti dia yang cerita aneh-aneh ke adiknya, sehingga ia disindir seperti itu. "Aku.... " Claudy memasukkan satu sendok full nasi dan sambal hingga wajahnya memerah karena kepedasan. "Makan yang banyak!" "Dia memang susah makan nasi Claudy! Masih picky eater walaupun sudah tua begitu!" Leon tertawa saat Claudy dengan semangat menyuapinya. "Claudy tau Om, kemarin Xavier banyak cerita. Makanya, Claudy mau support dia supaya lahap makan nasi! Ayo aaaa lagi!" Kali ini sambalnya jauh lebih banyak. Leon dan Hedi tertawa bahagia melihat kemesraan mereka, yang sebenarnya adalah siksaan bagi Xavier. ***** "Kamu sudah berani bersikap lancang padaku?" Xavier menunjuk wajah Claudy dengan tatapan tajam. Claudy menguap kecil, lalu menatap kuku-kuku barunya yang dihias nail art berkilau. "Kenapa? Lancang apa? Aku hanya menjalankan tugasku, menemanimu berakting." "Sudahlah, terserah!" Xavier mendengus. "Ayo, aku antar pulang. Aku mau party habis ini." "Party ya party aja. Ngapain juga ngasih tahu aku? Minta izin sama istri ceritanya?" balas Claudy malas. "Tunggu!" suara Leon terdengar dari ruang tengah. "Kalian harus berkencan! Ini masih sore. Xiev akan ikut mengawasi. Kalau tidak, Papa batalkan kepemilikan sahammu, Xavier!" Xiev muncul dengan tas kecil di tangannya, wajahnya penuh semangat. "Aku dibayar Papa mahal, jadi malam ini aku jadi saksi kencan kalian!" Xiev lebih dulu masuk ke mobil, meninggalkan Xavier dan Claudy saling pandang dengan kesal, keduanya sama-sama merasa rencana mereka untuk bersantai malam ini gagal. Claudy masuk lebih dulu ke kursi belakang, duduk di samping Xiev dengan wajah jutek. Ia sengaja menyilangkan kaki anggun, tumit stilettonya berderak kecil di lantai mobil. Xavier mengetuk setir, urat lehernya menegang. "Kalian pikir aku supir?" Xiev langsung menegakkan tubuh. "Kalian jangan ribut terus, berisik! Kalau begini, aku akan lapor Papa." "Lapor saja. Yang rugi kakakmu!" Claudy menoleh ke arah Xiev, nada suaranya ringan tapi penuh provokasi. Xavier menoleh cepat. "Jangan lupa, dua kartu tanpa limit itu juga akan hangus." Claudy terdiam sepersekian detik, lalu menggigit bibir. Dengan cepat ia turun, pindah ke kursi depan. Senyumnya mendadak manis. Aroma parfumnya menyapu hidung Xavier ketika ia mendekat. Tangannya mendarat lembut di pundak Xavier, memijat seolah penuh kasih. Senyumnya manis, matanya berkilat nakal. "Sayang... kamu ganteng banget sih. Ayo setir mobilnya. Nanti Xiev lapor kalau kencan kita manis sekali, ya?" Xiev mendengus keras, menoleh ke jendela dengan wajah masam. "Dasar matre!" Claudy tersenyum puas, sementara Xavier menahan tawa kecil yang hampir lolos. Untuk alasan yang tak mau ia akui, wanita itu benar-benar berhasil membuatnya tidak bisa menebak langkah selanjutnya. Mobil pun meluncur ke arah pusat perbelanjaan khusus seni. Gedung megah itu berdiri anggun dengan dinding kaca, lampu-lampu warm light menghiasi setiap sudutnya. Dari luar saja sudah terdengar samar denting piano dan gesekan biola yang dimainkan pengunjung. Aroma cat minyak bercampur kopi premium menyambut saat mereka masuk. Claudy menatap sekeliling dengan antusias, mata indahnya berkilat seperti anak kecil masuk ke dunia impian. "Tempat ini favoritku. Aku ingin beli beberapa alat lukis!" ujarnya. Xavier menoleh sekilas, kedua tangannya tetap sibuk dengan ponsel. "Kamu gemar melukis?" suaranya datar, tapi ada nada penasaran samar. Claudy menegakkan dagu, tersenyum miring. "Ya. Tidak seperti kamu, yang gemar party dan memikat wanita." Xavier mengangkat alis, bibirnya melengkung sinis. "Apa salahnya? Kegemaranku itu juga asyik, kok." Ia dengan sengaja menampilkan layar aplikasi kencan, jarinya gesit swipe right pada foto-foto wanita. Claudy mendesis, wajahnya memerah karena muak. "Dasar b******k!" Ia melangkah menjauh, tumit stilettonya berderak di lantai marmer. Saat memilih kuas dan cat minyak, pandangan Claudy menangkap Xiev yang berhenti lama di depan deretan gitar. Bocah itu menatapnya dengan mata berbinar, tapi langkahnya ragu, tangan hanya menyentuh senar lalu cepat ditarik kembali. Claudy melangkah mendekat, suaranya lebih lembut. "Kamu mau beli?" Xiev menunduk, bibirnya mengerucut. "Papa dan Kakek akan marah. Musik yang boleh aku mainkan hanya piano. Profesi yang boleh aku tekuni hanya bisnis, melanjutkan perusahaan. Padahal aku ingin sekali bermusik. Kuliah saja ditentukan mereka." Claudy merengkuh pundaknya dengan hangat, kontras dengan liciknya yang tersembunyi. "Pilih saja. Akan aku belikan." "Nanti aku dimarahi." Suaranya pelan, hampir berbisik. "Mana mungkin mereka marah, kalau kakak iparmu yang cantik ini yang memberi hadiah?" Claudy tersenyum penuh keyakinan. Xiev mendongak dengan mata berbinar. "Benarkah?" "Aku sendiri yang akan bicara pada Om Leon. Tenang saja, ada banyak cara supaya kamu tidak dimarahi." "Sungguh?" Wajahnya seketika berbinar cerah. Ia melompat kecil lalu menunjuk dua gitar sekaligus. "Wahhh Kakak Iparku memang cantik sekali seperti dewi!" Claudy terkekeh, menepuk kepalanya. "Ingat, ini hutang." "Hutang?" Xiev tampak bingung. "Ya! Kamu harus ada di pihakku. Bagaimana?" Claudy menatap tajam, bibirnya melengkung licik. Xiev terdiam sejenak, lalu mengangguk cepat seperti anak ayam. "Iya! Aku janji!" Claudy tersenyum puas, bola matanya berkilat. Oke, di keluarga ini semua orang harus tunduk padanya. Dengan begitu, tak akan ada lagi penindasan yang bisa menyentuhnya. Satu-satunya musuh yang tersisa hanyalah Xavier... dan ratusan kekasihnya. Termasuk si Mira tepos itu! *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD