"Aku tidak tahu apa yang Xiev sukai, Om," Claudy berkata lembut, menundukkan kepala sopan. "Tapi semalam dia bilang suka gitar. Jadi aku belikan. Sebagai kakak ipar, aku ingin hubunganku dengan Xiev juga baik. Tolong sampaikan pada anak Om, semoga nanti dia bisa memainkan musik di hari pernikahanku dan Xavier."
Leon menatap Claudy, lalu bergeser ke arah dua gitar yang dibawanya. Ekspresinya kaku, terkejut sekaligus bimbang. Di lantai atas, Xiev mengintip dari balik pegangan tangga, tubuhnya bergetar. Ingatan buruk kembali menghantuinya. Terakhir kali ia membeli gitar, ayahnya marah besar, merobek senarnya, dan menyuruhnya belajar bisnis seharian penuh tanpa henti.
Claudy mendesah pelan, pura-pura menunduk menyesal. "Apa Pak Leon tidak berkenan? Aku mohon maaf kalau lancang."
Leon menghela napas panjang. "Bukan begitu, Claudy. Hanya saja... Om ingin dia fokus belajar. Nilainya akhir-akhir ini turun."
Claudy tersenyum lembut, matanya berkilau penuh empati. "Biar aku yang atur les tambahan, Om. Biar bagaimanapun, Xiev masih remaja. Baru lulus sekolah dan baru masuk kuliah. Ia tumbuh tanpa ibu, jangan terlalu keras padanya."
Mata Leon memerah, berkaca-kaca. Suaranya serak. "Kamu sama seperti kakekmu. Dulu, dia juga selalu membelaku ketika Papa terlalu keras padaku."
Claudy tersenyum, nada suaranya tenang tapi mantap. "Xiev anak yang manis. Biarkan dia eksplor hobinya sambil belajar. Aku janji akan bantu dia belajar, Om."
Leon akhirnya mengangguk, senyum tipis muncul di wajahnya. "Baiklah, baiklah! Temui dia sendiri. Biar maksudmu terlihat tulus. Dia pasti senang."
"Terima kasih, Om." Claudy membungkuk sedikit lalu membawa dua gitar itu ke lantai atas. Xiev yang sejak tadi menahan diri akhirnya tak bisa lagi. Begitu gitar itu berada di tangannya, ia berjingkrak, wajahnya memerah bahagia.
"Kakak hebat sekali! Terima kasih, Kakak!" serunya sambil memeluk Claudy dengan polos.
Claudy membalas pelukan, lalu menunduk mendekatkan bibir ke telinganya. Suaranya rendah, berbahaya. "Ingat, adik iparku yang manis. Mulai sekarang, kita satu tim. Kamu harus di pihakku. Mengerti?"
Xiev mengangguk cepat, bahkan memberi hormat seperti seorang prajurit. "Siap, Kakak Ipar!"
Claudy terkekeh, menepuk kepalanya. Senyum kemenangannya jelas terpancar.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Xavier berdiri di sana, baru bangun tidur, rambutnya terlihat acak-acakan. Matanya langsung membulat begitu melihat gitar ada di tangan Xiev. Rahangnya mengeras. "Wanita ini... bagaimana bisa dia membujuk Papa?" batinnya.
"Ohhh, calon suamiku sudah bangun rupanya?" Claudy meledek dengan nada manis, meski matanya tajam. "Cepat mandi. Jadwal kita hari ini padat. Pilih gedung, fitting baju pengantin, dan sebagainya!"
"Mira mau ikut." Xavier menatap Claudy dengan penuh tantangan.
Claudy mengangkat bahu. "Terserah."
"Kakak tidak boleh ajak Mira!" suara Xiev tiba-tiba lantang. Ia menunjuk kakaknya dengan sorot tajam. "Sekarang Kakak Ipar adalah kakak kesayanganku! Kamu tidak boleh menyakitinya!"
Claudy tersenyum puas, mengusap puncak kepala Xiev penuh sayang. "Manisnya!"
"Kamu ini adik siapa?" Xavier mendesis, urat lehernya menegang.
"Apa? Hanya Kak Claudy yang mengerti aku. Dia yang berani membujuk Papa agar aku bisa bermain gitar! Aku akan selalu ada di pihaknya. Bahkan kalau perlu, aku jadi bodyguard-nya!" Xiev menempel di sisi Claudy dengan sikap protektif.
Claudy menjulurkan lidah ke arah Xavier, matanya berkilau nakal. Xavier mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak meledak di tempat. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasa terdesak oleh wanita itu.
Dia mengambil hati semua orang. Adiknya yang penurut, ayahnya, kakeknya, sekarang dia sendirian melawannya.
"Licik juga kamu!" geramnya.
****
Cahaya lampu kristal butik memantul di kaca besar, menciptakan aura megah yang membingkai tubuh Claudy
Cahaya lampu kristal butik memantul di kaca besar, menciptakan aura megah yang membingkai tubuh Claudy. Gaun pengantin satin putih itu jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Potongan off-shoulder asimetris memperlihatkan bahu mulusnya, sementara belahan tinggi di sisi kaki memberi kesan berani.
Claudy berdiri di atas podium kaca, memutar tubuh perlahan. Senyumnya dingin tapi penuh percaya diri.
Xavier, yang sejak tadi duduk malas sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba mendongak. Pandangannya tertahan. Sesaat, ia lupa menutup mulutnya. Dia bukan sekadar cantik, tapi aura wanita itu benar-benar... menantang.
"Kakak ipar kamu sangat cantik!" Xiev berseru kagum, matanya berbinar polos.
Claudy tersenyum tipis, menatap bayangannya di kaca. "Tentu saja!"
Namun suara sumbang segera terdengar. Mira, yang duduk di kursi empuk tak jauh dari Xavier, melipat tangan di d**a. Bibirnya melengkung penuh sindiran.
"Apa nggak terlalu seksi?" ucapnya dengan nada meremehkan. "Belahan kakimu terlalu tinggi! Kamu harus jaga martabat sebagai wanita dong."
Claudy menoleh pelan, tatapannya menusuk. Senyum manisnya berubah sinis. "Kamu nggak tahu, ya? Kalau selera Xavier di aplikasi kencan itu semua seksi-seksi?" Ia mengedikkan dagu ke arah Xavier, lalu menatap Mira dengan tatapan meremehkan. "Salah banget kalau kamu deketin Xavier dengan menjadi sok alim seperti itu!"
Wajah Mira langsung memerah. "Apa yang kamu katakan?"
Claudy berjalan mendekat, veil panjangnya berdesir menyapu lantai. Ia berhenti hanya beberapa langkah dari Mira, lalu tersenyum dingin. "Aku sih lebih baik jadi diri sendiri. Aku suka baju yang seksi, indah... dan aku nggak peduli pendapat Xavier."
Tatapan Xavier kembali jatuh padanya. Ada amarah, ada keterkejutan, tapi juga kekaguman yang sulit ia akui. Rahangnya mengeras, namun jari-jarinya mengepal di pangkuan.
Mira menoleh gusar, mencari perlindungan. "Xavier! Kamu lihat sendiri kan? Dia terlalu lancang! Dia akan membuatmu malu!" Suaranya melengking penuh kepanikan. Ia lalu menoleh tajam ke Claudy. "Asal kamu tahu, pria tetap akan mencari wanita baik-baik untuk dijadikan istri!"
Claudy mendengus, senyum miring muncul di bibirnya. "Memangnya apa hubungannya sifat baik dengan pakaian?" Nada suaranya ringan, tapi setiap kata menusuk.
"Claudy, jangan melewati batas. Mira hanya memberimu saran!" Xavier akhirnya bersuara. Ia melingkarkan tangan di pundak Mira, mencoba meredam. Tatapannya dingin, tapi ada kebimbangan samar. "Kalau mau pakai itu ya sudah. Kamu sudah pilih gaun, kan? Aku dan Mira akan pergi!"
"Kakak mau ke mana sama Mira?" Xiev tiba-tiba nyeletuk, wajahnya nakal penuh kemenangan. Ia menoleh ke Xavier dengan tatapan jahil. "Mau aku laporin ke Papa? Bukannya kalian harus kencan hari ini?"
Sebelum Xavier sempat bereaksi, Xiev menarik Mira menjauh, lalu dengan sengaja mendorong Claudy ke arah d**a kakaknya. Tubuh Claudy nyaris terhimpit ke pelukan Xavier, aroma maskulin pria itu seketika menyergap hidungnya.
"Saham kakak ada di tanganku sekarang." ucap Xiev mantap, suaranya penuh keberanian. "Kalau kakak jahat sama Kakak Ipar, aku akan adukan semuanya ke Papa dan Kakek!"
Xavier melotot, terkejut dengan perubahan adiknya. "Kamu berani mengancam kakakmu sendiri?" Nada suaranya meninggi. Biasanya Xiev akan ketakutan, tunduk, tapi kali ini ia berdiri tenang, seolah sudah menemukan pelindung baru.
"Aku telepon Papa ahhh..." Xiev mengangkat ponselnya, sengaja mengacungkan di depan wajah kakaknya.
"Oke!" Xavier akhirnya membentak. Ia menghempaskan tangannya ke sisi tubuh dengan frustrasi. "Kamu pulang dulu, Mira. Kamu juga, Xiev. Aku akan bicara dengan Claudy."
Claudy tersenyum puas, jemarinya memainkan ujung rambut panjangnya. Matanya berkilau penuh kemenangan ketika melihat wajah Mira yang muram.
Mau tak mau, Mira terpaksa menurut. Sebelum pergi, ia masih sempat menempelkan ciuman di pipi Xavier, seperti menandai wilayahnya. Sementara Xiev, dengan polos mengangkat jempol ke arah Claudy. Wanita itu membalas dengan anggukan penuh percaya diri.
Begitu mereka pergi, butik mendadak terasa hening. Hanya ada Claudy dan Xavier yang berdiri saling berhadapan, jarak mereka begitu dekat.
"Kamu puas?" suara Xavier rendah, dalam, nyaris bergemuruh. Tatapannya menusuk, seolah ingin menembus lapisan topeng Claudy.
Claudy tersenyum. Senyum manis, tangannya membenarkan kerah jas Xavier dengan tingkah genitnya. "Puas." Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Xavier lurus di mata. "Jadi, kamu mau apa, kok ngajak berduaan aja? Hmm?"
Ia berjinjit perlahan, tubuhnya makin dekat. Senyum godanya mematikan, sengaja dibiarkan berlama-lama di depan bibir Xavier.
Xavier menelan ludah, urat lehernya menegang. Ia membenci keberanian wanita itu, tapi tubuhnya menolak untuk mundur.
"Aku mohon jaga batasanmu!" suara Xavier terdengar berat, matanya menyala tajam. Rahangnya mengeras, napasnya naik-turun. "Kita menikah di atas kertas saja, jangan lancang memarahi Mira."
Claudy menyilangkan tangan di d**a, tidak gentar sedikit pun. Senyumnya manis tapi menusuk seperti belati. "Maaf, sayang!" ucapnya pelan, seolah mengejek. "Perjanjianku bukan dengan Mira. Jadi kalau dia terus cari gara-gara, aku tidak akan tinggal diam."
Tatapan mereka bertubrukan, panas dan penuh api. Claudy mendekat setengah langkah, wajahnya hanya beberapa jengkal dari d**a bidang Xavier. Aroma parfum mahal pria itu tercium jelas.
"Kalau kamu pikir aku akan diam saja karena statusku cuma istri kontrak, kamu salah besar!" lanjut Claudy, suaranya merendah, hampir seperti bisikan yang menusuk telinga. "Tidak mudah menindasku. Aku tidak akan membiarkan orang memperlakukaku semena-mena lagi!"
*****