Ibadah Natal berakhir dengan syahdu. Di halaman gereja yang ramai, Milea menoleh ke arah Julian yang sedang merapikan lengan kemejanya.
"Julian," panggil Milea pelan, tangannya menengadah di depan d**a Julian. "Mana kado Natalku?"
Julian melirik telapak tangan itu sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi. "Kado? Aku tidak sempat beli. Aku sibuk menyiapkan barang-barang untuk kembali ke asrama besok," jawabnya datar, terdengar sangat tidak peduli.
Wajah Milea langsung jatuh. Ia mencebikkan bibir, rasa kecewa terlihat jelas di matanya. "Dasar kaku. Padahal aku sudah susah payah dandan secantik ini," gumamnya pelan sambil berbalik ingin berjalan lebih dulu.
Namun, baru dua langkah, Julian menarik ujung kemeja Milea. Saat Milea berbalik dengan wajah cemberut, Julian sudah memegang sebuah kotak kecil yang kelihatannya sudah lama ia simpan di saku.
"Pakai ini. Jangan protes kalau kau tidak suka," ucap Julian cepat, seolah ingin segera mengakhiri momen canggung itu.
Milea sempat mengernyit sebelum membuka kotak itu dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah pita rambut berwarna merah marun yang simpel namun sangat elegan. Mata Milea langsung berbinar.
"Katanya tidak beli?"
"Tadi lewat toko dan kebetulan melihatnya saja," sahut Julian pendek, membuang muka untuk menyembunyikan telinganya yang mulai memerah lagi.
Milea tidak bisa menahan senyum tulusnya, meski dalam hati ia mencibir geli. Bohong sekali kalau dia bilang cuma kebetulan lewat toko, sejak pagi tadi mereka terus bersama dan belum pergi ke mana pun. Artinya, Julian sudah menyiapkan pita ini jauh-jauh hari dengan penuh pertimbangan.
Milea mengambil pita merah marun itu dari kotaknya, lalu menyerahkannya kembali pada Julian.
“Bantu pakaikan,” pintanya manja, sambil membalikkan tubuh hingga membelakangi Julian.
Julian sempat terpaku. Jarinya yang kasar dan biasa memegang senjata kini harus bersentuhan dengan helai rambut Milea yang halus. Dengan gerakan kaku namun penuh kehati-hatian, Julian mengikatkan pita itu. Aroma sampo Milea yang manis menyapa indranya, membuat napas Julian sempat tertahan sesaat.
Begitu selesai, Milea kembali berbalik dan menatap Julian. Ia memberikan senyum paling manis yang ia punya, sebuah senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut menyipit indah.
"Terima kasih, Kapten. Aku suka sekali," ucapnya lirih.
Julian tertegun. Detik itu, waktu seolah berhenti berputar. Sinar matahari pagi yang menembus celah pepohonan jatuh tepat di wajah Milea, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dengan pita merah itu. Julian terkesima, benteng pertahanan di hatinya bergetar hebat.
Ia berdeham kecil untuk menetralkan debaran jantungnya yang mendadak tidak keruan. Bukannya menjawab pujian itu, Julian justru melakukan hal yang tak terduga. Ia meraih tangan Milea dan menggenggamnya dengan erat.
Sebuah genggaman yang terasa hangat dan protektif.
"Ayo jalan-jalan sebentar," ucap Julian singkat, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. "Mumpung udaranya belum terlalu panas."
Milea sempat kaget, namun rasa bahagia langsung membuncah di dadanya. Ia tidak memprotes, justru balas meremas tangan Julian. Sang Kapten yang kaku itu akhirnya menyerah pada keinginannya sendiri untuk menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
***
Liburan berakhir secepat kedipan mata. Julian sudah kembali ke asrama militernya yang disiplin, sementara Milea kembali ke hiruk-pikuk dunia kampus. Beberapa bulan lagi ia sudah lulus dari sekolah bahasa dan akan mengambil jurusan kedokteran setelahnya.
Di kantin, Milea duduk bersama Sisi. Ia berkali-kali menyentuh pita merah di rambutnya. "Dia sempat-sempatnya bohong bilang nggak beli kado, padahal sudah disiapin," cerita Milea menggebu-gebu.
“Terus pulangnya masih diajak jalan-jalan sambil gandeng tangan aku dan dia nge-iyain semua yang aku mau. Ya ampun Si, dia beneran semanis itu selama liburan ini. Oh God, Natal dan tahun baru yang manis," lanjut Milea masih tersenyum-senyum membayangkan hal manis yang dilakukan Julian selama beberapa hari ini.
"Gila! Dia beneran gandeng tangan dan ajak jalan-jalan?!" Sisi berseru heboh, sampai beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh. "Itu mah tandanya dia udah mulai kena, Zi!"
Milea tersipu, menatap ujung sepatunya sambil mengingat hangatnya telapak tangan Julian. "Tapi ya itu, Si. Habis momen itu, dia balik kaku lagi pas mau berangkat ke asrama."
"Makanya!" Sisi mengebrak meja pelan.
“Sisi, pelan-pelan dong!”
Sisi menyipitkan mata, menopang dagu. "Jangan terlalu cepat puas, Milea. Pria militer itu kalau tidak dipancing lebih keras, bakal tetap kaku seperti kayu. Mumpung lagi jauh, buat dia merasa kehilangan. Jangan hubungi dia dulu," saran Sisi penuh strategi.
“Maksudnya gimana?" Milea mengernyit, mana tahan dia jika tidak menghubungi Julian.
“Ck, ck, ingat ya. Kita mainkan tarik ulur, jangan kau terus yang berlari ke arahnya. Jual mahal dikit, selama seminggu ke depan jangan hubungi dia," kata Sisi dengan wajah sok yakinnya.
“Nanti gimana kalau dia kenapa-kenapa di Posko? Terus nanti mana aku tahu—”
Sisi segera membungkam mulut Milea sebelum wanita itu mengoceh terlalu jauh. “Ini pancingan doang, kalau dia menghubungimu terlebih dulu ... kau tahu artinya 'kan?”
Milea terdiam dengan napas yang cukup berat, ia mengangguk penuh perhitungan. Lagi-lagi benar apa yang dikatakan oleh Sisi, ia belum tahu bagaimana perasaan Julian yang sebenarnya. Jangan terlalu cepat puas dengan hal manis yang bisa mudah dilakukan kepada siapa saja.
Malam harinya di Apartemen, Milea merasa dunianya mendadak sunyi. Ia berguling ke kiri dan ke kanan di atas ranjangnya, menimang ponsel di tangan. "Duh, kangen banget sama Julian. Tapi kalau aku telepon duluan, nanti dia makin besar kepala," gerutunya pelan. Rasa gengsinya masih lebih besar daripada rindunya.
Di seberang sana, Julian baru saja menyelesaikan piket malam. Kamar asramanya yang rapi terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada suara cerewet Milea yang protes atau tawa konyolnya yang biasa memenuhi telinganya lewat telepon.
Julian mengambil ponselnya, niatnya hanya ingin memeriksa jadwal latihan besok. Namun, jarinya seolah memiliki ingatannya sendiri, bergerak membuka aplikasi i********: dan mencari nama Milea.
Muncul sebuah postingan foto terbaru. Milea sedang tersenyum lebar ke arah kamera, dengan pita merah marun pemberiannya menghiasi rambutnya. Keterangan fotonya.
"Hadiah dari orang yang katanya nggak beli apa-apa."
Julian menatap foto itu cukup lama. Ia teringat bagaimana wajah Milea yang penyek saat ia uyel-uyel di atas sepeda, dan bagaimana wanita itu tetap tersenyum meski ia galaki.
Julian mengusap layar ponselnya, tepat di bagian wajah Milea yang tersenyum mengenakan pita merah itu.
"Nakal," gumam Julian pelan.
Satu kata itu lolos begitu saja, membawa serta rasa sesak yang tak mampu ia jelaskan. Ternyata, gangguan dari wanita nakal itu adalah satu-satunya hal yang paling ia butuhkan untuk membunuh sepi di asrama ini.
“Kau sedang apa?” gumam Julian penuh rasa ingin tahu, ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Rasanya tidak mungkin jika Milea sudah tidur.
Julian mencoba memejamkan matanya tetapi tiba-tiba terdengar panggilan hati yang sulit diabaikan. Seperti muncul pertanyaan dari halusinasinya sendiri, Milea datang menanyakan hal receh. Padahal tidak ada apa pun. Ia menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan, kali ini mencoba fokus dan membuang bayang-bayang wajah ceria Milea.
Hati Julian mendadak resah sendiri, ia mengambil ponselnya kembali dan mengusapnya perlahan. Tanpa sadar melihat foto Milea lagi, padahal sebelumnya tak pernah seperti ini.
“Apa aku telepon saja, ya?"
Bersambung~