Di apartemennya, Milea sedang duduk di depan meja belajar, mencoba fokus pada buku biologi, namun pikirannya melayang ke asrama militer di seberang sana. Ia ingin tidur tapi tidak bisa sehingga memutuskan untuk mengalihkan ke hal lain.
Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Kapten Julian is calling..
Milea hampir saja melompat dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya sudah gatal ingin menekan tombol hijau. Tapi ia teringat suara Sisi, "Jangan langsung diangkat! Biarkan dia menunggu."
Milea menghitung sampai sepuluh dengan napas tertahan, baru kemudian ia menggeser layar dengan gaya sedingin mungkin.
"Halo?" suara Milea dibuat sedatar mungkin, seolah-olah ia baru saja terganggu dari tidurnya.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara napas Julian yang berat dan teratur.
"Kau belum tidur?" Suara bariton Julian terdengar serak di telinga Milea, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
"Baru mau. Kenapa, Kapten? Ada instruksi mendadak?" sindir Milea pelan.
Julian berdehem kaku. "Aku... hanya sedang memeriksa fungsi jaringan komunikasi di ponselku. Tadi ada gangguan sedikit, jadi aku mencoba melakukan panggilan ke beberapa nomor acak untuk memastikan sistemnya kembali normal."
Milea menahan tawa sampai perutnya kaku. Nomor acak katanya? Sejak kapan Kapten militer jadi teknisi provider?
"Oh... jaringan ya?" Milea mulai mengubah nadanya, sedikit lebih lembut namun penuh nada menggoda. "Dari sekian banyak nomor anak buahmu, Kapten kenapa malah telepon nomor acak istrinya sendiri?"
Julian terdiam. Milea bisa membayangkan wajah pria itu yang sekarang pasti sedang mencari-cari alasan lagi.
"Aku hanya memastikan kau tidak membuat kekacauan karena sudah beberapa hari tidak ada laporan," sahut Julian cepat, mencoba kembali ke mode datar.
"Laporan? Kau pikir aku prajuritmu?" Milea terkekeh kecil, rasa rindunya mulai mengalahkan gengsinya. "Bilang saja kalau Kapten kaku ini kangen sama suara berisikku. Susah ya ngakuinnya?"
"Aku tidak kangen," bantah Julian tegas, namun nadanya tidak meyakinkan. "Sudahlah, jaringannya sudah bagus. Tidurlah. Jangan lupa kunci pintu apartemenmu."
"Julian," panggil Milea sebelum pria itu menutup telepon.
"Apa?"
"Pita merahnya masih kupakai sampai sekarang. Cantik banget."
Keheningan kembali terjadi. Julian tidak menjawab, tapi ia juga tidak mematikan sambungan teleponnya. Selama beberapa detik, mereka hanya saling mendengarkan napas satu sama lain lewat sambungan telepon yang sunyi namun terasa sangat intim.
"Ya... sudah kalau kau suka," gumam Julian sangat pelan sebelum akhirnya sambungan terputus.
Di asrama, Julian menyandarkan punggungnya di dinding, menatap layar ponsel yang sudah gelap. Ia mengumpat dalam hati. Alasan cek jaringan itu benar-benar ide paling bodoh yang pernah ia gunakan. Tapi setidaknya, setelah mendengar suara Milea, dadanya yang terasa hampa seharian ini mendadak terasa sedikit lebih tenang.
Sementara di apartemen, Milea menjerit tanpa suara sambil memeluk gulingnya. Strategi Sisi berhasil. Sang Kapten sudah mulai menunjukkan taring rindunya.
***
Suhu di luar hampir menyentuh nol derajat. Milea berdiri di depan sebuah kedai kopi kecil di distrik Yangpu, tak jauh dari gerbang megah Naval Medical University. Ia merapatkan syalnya, melihat uap putih keluar setiap kali ia bernapas. Kali ini ia memang melakukan hal yang sedikit nekat, pasalnya ia tak bisa menahan dirinya sendiri setelah berhari-hari tak ada kabar lagi dari Julian setelah cek jaringan waktu itu.
Ia baru saja mengirim pesan singkat "Aku di depan kedai kopi jalan Xiangyin. Jangan telat, atau aku bakal beku jadi patung salju."
Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Milea mulai menghentak-hentakkan kakinya yang kedinginan saat suara derap langkah terburu-buru mendekat.
Julian muncul dengan napas terengah-engah. Ia masih mengenakan seragam taktis militernya, hanya dilapisi jaket windbreaker gelap. Wajahnya yang biasanya tenang tampak kacau, matanya menyisir jalanan sampai terpaku pada Milea.
"Milea!" Julian menghampirinya dengan langkah lebar, hampir menabrak orang yang lewat. "Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kirim pesan sudah di sini?"
Milea mengangkat alis, pura-pura cemberut sambil melihat jam tangannya. "Wah, Kapten kita telat. Di militer memang boleh telat ya?"
Julian tidak menanggapi godaan itu. Ia meraih kedua tangan Milea, merasakannya sangat dingin, lalu segera menggenggamnya kuat-kuat untuk memberi kehangatan.
"Aku sedang ada latihan di dalam universitas. Kau tahu betapa ketatnya prosedur keluar-masuk di sini? Kenapa tidak bilang kalau mau datang hari ini?"
"Kejutan," sahut Milea singkat, lalu tersenyum manis saat melihat Julian yang tampak sangat khawatir.
"Lagipula, aku mau lihat-lihat kampus ini. Katanya kedokteran di sini salah satu yang terbaik. Siapa tahu tahun depan aku bisa kuliah di sini, jadi setiap kau latihan, aku bisa bawain bekal."
Julian terdiam, menatap gerbang kampusnya lalu kembali ke Milea. Ekspresinya melunak, tapi ia masih terlihat kaget dengan keberanian Milea.
"Kau benar-benar nekat."
"Aku memang nekat kalau berurusan denganmu." Milea memajukan tubuhnya, membuat Julian refleks mundur selangkah karena kaget.
“Ayo masuk dulu," ajak Julian segera meraih bahu Milea dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.
Milea melepas sarung tangannya, memperhatikan Julian yang baru saja selesai memesan makanan menggunakan bahasa Mandarin yang sangat fasih dan terdengar begitu maskulin di telinganya.
"Enam tahun di sini memang beda ya," celetuk Milea sambil menopang dagu, menatap Julian dengan penuh kekaguman yang tidak ditutup-tutupi. "Bahasa Mandarin-mu terdengar seperti penduduk lokal, Kapten."
Julian hanya meliriknya datar, meski ada sedikit rasa bangga yang terselip. "Kalau kau tidak fasih setelah enam tahun di sini, artinya kau hanya membuang waktu."
Milea tertawa kecil. "Nah, mumpung aku punya tutor pribadi yang hebat, ajari aku sedikit. Aku kan baru lulus kelas bahasa, masih sering belepotan kalau bicara dengan orang lokal."
"Mau belajar apa?" tanya Julian pendek.
"Istilah-istilah dasar saja," Milea mulai memancing. "Bahasa Mandarin-nya 'aku lapar' apa?"
"Wo e le," jawab Julian tanpa ragu.
"Kalau 'makanannya enak'?"
"Hen hao chi."
Milea tersenyum nakal, ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke manik mata Julian yang tajam.
"Kalau... bahasa Mandarin-nya 'aku mencintaimu'?"
Gerakan tangan Julian yang hendak meraih cangkir teh terhenti sejenak. Ia menatap Milea, mencoba mencari keisengan di mata istrinya itu, namun yang ia temukan hanyalah binar penuh antisipasi.
"Wo ai ni," jawab Julian dengan suara baritonnya yang rendah. Pengucapannya begitu sempurna, terdengar dalam dan jujur, seolah kata-kata itu memang ditujukan untuk Milea.
Jantung Milea berdesir hebat mendengarnya. Meskipun ia tahu Julian hanya menerjemahkan, namun mendengar kalimat itu keluar dari bibir suaminya terasa sangat berbeda.
Milea tersenyum manis, sangat manis hingga membuat Julian harus membuang muka demi menjaga kewarasannya.
"Wo ye ai ni, Julian," balas Milea dengan pengucapan yang tak kalah lembut. (Aku juga mencintaimu, Julian).
Julian tersentak. Ia segera menoleh kembali ke arah Milea, matanya sedikit membelalak. Ia tidak menyangka Milea akan membalas secepat itu, dan dengan kalimat yang begitu telak.
"Kau..." Julian kehilangan kata-kata.
"Kenapa? Aku kan cuma melatih pelafalanku, Kapten," goda Milea sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tapi kalau kamu mau menganggapnya serius, aku sih tidak keberatan."
Julian segera meraih cangkir tehnya dan meminumnya dengan cepat, mencoba menyembunyikan rona merah yang kini merambat naik ke telinganya.
"Cepat makan. Setelah ini aku harus mengantarmu kembali ke apartemen."
Milea hanya tertawa puas melihat sang Kapten kembali salah tingkah karena ulahnya. Di tengah dinginnya China, Milea merasa telah berhasil menyalakan api kecil di hati suaminya yang beku itu.
*
Gerimis tipis masih turun, membuat lampu-lampu jalanan Shanghai terlihat berpendar dramatis. Milea, yang merasa suasana terlalu tenang, tiba-tiba memutar tubuhnya dan berjalan mundur di depan Julian.
"Milea, jalan yang benar. Lantainya licin," tegur Julian, tangannya refleks bersiap di depan d**a kalau-kalau Milea tersandung.
Milea justru tertawa kecil, mengabaikan peringatan itu. Ia menatap wajah Julian yang diterangi cahaya lampu jalanan yang remang.
“Kapten, kalau nanti aku kuliah di sini, setiap hari apa kau akan menjemputku seperti ini?"
"Tergantung jadwal latihan," jawab Julian datar, meski matanya tidak lepas dari setiap langkah Milea.
"Terus, kalau aku capek belajar anatomi yang pusing itu, kau akan membelikam aku bubble tea yang antreannya panjang di Nanjing Road?" Milea bertanya lagi, pertanyaan receh yang sebenarnya hanya ingin memancing suara Julian.
Julian menghela napas, langkahnya melambat mengikuti ritme mundur Milea.
"Jangan terlalu banyak berandai-andai. Fokus saja lulus kelas bahasa dulu."
"Ih, kaku banget!" Milea mencebikkan bibir. "Tinggal jawab 'iya' saja susah sekali, Kapten."
Langkah Milea terhenti saat tumit sepatunya menyentuh pembatas jalan. Ia sedikit terhuyung, namun dengan sigap tangan Julian menangkap lengannya dan menariknya mendekat agar tidak terjatuh.
Jarak mereka mendadak terkikis. Napas mereka yang beruap bertemu di udara dingin Shanghai. Milea mendongak, menatap lekat mata Julian. Di bawah syal besar yang dipakaikan Julian tadi, wajah Milea terlihat kecil dan menggemaskan.
Julian tertegun. Matanya secara tidak sadar turun, terpaku pada bibir Milea yang sedikit terbuka dan memerah karena udara dingin. Ada dorongan kuat yang menghantam pertahanannya, keinginan untuk memangkas jarak yang tersisa.
Jari Julian bergerak ragu. Ia mengangkat tangannya, awalnya tampak ingin menyentuh pipi Milea, lalu bergerak ke bibir wanita itu yang basah.
“Lea," panggil Julian, suaranya jatuh dengan berat seiring gerahamnya yang mengetat.
“Ya?" Kedua pupil mata Milea melebar dengan jernih, tubuhnya sendiri gemetar bukan karena dingin tetapi karena sentuhan tangan besar di bibirnya sekarang.
Bersambung~