Bab 8. Titik Pecah

1243 Words
“Lea," panggil Julian, suaranya jatuh dengan berat seiring gerahamnya yang mengetat. “Ya?" Kedua pupil mata Milea melebar dengan jernih, tubuhnya sendiri gemetar bukan karena dingin tetapi karena sentuhan tangan besar di bibirnya sekarang. “Jangan pernah datang lagi ..." Kalimat itu menggantung di udara dingin Shanghai, lebih tajam dari sembilu. Milea merasakan jantungnya seperti diremas. Ia menatap Julian yang masih berdiri kaku, berharap ada sambungan kalimat seperti “...tanpa memberitahuku” atau “...karena aku khawatir”. Tapi Julian hanya diam. Rahangnya mengeras, matanya menatap ke arah lain, seolah menatap Milea adalah sebuah kesalahan besar. “Oh,” suara Milea mencicit, nyaris tak terdengar. Ia menarik tangannya dari bibir Julian, merasa malu dan bodoh secara bersamaan. “Aku mengerti. Maaf kalau aku sudah... mengganggumu, Kapten.” Milea berbalik dengan cepat. Ia tidak lari, tapi langkahnya sangat terburu-buru menuju eskalator subway. Ia tidak ingin Julian melihat matanya yang sudah berkaca-kaca. Sementara itu, Julian mematung di tempatnya. Tangannya yang tadi menyentuh bibir Milea kini mengepal kuat di samping tubuh. Ia mengumpat dalam hati. Maksudnya adalah ia tidak ingin Milea datang ke tempat berbahaya itu lagi karena ia tidak bisa menjamin keselamatannya, dan ia tidak ingin Milea memberinya harapan yang tidak bisa ia penuhi sebagai prajurit yang nyawanya bukan milik sendiri. Tapi, ia justru mengucapkan kalimat yang paling salah. “Sebenarnya ada apa denganku ini?" *** Dua Minggu Kemudian... Julian seperti mengalami neraka yang berbeda. Ponselnya yang tergeletak di nakas tetap sunyi. Biasanya, setiap dua atau tiga hari, akan ada pesan singkat, foto makanan, atau sekadar keluhan receh dari Milea. Kini, tidak ada apa-apa. Julian menjadi lebih dingin di lapangan. Ia berlatih dua kali lebih keras hanya untuk mengalihkan pikirannya. Namun, saat malam tiba dan kesunyian asrama menyergap, ia hanya bisa menatap nomor Milea. Ia ingin menelepon, tapi ego dan rasa takutnya akan menyakiti Milea lebih dalam membuat ia menahannya. Hingga malam ini, badai salju diprediksi akan turun lebat. Pikiran Julian mendadak kacau. Ia membayangkan Milea sendirian di apartemen, mungkin sedang kesulitan membawa belanjaan, atau mungkin sedang menangis karena dirinya. "Persetan," geram Julian tak ingin peduli, Milea bukan anak kecil yang 24 jam harus dijaga dan dikhawatirkan. Mungkin saja wanita itu sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Berkali-kali Julian mengusir kegusaran tetapi hatinya benar-benar tak tenang, malam ini ia merasa kalah hingga memutuskan ia menghadap komandannya. Ia meminta izin keluar darurat (pesiar) selama beberapa jam dengan alasan urusan keluarga yang sangat mendesak. Setelah mendapat izin, ia langsung memacu mobil militernya menembus badai salju menuju apartemen Milea. Julian berdiri dengan tubuh yang hampir membeku. Jaket taktisnya tertutup lapisan salju tipis yang mulai mencair. Ia segera masuk ke dalam Apartemen, mendapati ruangan itu gelap gulita. Dahi Julian mengernyit heran, pasalnya Milea orang yang sangat takut gelap. “Ke mana dia?" gumam Julian mencari di sepanjang sudut ruangan termasuk kamar, namun tak ada siapa pun di sana. Kekhwatiran merayap, ia melirik jam tangannya yang menunjukkan angka pukul 22.30. Ia mencoba menghubungi ponsel Milea namun tak ada sahutan, untuk yang ke-20 kalinya, Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Pikiran Julian mulai kacau. Sebagai seorang prajurit, ia terbiasa memprediksi skenario terburuk. Apakah Milea diculik? Apakah dia pingsan di dalam? Atau yang paling menakutkan, apakah Milea sudah menyerah padanya dan pergi dari Shanghai tanpa pamit? Julian langsung mematikan telepon, menyambar kunci mobil militernya, dan memacu kendaraan itu menembus badai salju seperti orang kesetanan. Ke mana ia harus pergi? Ia pun mengingat jika Milea punya teman bernama Sisi, kemungkinan besar wanita itu ada di rumahnya. Tapi bagaimana ia bisa menemukan rumahnya. “Sial!" umpat Julian begitu panik, mengendarai mobil ia pelankan sembari menatap jalanan yang masih sangat ramai itu. Mobil Julian berputar di sekitar Kampus, mencari Milea yang mungkin masih mengerjakan tugas sekolah atau apa tetapi semua zonk. Sekolah telah tutup pukul 21.00 begitu pun perpustakaan, jantung Julian berpacu lebih cepat. Ia berusaha tenang, memutuskan kembali ke Apartemen dengan harapan Milea ada di sana. “Aku mohon ... jangan buat aku khawatir seperti ini," lirih Julian penuh harap. * Pukul 01.00 dini hari. Taksi yang membawa Milea berhenti di depan lobi apartemen. Milea turun dengan langkah sedikit limbung. Kepalanya pening, bukan hanya karena alkohol, tapi karena lelah menangis seharian. Atau memang setiap harinya menangis saat teringat perkataan Julian. Entahlah, ia juga benci sekali dengan perasaan yang tumbuh ini. Kenapa ia tidak bisa membentengi hatinya, Julian bukan orang yang bisa ia harapkan. Saat ia sampai di depan pintu unitnya, ia terhenti. Sosok tinggi besar sedang bersandar di sana dengan tangan bersedekap di d**a. Aura yang terpancar dari pria itu begitu gelap dan berbahaya. "Julian?" Milea berbisik, suaranya serak. Ia mengira itu hanya halusinasinya saja. Julian menegakkan tubuhnya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Milea terdesak ke pintu. Tatapan mata Julian sangat tajam, penuh kemarahan yang tertahan, namun ada gurat ketakutan yang dalam di sana. "Dari mana?" tanya Julian. Suaranya rendah, bergetar karena emosi. "Bukan urusanmu," Milea mencoba membalas dengan ketus, meski hatinya mencelos melihat wajah Julian yang pucat dan basah kuyup. "Bukannya kau bilang aku jangan datang lagi. Jadi terserah aku mau ke mana." "AKU MENCARIMU SEPERTI ORANG GILA KE SELURUH SHANGHAI, MILEA!" Julian berteriak tepat di depan wajah Milea. Ia memukul pintu di samping kepala Milea hingga menimbulkan suara dentuman keras. "Ponselmu mati! Apartemenmu kosong! Di tengah badai seperti ini, kamu dari mana?” Milea tersentak, air matanya jatuh lagi. "Ya terus kenapa? Memangnya aku menyuruhmu, tidak kan? Kenapa kau datang setelah kau menyuruhku pergi?!” Milea memukul-mukul d**a Julian dengan kedua tangannya, meluapkan seluruh rasa sakit hati selama dua minggu terakhir. Julian tidak menghindar. Ia membiarkan pukulan-pukulan itu mendarat di dadanya yang keras, lalu dengan satu gerakan cepat, ia menangkap kedua tangan Milea dan menguncinya dengan kuat di atas kepala wanita itu hingga Milea terpaksa mendongak. Napas Julian memburu, uap panas keluar dari mulutnya, bertemu dengan udara dingin lorong apartemen. "Lepaskan aku! Kau jahat!" teriak Milea lagi, suaranya pecah oleh tangis yang tak terbendung. Julian diam menatap Milea dengan tatapan yang menghunus, rahangnya mengetat hingga tulang pipinya menonjol tajam. Genggamannya pada tangan Milea sedikit bergetar, bukan karena lemah, tapi karena menahan emosi yang jauh lebih besar dari salju di luar sana. "Kau pikir mudah bagiku untuk berdiri di sini sekarang?" suara Julian rendah, namun penuh penekanan yang menyakitkan. Milea mencoba memberontak, namun kekuatan Julian jauh di atasnya. "Bohong! Kau tidak pernah peduli padaku, perasaanku kau—” "SIAPA BILANG!" Julian memotong kalimat Milea dengan bentakan yang menggema di lorong sepi itu. "Sekarang kau pikir, jika aku tidak peduli padamu untuk apa aku rela berdiri di sini menunggu!” “Lalu kenapa kau harus menungguku!” Suara Milea jauh lebih keras, air matanya pun tak henti mengalir sejak tadi tapi ia muak sekali dengan keadaan ini. Tanpa kata Julian mendorong tubuh Milea hingga punggung wanita itu menghantam dinding di samping pintu. Julian memangkas jarak, menumpu kedua tangannya di dinding kiri dan kanan kepala Milea, mengurungnya hingga tidak ada celah untuk lari. Wajah Julian turun, berhenti tepat beberapa milimeter di depan wajah Milea. Begitu dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, dan napas panas Julian yang memburu menerpa bibir Milea yang gemetar. "Kau ingin tahu alasannya?" bisik Julian. Suaranya rendah, serak, dan penuh getaran emosi yang tertahan. Ia hanya menatap lekat-lekat mata Milea dengan tatapan yang seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia di sana. Ia membiarkan keheningan yang menyesakkan itu terjadi selama beberapa detik, membiarkan Milea merasakan debar jantungnya yang menggila di balik seragam yang basah. “Karena apa?” Suara Milea melemah, nyaris habis ditelan deru napas Julian yang panas. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD