Chapter 5 Tiana memandangi Erian yang terus mengomel sejak setengah jam yang lalu. Pria itu begitu kesal karena keluarganya. Ia jadi tidak bisa ke mana-mana setelah pulang sekolah karena harus menghadiri acara keluarganya. Kakaknya akan segera menikah jadi ada banyak pertemuan yang memaksa Erian ikut hadir. Padahal anak laki-laki itu merasa kehadirannya sama sekali tidak diperlukan. “Er, lo udah ngomel selama setengah jam.” “Ya lo bayangin aja Ti, masa—” “Er..” Tiana mengangkat tangannya. “Gue nggak bisa bayangin,” ucap Tiana memotong ucapan Erian. Anak laki-laki itu langsung memasang wajah cemberut. “Nggak pengertian lo.” Erian merajuk. Tiana memutar bola matanya. Ia bertanya-tanya, kapan sekiranya Erian akan dewasa. Sungguh, Tiana sudah sangat tidak sabar menantikan hari itu

