One Hot Night

1130 Words
Suara gemericik air dari keran yang terbuka membuat Deen perlahan-lahan bangun dari tidurnya. Ia membuka matanya dan melihat sekeliling, ternyata ia berada di apartemennya sendiri. Matanya juga terpaku pada sosok seorang wanita yang tertidur di sampingnya. Mendadak, kebingungan serta kepanikan segera menyelimuti pikirannya. Ia semakin gemetar saat melihat bercak darah pada ranjang yang ia tempati. Apa semalam mereka... Deen langsung menggeleng cepat. Deen mencoba merenung, mencari-cari jejak ingatan tentang bagaimana ia berakhir di situ dan siapa wanita yang ada di sampingnya. Namun, semuanya hanyalah kekosongan dalam pikirannya. Seperti ada selaput gelap yang menyelimuti ingatannya tentang malam panjang yang baru saja berlalu. Dalam kebingungannya, Deen mencoba bergerak dengan hati-hati agar tidak membangunkan wanita yang masih terlelap. Ia menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajah wanita itu. Memandanginya dengan seksama.... dan betapa terkejutnya ia saat tahu jika wanita itu adalah Letta. Calon iparnya. Deen mengacak rambutnya dan mencoba mengingat apa yang terjadi saat dirinya mengantar Letta kemarin malam. "Ini sangat gila! Kenapa Letta bisa ada di apartemenku dan kita..." Gerutunya seraya mengacak rambut dengan frustasi. Tanpa banyak pilihan, Deen mencoba mengumpulkan petunjuk-petunjuk kecil di sekitar mereka. Ia melihat meja samping tempat tidur dengan gelas kosong, dan sebotol anggur yang separuh kosong. Pakaian mereka berserakan di lantai, dan aroma parfum yang halus masih menguar di udara. Ketika bibir Letta sedikit mengeluarkan suara rintihan, barulah potongan-potongan memori menyerang otaknya. "Kamu sangat sexy..." Deen seperti mendengar suara ucapannya sendiri. Bayangan memori menunjukkan dirinya menghujam Letta dengan begitu panas. Memenuhi kenikmatan yang begitu sempit, dan menjadi pria pertamanya. "Deen...." Suara jeritan dan rintihan Letta juga terekam jelas di memorinya. Wajah cantiknya yang pasrah... seperti kembali membangunkan hasrat panas yang ia rasakan semalam. Deen hanya tidak mengerti kenapa semua ini terjadi. Kenapa mereka berakhir diranjang, serta sempat menikmati sebotol anggur kesayangannya. Bahkan.... mereka berada di apartemen miliknya. Deen akhirnya memutuskan untuk membangunkan Letta dengan lembut, hingga wanita itu membuka matanya dengan lambat. Letta juga merintih dan terus mendekap miliknya yang masih terasa perih akibat pengalaman pertamanya semalam, yang begitu panas. "Apa yang terjadi semalam?" Deen bertanya dengan dingin. Letta spontan memasang wajah sedihnya. Lihat, dia juga bisa memanipulasi. Dia belajar banyak dari saudara dan ibu tirinya. "Aku tidak tahu minuman apa yang aku berikan padamu. Aku mendapatkannya dari pesta. Setelah meminum itu, kamu seperti orang yang tidak sadar." Letta menceritakan hal yang sebenarnya. Obat bius khusus yang ia berikan kepada Deen memiliki cara kerja yang berbeda. Letta memang telah menyusun permainan ini dengan baik. "Kamu menjebakku?" Deen mengeraskan rahangnya. "Menjebak? Aku hanya mengantarmu pulang! Tapi kamu menahanku, kamu memaksa...." Letta langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. "Tidak mungkin. Kamu pasti memasukkan obat ke dalam...." "Memang kamu setampan itu? Jangan kepedean! Lupakan saja apa yang terjadi! Anggap ini tidak terjadi!" Letta berusaha bangkit. Namun ia kembali terjatuh karena merasakan miliknya begitu nyeri. Pengalaman pertama ternyata cukup menyakitkan. Tak apa, permainan ini memang butuh pengorbanan. Tapi setidaknya jebakannya berhasil. "Lupakan? Bagaimana kalau kamu hamil?" "Tidak akan. Lupakan saja. Aku tidak mau dituduh menjebak orang sok tampan!" Letta memaksakan diri untuk bangkit. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut seraya memunguti pakaiannya yang bertebaran. Namun tanpa ia sadari, selimut itu hanya menutupi bagian depannya. Sedangkan bagian belakang tubuh Letta terekspos sempurna. Memamerkan punggung mulusnya yang dipenuhi tanda kemerahan buatan Deen. Lagi-lagi, Deen dibawa kepada memori memabukkan yang semalam ia lewati. "Deen.... apa yang kamu lakukan...." Letta mendesah tatkala pria gagah itu memenuhinya dari arah yang berlawanan. Mengecupi punggungnya hingga tak berujung. Deen dibuat gila oleh gairah yang dirasakannya. "Kamu begitu indah!" Desisnya seraya bergerak maju mundur di dalam kehangatan yang mengapitnya. "Aku tidak akan melepaskanmu malam ini!" Deen kembali menggeleng seraya memegang kepalanya. Diam-diam Letta tersenyum. Letta yakin jika Deen teringat akan malam panas mereka semalam. Drama ini benar-benar menakjubkan. Sebentar lagi, hubungan Deen dan Cassie akan berakhir. Rasa sakit hati atas pacarnya yang direbut oleh Cassie saat SMA, akan terbayar lunas. Tapi ini masih permulaan. Letta berakting meneteskan airmata dan memasang wajah sedih. Ia sengaja mengamati bajunya yang robek, agar Deen melihatnya. Dan benar saja, pria itu langsung berdiri ke arah walk in closet untuk mengambil kaos oversize miliknya. "Pakai ini." "Aku harus pulang pakai ini?" "Aku akan meminta asistenku untuk membelikanmu pakaian." Deen berkata dengan suara serak. Deen kembali bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi sehingga mereka berakhir seperti ini. Dilihat dari pakaiannya yang robek dan celana dalamnya hancur menjadi serpihan, jelas bukan Letta yang agresif. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga kita menjadi seperti ini. Tapi yang jelas aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja." "Lalu menghancurkan pernikahan saudara tiriku?" "Ini terlanjur terjadi. Apalagi aku mengambil..." Deen menatap bercak darah di pahanya, dan ranjangnya yang tercetak jelas. "Tapi jika terbukti kamu menjebakku, aku tidak akan memaafkanmu." "Jebakan? Suruh otakmu itu mengingat dengan jelas siapa yang memeperkosaku tadi malam!" Letta bangkit berdiri dan memberi gamparan kepada Deen. Ia memeluk kaos yang Deen berikan, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan selimut yang terlilit di tubuhnya. Deen mengusap wajahnya seraya memandangi tubuh bagian belakang Letta yang begitu indah. Saat melihat kembali bercak kemerahan yang juga menghiasi p****t indah miliknya, badan Deen seketika memanas. "Sialan!" Geramnya saat menyaksikan miliknya sendiri telah berekasi. Sedangkan di dalam sana, Letta tersenyum penuh kemenangan. Jebakan? Iya memang dia menjebak Deen. Tapi semalam, pria itu yang menggodanya lebih dulu. Bahkan memaksanya bercinta. Jadi impas! Letta anggap kesalahannya sedikit berkurang. "Lihat saja Cassie, aku akan membalas sakit hatiku. Kamu pernah mengambil pacarku, dan aku akan segera mengambil calon suamimu." Lirihnya. Letta berjalan menuju shower dan mulai membersihkan diri. Memakai sabun dengan harum maskulin itu dan membersihkan setiap jengkal tubuhnya. Letta memeluk tubuhnya dengan mata terpejam. Ia tidak menyangka jika pengalaman pertamanya berakhir begitu menyedihkan. Letta bercinta dengan orang yang tak ia cintai. Letta nekat berbuat menyimpang demi dendamnya. "Maafin Letta ya, Ma. Letta berbuat hal-hal buruk hanya karena sakit hati." Letta menghela nafas. "Tapi Mama pasti paham kenapa Letta melakukan ini. Letta muak dengan perlakuan buruk mereka. Mama pasti bisa melihatnya bukan?" Setelah selesai membersihkan diri, ia membalut tubuhnya dengan handuk. Menatap tubuhnya yang penuh dengan bercak kemerahan. "Kamu terlihat seperti jalang Letta." Ditengah suasana tenang yang Letta rasakan, tiba-tiba suara gebrakan pintu terdengar nyaring. Dengan tubuh telanjangnya Deen menghampiri closet. Berjongkok disana dan kembali mengeluarkan suara-suara yang ..... "Deen!" Letta berteriak. "Kebelet." "Setidaknya pakai pakaianmu!" "Kebelet!" Teriak Deen seraya kembali mengejan dan mengeluarkan suara cemplungan air yang begitu nyaring. "Arghhhhhhhhh!!!!" Letta berteriak histeris dengan tubuh yang membeku. Sumpah, dia sangat jijik dengan kotoran. Letta takut dengan kuman! "Keluarlah!" "Kakiku keram..." Letta terisak dan tak bisa bergerak dari tempatnya. "Aku akan......" Deen mengejan lebih kuat. Suara cemplungan air terdengar lebih keras kali ini. Aroma menganggu juga mulai menyerang hidung Letta dengan brutal. Membuat wajah wanita itu pucat dalam hitungan detik. "Keparat...." Lirih Letta.... yang disusul dengan pingsan di tempatnya. "Seriously?" Deen mengoceh sendiri. "Kita bahkan tidak mengenal, tapi kamu sangat merepotkan!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD