Paula duduk tegak di hadapan peramal yang berhawa dingin dan misterius. Detak jantungnya berdegup kencang dalam kegelisahan. Pikirannya penuh dengan kekhawatiran dan pertanyaan tentang masa depan pernikahan anak laki-lakinya yang tercinta.
Ditemani asistennya, Paula memandangi peramal dengan harapan dan keraguan yang berbaur di matanya. Berharap dapat menemukan petunjuk yang dia butuhkan. Apalagi kabarnya, ramalan wanita yang ada di hadapannya tidak pernah meleset.
Dalam suara lembut, peramal meminta Paula untuk menceritakan tentang anak laki-lakinya dan kekhawatiran yang ada. Meminta foto anak yang ingin dia ramalkan masa depannya.
"Bagaimana dengan pernikahan putraku yang akan diselenggarakan sebentar lagi, Madam? Ini foto mereka. Apa akan bahagia?"
Peramal bernama Madam Evelyn itu mengamati Paula dengan bijaksana, merasakan ketakutan dan kecemasan yang membebani dirinya.
Dalam keheningan, peramal memulai ritualnya. Madam Evelyn menggenggam bola kristal kecil dan menutup matanya. Dia merenung sejenak, membuka diri untuk menerima energi spiritual yang ada di sekitarnya.
"Pernikahannya akan gagal di hari H. Dia akan menikah dengan wanita lain." Peramal itu menatap bola kristalnya dengan tatapan yang cukup serius.
"Apa? Kenapa itu terjadi?"
"Takdir. Tapi saya lihat, wanita kedua ini adalah jodohnya. Cinta sejatinya. Walau pertemuan mereka di awali dengan hal yang tidak baik."
"Apa iya Madam? Jadi putraku tidak akan menikah dengan wanita yang ada di foto?"
"Bukan jodohnya." Peramalnya itu mengembalikan foto Deen dan Cassie kepada Paula. Membuat Paula berpikir keras, siapa perempuan keduanya ini. Apa yang terjadi sampai pernikahan mereka gagal?
*****
Sambil mengotak-atik laptop miliknya untuk mengurus pekerjaan, Deen memandangi wajah cantik Letta dengan seksama. Wanita itu masih terpejam karena pingsan beberapa menit lalu.
Deen sudah mengecek cctv apartemen. Di video itu, Letta memang hanya berusaha mengantarnya pulang. Dia sendirilah yang b******k memerkosanya.
"Sialan!" Gerutunya seraya mengacak rambut. Tapi ia harus tetap menyelidiki minuman yang Letta berikan padanya. Dan kenapa bisa ada minuman seperti itu di pesta?
"Hmmm... " Letta bergerak-gerak dalam tidurnya. Dalam ketidaksadarannya, tangannya meraba sekitarnya seperti menacari sesuatu.
Deen mendengus seraya menaruh laptopnya di meja saat tangan wanita itu menyentuh perut sixpacknya yang terbalut kaos tipis.
"Mama.... " Letta memeluk Deen dengan manja. Menyandarkan kepala pada perut kokoh itu. "Mama disini? Akhirnya Mama pulang. Lihatlah suamimu, dia menikah dengan penyihir jahat dan anaknya! Parasit menyebalkan!"
Deen mengernyitkan alis dan merasa tak terima tunangannya yang begitu baik dikata-katai seperti demikian.
"Apa maksudmu berkata jika Cassie jahat? Dia wanita baik! Jangan mengatainya!"
"Mama membelanya?" Letta yang masih terpejam memukuli Deen dengan brutal. "Mama tidak melihat bagimana mereka memperlakukanku?"
Deen terdiam saat Letta tersedu-sedu dipelukannya. Wanita itu mengoceh dan terus mengatakan jika kekasihnya jahat. Apa maunya? Deen yakin itu hanya ocehan anak manja yang tidak ingin ayahnya menikah lagi.
Deen terpaku saat posisi mereka semakin intim. Bahkan kini Letta sudah bersandar di atas tubuhnya bak seorang kekasih yang sedang bermanja-manja meminta pelukan.
"Kamu modus kan?" Deen berbicara kepada Letta yang telah kembali terlelap.
"Wanita ini benar-benar menyebalkan! Kenal juga tidak, tapi merepotkan! Awas saja kalau bangun nanti!" Deen menarik nafas panjang.
Awalnya Deen baik-baik saja, dan tidak merasa ada yang salah. Namun semua berubah saat secara tiba-tiba Letta bergerak. Membuat adik kecilnya di bawah sana mendapat sedikit gesekan, namun membawa efek yang sangat luar biasa.
Tak mau lagi hanyut dalam hasrat terlarangnya, Deen langsung bangkit. Ia melompat dari ranjang dan membuat Letta yang tadinya bertumpu penuh di atas tubuhnya terlempar di lantai.
"Aduhhh..... " Letta spontan terbangun dengan tubuh yang terasa remuk.
"Kamu mau membunuhku? Kenapa aku masih disini? Kamu pasti membiusku! Kamu merencanakan pembunuhan!"
"Apa sih?"
Letta berusaha bangkit dengan kesusahan. Ia berdiri dihadapan Deen yang lebih tinggi darinya dengan tatapan tajam.
"Apa?" Deen kembali bersuara saat Letta mendekat.
"Kamu memang sangat m***m. Bahkan wanita yang tidak berdaya, menjadi objek nafsumu!" Letta menunjuk milik pria itu yang tercetak di celana pendeknya.
"Itu karena.... "
"Dan kamu masih berani bilang jika aku menjebakmu?"
Letta berjalan mendekati Deen yang terus berjalan mundur. "Kamu apakan aku saat pingsan? Hmmm? Kamu apakan?"
Deen jengah sekali dengan tingkahnya yang sok. Kepedean sekali dia. Memanfaatkan disaat dia pingsan? Memang dia secantik itu?
Deen menatap dengan jelas wanita yang ada di hadapannya. Wajahnya tirus, bibirnya mungil, bola matanya berwarna ruby nan indah. Ya, ya, dia memang cantik dan menggemaskan. Tapi ingat, pacarnya saat ini jauh lebih sempurna.
"Kamu kepedean sekali. Jangan-jangan kamu yang pengen lagi? Kamu ketagihan?" Kini gantian Deen yang mengintimidasi, dan membuat Letta berjalan mundur.
"Kamu pengen? Jujur aja!"
Letta membeku saat Deen membalas tindasannya. Bahkan pria itu mendempet tubuhnya kepada tembok, dan membuat Letta tak lagi bisa untuk kabur.
"Aku pria normal. Wajar jika aku seperti ini saat berdekatan dengan wanita yang hanya memakai kaos oversize tanpa dalaman." Deen menatap tubuh Letta dari atas ke bawah. Membuat Letta langsung memeluk tubuhnya saat tersadar akan hal itu.
"Aku sudah menyiapkan baju dan dalaman di kamar mandi, cepat ganti. Setelah itu sarapan, lalu kita bahas tentang semalam."
"Tidak ada yang perlu di bahas, lupakan saja malam ini. Kita anggap tidak pernah terjadi... "
Deen menaruh telunjuknya pada bibir Letta. Ia semakin mendekatkan wajah mereka untuk membuatnya terdiam.
"Aku akan menciummu jika kamu membantahku."
"Ohhh jadi kamu mengakui kemesumanmu? Kamu...."
Letta terpaku saat pria itu benar-benar mengecup bibirnya dengan nafas terengah. Letta tak mampu bergerak saat merasakan sesuatu yang begitu keras menabrak perutnya.
Apa Deen benar-benar....
Letta menutup mata saat pria itu menariknya ke atas ranjang. Memperdalam lumatan bibir itu dan mengabsen setiap deretan giginya.
"Deen... " Letta menahan pergerakan Deen saat dia hendak mengangkat satu-satunya pakaian yang menempel pada tubuhnya.
"Why?"
"Kamu gila?" Letta memasang wajah kesal dan terus berusaha untuk kabur. Namun karena kekuatan Deen jauh lebih besar darinya, Letta tidak bisa berbuat apa-apa.
"Salahkan dirimu karena menggodaku di sepanjang pagi! Kamu yang memulai, bukan aku!" Bisik Deen seraya melucuti celana pendeknya sendiri.
Sembari menahan pergerakan Letta, dia kembali memenuhi wanita itu dalam sekali hentak. Memberinya hujaman yang begitu lembut namun menusuk.
Akhirnya ia bisa merasakan dengan jelas kehangatan itu. Kenikmatan yang mengapitnya dengan sangat erat.....
"Minggir! Aku mau ganti baju! Dasar m***m!"
Teriakan Letta membuat Deen terbangun dari lamunannya. Ia seketika menyingkir, lalu membiarkan wanita itu berlari memasuki kamar mandi.
"Apa yang aku pikirkan?" Deen mendesis karena pikiran kotornya, yang membuat miliknya semakin bergejolak.
"Tunggu, hayalanku berawal dari mana? Saat aku menciumnya? Atau sebelum aku melakukan apa-apa?" Deen mengacak rambutnya dengan frustasi.
Kenapa tragedi ini harus terjadi di saat pernikahannya sudah sangat dekat? Apa yang harus ia katakan pada semua orang nanti, termasuk kekasihnya? Deen akan melukai hati banyak sekaali orang setelah ini.