"Papa!" Letta pulang ke rumah dengan ekspresi ceria dan langsung ikut makan malam bersama keluarganya. Termasuk ibu dan kakak tirirnya.
"Kenapa mobil kamu ditinggal? Papa khawatir. Nomor kamu juga nggak aktif."
"Carla jemput Pa, dia lagi curhat masalah penting. Aku nggak bisa aktifin hp demi persahabatan kita yang sudah terjalin sejak kecil!"
"Kemarin aku lihat Carla di cafe sama pacarnya. Bener kamu nginep? Hayoooo!" Cassie bersikap sok asyik. Padahal aslinya, ia ingin menjebak saudara tirinya itu agar dimarahi. Seperti yang biasa ia lakukan.
"Kamu nginep dimana?" Ayahnya bertanya.
"Kamu punya pacar?" Kylie ikut mengompori. Ia dan Cassie tersenyum puas dapat membuat Letta terpojok.
"Kamu menginap di tempat pria?" Joey meletakkan sendoknya.
"Memangnya kenapa? Bukankah Papa memintaku memiliki pasangan? Menikah?"
"Tapi Papa tidak pernah mengajari seorang perempuan menginap di tempat pria sebelum menikah. Kamu contoh Cassie. Meskipun dia sudah bertunangan, tapi tidak pernah sekalipun menginap di tempat Deen. Mereka menjaga... "
"Memang kalau dia bercinta dengan pria di luar sana, Papa tau?"
"Letta, bisa tidak kamu mendengarkan nasehat Papa?"
"Selama Papa membandingkan aku dengan parasit ini, aku tidak sudi mendengarkannya!"
"Bawa pria itu kemari jika begitu. Suruh dia bertemu Papa dan segera menikahimu."
"Papa kaku banget sih!" Letta memakan sop buntutnya sembari tersenyum. "Memang kalau menginap, udah pasti begituan?"
"Letta, jaga sopan santunmu." Kylie menegur.
"Tidak usah sok menasehati, kamu bukan ibuku!"
"Letta, jangan kurang ajar!" Joey membentaknya. "Selama ini Papa sudah sabar menghadapimu! Tapi kamu tidak pernah mau berubah!"
"Sudah Joey, jangan terlalu keras."
"Lihat, dia selalu membelamu. Tapi kamu selalu menjelekkanmya, bersikap tidak sopan! Apa maumu?"
"Ceraikan dia dan suruh dua parasit ini pergi. Itu mauku. Papa menyanggupinya?" Letta berteriak kencang, dan ayahnya hanya diam.
"Jika Papa tidak sanggup mengabulkan permintaanku, jangan pernah bertanya apa mauku!"
"Apa sih salah Mama, sampai kamu membenci Mama selama bertahun-tahun? Mama selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik untukmu Letta."
"Apa usahamu? Coba katakan! Apa saja usaha yang kamu berikan untuk menjadi ibuku? Yang kamu butuhkan cuma Papa dan uangnya! Dasar jalang murahan!"
Plakkkk!!!!
"Letta!" Joey berteriak seraya menamparnya dengan nafas terengah. Ia sangat marah dengan perkataan putrinya yang sungguh keterlaluan.
"Berani Papa menamparku?" Letta bertanya dengan mata memerah.
Cassie dan Kylie tersenyum licik dan berpura-pura memasang wajah sedih. Mereka bersikap manipulatif seperti biasanya. Mereka puas sekali melihat Joey menampar Letta. Itu adalah tontonan terindah mereka malam ini.
"Permisi!" Suara seorang pria yang mendadak terdengar, membuat semua orang menoleh. Ternyata dia adalah Deen yang datang berkunjung.
"Makan malamlah dengan keluargamu." Letta menyabet telapak meja makannya, hingga apa yang tersaji terpental ke lantai dan hancur berantakan.
"Silahkan nikmati." Letta tersenyum smirk, lalu beranjak menaiki tangga dengan wajah yang memerah akibat tamparan ayahnya sendiri.
Sebenarnya Letta ingin menangis, tapi ia menahannya. Dia tidak boleh terlihat lemah dan kalah. Atau musuhnya akan bahagia.
Deen menatap Letta dan kekacauan di keluarga itu dengan tampang flat tak berekspresi. Sepertinya pernikahan kedua ayahnya, benar-benar membuat Letta terpukul.
Ya memang tidak mudah menerima keluarga baru. Deen pun belum tentu sanggup.
Deen semakin frustasi mengingat apa yang terjadi diantara mereka. Pasti setelah ini, keadaan keluarga ini akan semakin kacau.
"Deen, maaf jika kamu datang dalam keadaan yang tidak tepat. Ada apa?" Cassie bertanya dengan lembut.
Kylie dan Joey juga nampak meminta maaf atas keributan yang terjadi.
"Aku kesini hanya mau mengantar tas milik Letta. Semalam dia menumpang padaku untuk bertemu temannya karena mobilnya mogok. Tasnya ketinggalan."
Letta yang tadinya menaiki tangga, kembali turun menghampiri mereka. Ia menyabet tasnya dari Deen dengan sangat kuat.
"Makasih!" Ujarnya cuek, lalu kembali naik ke lantai atas.
"Tunggu Letta!" Joey menarik pergelangan putrinya.
"Kemana dia pergi semalam, Deen? Dia tidak pernah bertemu atau menginap dengan pria. Apa kamu tahu alamatnya?"
"Papa gila?" Letta berteriak.
"Kamu sadar nggak, Papa seperti ini karena khawatir! Tidak ada satu orang ayah pun di dunia ini yang tenang, saat mengetahui putrinya menginap di tempat pria sebelum menikah!"
"Maaf harus melibatkanmu dalam hal ini Deen, tapi ini pertama kalinya Letta berbohong dan bersikap seperti ini. Saya hanya takut dia terkena tipu muslihat pria urakan di luar sana."
Cassie kesal sekali mengetahui kekasihnya bersama Letta semalam. Untuk apa Deen menumpanginya? Wanita pengacau itu pasti merencanakan sesuatu.
Tatapan Deen dan Letta kini bertemu. Letta terus menggeleng dan memberi kode agar Deen tidak mengaku.
Tapi semua hanyalah tipuan. Memang dia sengaja membuat situasi ini terjadi. Asyik bukan? Kali ini dia yang memegang permainan. Bukan saudara dan ibu tirinya lagi.
Letta akan merebut Deen dari Cassie. Deen harus menikah dan menjadi miliknya.
"Papa apaan sih? Aku hanya menumpang Deen ke apartemen temanku! Papa jangan negatif thinking!"
"Iya, Papa hanya ingin tahu dimana? Dimana tempat teman priamu itu berada?"
"Om, sebenarnya... "
"Deen!" Letta berteriak.
"Benar kan, ada yang kamu tutupi. Cepat katakan siapa pria itu?! Kamu itu perempuan, kalau kamu hamil bagaimana? Kenapa kamu berubah seperti ini?"
Deen menarik nafas panjang dan merasa sangat bingung harus menjelaslannya seperti apa. Deen belum siap kehilangan Cassie. Tapi... Deen juga kasihan melihat Letta diperlakukan seperti itu. Padahal, dialah yang bersalah semalam.
Video cctv terlihat jelas jika dialah yang memaksa Letta untuk bercinta.
"Jika sudah waktunya Letta akan bilang! Letta sudah dewasa, jangan perlakuan Letta seperti anak kecil!"
"Kamu selalu bilang Papa tidak peduli. Tapi giliran Papa peduli, kamu tidak menghargai Papa seperti ini. Apa maumu?" Joey meneteskan airmata.
"Kalau kamu salah pergaulan, Mamamu pasti sangat kecewa karena Papa gagal mendidikmu."
Mendengar perkataan itu airmata Letta langsung terjatuh. Benar, ibunya pasti kecewa padanya. Tapi... Letta tidak peduli. Ia ingin membalas sakit hatinya.
Lagipula menikah dengan Deen bukan hal yang buruk. Deen tampan, kaya, hidupnya akan terjamin. Plus tujuan utamanya untuk belas dendam akan tercapai.
Pasti sakit untuk parasit seperti mereka, saat harapannya menjadi menantu orang kaya, gagal begitu saja. Cassie akan dicampakkan setelah merencanakan pernikahan.
"Om, saya pria itu." Deen berbicara seraya menunduk. Dan ucapannya, spontan membuat semua orang menoleh dengan tatapan tak percaya.
"Dia ke apartemenku. Kita bersama."
"Apa maksud semua ini?"
"Saya akan menikahi Letta. Maaf Cassie, kita tidak bisa bersama."
"Kamu mempermainkan putri-putriku?" Joey mendekati Deen dan mencengkram kerahnya.
"Apa maksud kamu Deen?" Cassie menatapnya tajam dengan airmata bercucuran. "Apa dia menggodamu? Apa w************n ini menggodamu?"
Letta diam-diam tersenyum melihat Cassie menangis tersedu seraya memukuli Deen yang masih terdiam.
Memang hanya dia yang bisa menindasnya? Letta memang tidak pernah balas dendam. Tapi lihatlah, walau hanya sekali, pembalasannya sangat tepat.
Pasti Cassie sedang merasakan apa yang Letta rasakan, saat kekasihnya direbut. Hanya saja, ini jauh lebih sakit.
"Deen, bicaralah." Joey bersuara.
"Letta salah ambil minuman di pesta. Itu menyebabkan hal-hal di luar kendaliku. Ini bukan salah Letta, dia justru berusaha menolongku. Hanya saja, aku tidak dalam keadaan sadar."
"Kamu pasti menjebaknya dan ingin balas dendam padaku bukan? Karena aku pacaran dengan orang yang kamu sukai saat SMA? Karena kesalahpahaman itu? Kamu pasti menjebak Deen!" Cassie terisak.
"Kenapa kamu sejahat ini? Kenapa?" Lanjut Cassie histeris.
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengambil minuman di botol, tempat teman-teman Papa berkumpul. Karena Deen menolongku, aku memberinya minuman sebagai rasa terimakasih! Itu saja! Aku tidak tahu jika keadaan akan kacau. Kamu pikir aku tidak hancur?"
"Kamu masih bahagia sebelumnya!"
"Itu karena aku tidak mau membuat Papa khawatir!"
"Dasar sialan! Murahan! Beraninya kamu merebut calon suamiku!" Teriak Cassie. Dia bahkan akan menamparnya, tapi Deen langsung menepis.
"Ini memang bukan salahnya."
"Mana mungkin minumam di pesta bermasalah!"
"Deen benar. Ini bukan salahnya." Joey menarik putrinya kedalam pelukan.
"Joey, apa maksudnya? Jangan membela yang jelas-jelas salah! Putrimu harus di didik agar tidak menjadi murahan seperti ini! Merebut kebahagiaan orang lain! Dasar anak ini!" Kylie ikut berteriak. Ia tidak terima putrinya gagal menjadi menantu konglomerat.
"Aku memang menaruh obat perangsang di salah satu botol minuman itu untukmu. Untuk kita.... setelah pesta. Tapi botol itu hilang. Aku tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini." Joey menjelaskan.
Deen menoleh ke arah Joey. Jadi Letta jujur? Letta benar-benar tidak berniat menjebaknya?
Sedangkan Letta yang sedang memeluk ayahnya sedikit terkejut dengan penjelasan itu. Ayahnya membelanya? Sungguh?
Letta menatap sang ayah yang tersenyum seraya mengangguk pelan. Hal itu membuatnya langsung tersedu-sedu. Ini kali pertama Joey membelanya disaat ia tersudut. Padahal biasanya, ayahnya tak segan untuk menghukumnya.
Biasanya sang ayah juga tak segan menghakimi siapapun jika dia bersalah.
"Papa... "
"Kamu tetap putri Papa." Bisiknya pelan, yang mengandung arti sangat dalam.
Walau Kylie dan Cassie juga telah menjadi keluarganya, tapi Letta adalah darah dagingnya. Mendengar ada orang lain mengatainya murahan, jelas tidak akan ia biarkan.
Joey memang sering memarahinya, menegurnya, tapi bukan berarti orang lain ia biarkan merendahkan harga dirinya. Darah lebih kental daripada air.
****