Bertemu Lagi

1546 Words
"Papa..." "Jangan bahas lagi. Anggap saja itu kejadian yang asli." Joey memeluk putrinya dengan erat setelah mereka hanya berdua saja. "Kalau kamu memang menyukai Deen, Papa akan membantumu. Lagipula, kalian sudah terlanjur melakukannya. Deen memang harus bertanggung jawab." "Maaf Pa." "Ingat Letta, kamu adalah anak Papa. Jangan kamu pikir karena Papa sering marah, Papa tidak sayang dan tidak peduli. Mau Papa memiliki seribu istri baru pun, kamu tetap prioritas utama Papa." "Papa pasti kecewa." "Tidak. Justru kejadian ini membuat Papa sadar, jika perbuatan Papa salah. Papa sering membela Cassie selama ini. Menghargai keberadaanya seperti anak sendiri. Tapi hari ini, mereka yang aku bela justru menghinamu di hadapanku. Itu sama saja mereka melempar kotoran di wajahku. Selagi Papa masih hidup, tidak ada yang boleh merendahkanmu." "Makasih Pa." "Kamu benar. Papa menikah untuk membuatmu bahagia. Tapi, kamu tidak merasakan itu. Tidak ada upaya yang Kylie lakukan untuk menjadi ibumu. Memang hanya uang yang dia mau. Mata Papa sudah terbuka lebar sekarang. Jika mereka merendahkanmu lagi, aku tidak akan segan menceraikannya." "Aku sayang Papa." "Kamu adalah putri kesayanganku. Jangan menangis, dan angkat wajahmu kedepan Shaletta Cullen." Letta melamun sambil memakan keripik kentang ditemani oleh sahabatnya, Carla. Jujur, Letta masih tidak percaya jika ayahnya akan membela dan melindunginya. Letta merasa sangat bersalah karena sering membangkang padanya. Selama ini Letta kira ayahnya tidak lagi menyayanginya. Apalagi sang ayah selalu termakan dengan fitnah ibu dan saudara tirinya. Dia selalu dimarahi dan disalahkan. Tapi ternyata di saat ia benar-benar membuat kesalahan besar, sang ayah maju paling depan untuk melindunginya. Menutupi semua kesalahannya. "Kamu jangan merasa bersalah, ini tindakan benar. Ingat Letta, selama ini mereka telah membuatmu tidak nyaman tinggal di rumah sendiri. Mereka menindasmu sejak kecil. Ini saatnya kamu menunjukkan derajat mereka yang sesungguhnya!" "Aku merasa bersalah pada Papa, bukan mereka." Letta meneteskan airmata, lalu memeluk sahabat yang namanya selalu ia bawa saat dimarahi ayahnya. "Jangan menangis Sayang, mending kita berpesta untuk merayakan kemenanganmu. Apalagi ayahmu mendukung! Sebentar lagi kamu akan menikah dengan konglomerat tampan dan membuat babi betina itu gigit jari!" "Baiklah, aku tidak boleh menangis. Ini adalah hari kemenanganku!" "Sini peluk dulu! Aku bangga padamu! Pembalasanmu sangat indah!" Carla memeluk Letta dengan tulus. "Besok akan ada pertemuan dengan keluarga Deen. Sebaiknya aku bersikap seperti apa?" "Skenarionya, kamu adalah korban pelecehan yang dilakukan Deen." Carla merangkul Letta dengan senyuman licik. "Biar bagaimanapun dia memang telah mengambil hal berharga yang kamu miliki. Kamu tidak sepenuhnya bersandirwara. Jadi bersikaplah seperti kelinci kecil lemah yang terluka." "Begitukah?" "Lagipula aku heran, kamu sepertinya tidak memiliki penyesalan sama sekali setelah melakukan itu. Apa enak?" Carla bertanya dengan wajah sumringah dan penasaran. Letta langsung melepas pelukan sahabatnya dan mengalihkan pandangan. Wajahnya kini memerah padam, dengan sekujur tubuh yang terasa panas. Letta malu! "Dasar!" Carla tertawa saat Letta menutup wajahnya sembari berteriak. "Jangan bahas itu lagi!" "Jadi enak?" "Carla!" Teriak Letta seraya memukulinya dengan bantal sofa. "Gitu dong ketawa!" Carla menarik sahabatnya untuk bangkit berdiri. "Sudah jangan banyak pikiran, ayo kita pergi party!" Ajak Carla dengan bersemangat. **** Disisi tempat lain, Deen langsung diomeli habis-habisan oleh sang ayah setelah mendapat kabar tak enak itu. Xander sangat kecewa dengan putranya. Walau ada hal yang tidak terduga, seharusnya putranya bisa menahan diri bukan? Sedangkan Paula yang telah mendapat petunjuk lebih dulu lewat ramalan, hanya bisa menganga saat hal itu benar-benar terjadi. Paula pikir itu hanya bualan. Tapi hari ini, ia dibuat tercengang dengan fakta yang ada. "Papa tidak mau tau, kamu harus belajar mencintai Letta dan segera nikahi dia." Xander menunjuk wajah putranya dan memberinya peringatan. "Cassie memang sakit di posisi ini, tapi Letta lebih sakit. Kamu melecehkannya, di saat ia hanya bermaksud untuk menolongmu yang sedang tidak sadar." "Sudah, Papa tidak perlu marah! Ini takdir! Itu berarti Cassie tidak jodoh dengan Deen! Letta lah yang semesta pilih untuk menjadi pasanganya!" Paula beranjak mendekati Deen, dan memeluk putranya yang terlihat sedih. "Mulai sekarang jauhi Cassie, agar kalian sama-sama bisa move on." Paula tersenyum. "Lagipula, Letta keturunan asli keluarga Cullen. Jika kalian menikah, cucuku memiliki aliran darah yang selevel dengan kita." "Mama!" Xander menegur. "Benar kan? Cassie anak tiri, ayahnya seorang narapidana. Siapa yang menjamin jika sifat ayahnya tidak menurun padanya? Sekalipun dia dibesarkan oleh Joey, tetap saja aliran darah dalam dirinya ...." "Ma, tidak ada anak yang bisa memilih mau dilahirkan oleh siapa. Cassie wanita baik. Aku akan menjauhinya, tapi jangan jelekkan dia." Deen seketika pergi dari hadapan orangtuanya. Ia muak sekali mendengar perkataan ibunya. Deen tidak suka Cassie dikatai seperti itu. Cassie wanita baik dan lembut. Deen sangat mencintainya. Tapi apa boleh buat, takdir berkata lain. Dia harus melupakannya, dan menikah dengan wanita yang bahkan tidak ia kenal. Kenapa takdir harus sejahat ini? Deen mengendarai mobilnya menuju sebuah bar untuk menenangkan diri. Deen telah menghubungi Cassie berkali-kali, namun wanita itu tidak mengangkatnya. Padahal Deen ingin mengajaknya bicara, dan memutuskan hubungan mereka secara baik-baik. Deen merasa sangat bersalah telah menyakitinya. Mengingkari janji yang ia buat, dan meninggalkannya disaat mereka barusaja membicarakan masa depan yang bahagia. "Maaf Cassie, aku mengecewakanmu." Lirihnya pelan. Setelah sampai disebuah bar, Deen langsung duduk dan memesan minuman. Deen menenggak bergelas-gelas alkohol agar pikirannya tenang. Agar ia memiliki pelampiasan atas kekacauan yang ada di otaknya. Namun sayang, apa yang ia rencanakan tidak berhasil ketika samar-samar mendengar suara Letta. Apa ini bagian dari hayalannya? Karena seharian dia memikirkan masalahnya bersama wanita pembawa sial itu? "Hidup itu sangat menyebalkan bukan? Sebentar lagi aku akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai. Impian pernikahan indah yang aku inginkan, akan sirna!" Suara Letta terdengar jelas ditelinga Deen kali ini. Deen spontan menoleh ke arah sumber suara. Membuatnya tersadar jika ternyata itu bukan sekedar bualan. Ternyata Letta benar-benar ada di bar yang sama dengannya. Letta terlihat bersama seorang wanita, dan satu orang pria yang tampak asing. Apa yang dia lakukan ditempat seperti ini malam-malam? "Sudah Letta berhenti minum, ayo pulang!" Carla dan sang kekasih yang selalu menjadi bodyguard mereka setiap kali ke bar, mencoba membujuk Letta yang sudah mabuk berat. "Letta, ayo!" Carla mencoba membangunkannya, namun Letta memberontak. "Aku sebenarnya lelah Carla. Aku ingin sekali ibuku bangkit dari kubur. Jika dia hidup, kekacauan ini tidak terjadi!" Isaknya tersedu-sedu. "Letta...." Carla memeluknya. Setiap kali mabuk, biasanya yang mereka bahas hal-hal random yang seru. Ini pertama kali Letta menangis dan terlihat putus asa. Sepertinya Carla salah momen untuk mengajaknya berpesta. Ternyata meski rencana dan jebakannya berhasil, Letta tidak sebahagia itu di dalam. "Biar aku yang mengantarnya pulang." Suara dingin Deen membuat tubuh Carla merinding. Ia langsung memeluk sahabatnya sembari menggeleng. Bagaimana jika Letta bicara ngawur dan membongkar rahasianya? "Kamu siapa? Tidak perlu." Carla berlagak tidak kenal. "Aku calon suaminya!" Sentak Deen. "Tidak mungkin..." "Apa perlu aku telfonkan Om Joey? Aku yakin dia tidak akan senang. Besok pagi, sahabatmu akan mendapat tamparan yang sangat keras karena berpesta di bar tengah malam." Carla langsung menoleh ke arah Nick yang hanya mengedikkan bahu. Dia hanya menemani dan menjaga mereka saat di bar. Selebihnya, Nick tidak ikut campur. Saar Carla dan Nick hanya diam, Deen langsung mengangkat Letta yang terus tertawa dengan kesadarannya yang hilang seratus persen. Wanita itu terus mengoceh tak jelas di gendongannya. Seharusnya Deen tidak usah peduli. Tapi mengingat dia adalah calon istrinya, dia harus memaksakan diri untuk peduli. Karena jika Letta dilecehkan atau semacamnya, dia juga yang rugi. Benar kan? "Carlaaa aku bisa terbang!" Letta tertawa geli seraya memeluk Deen. "Kamu selalu merepotkan! Dasar pembawa sial!" "Tega sekali kamu Carla! Kamu mengataiku pembawa sial?" Letta menarik wajah Deen untuk bertatapan dengannya. "Carlaaa, kenapa wajahmu jadi mirip pria m***m itu? Pria jorok yang BAB sembarangan seperti kera!" "Aku sudah bilang kebelet!" "Setiap kali melihatnya, aku teringat kotoran di WC!" Letta tersedu-sedu. "Menjijikkan!" "Begitu?" "Dia sangat bau Carlaaaaa...." Adunya seraya menghentakkan kaki. Setelah sampai di kamar yang Deen pesan di bar tersebut, ia langsung merebahkan wanita itu dengan tatapan tajam. Deen tidak terima dikatai seperti kotoran. Wanita ini benar-benar.... "Jangan menatapku dekat-dekat!" Letta mencoba mendorong. "Kembalikan wajah lama Carla! Kenapa kamu mirip dengan kera jorok itu!" Deen tertawa getir mendengar ejekannya. Kera bau? Dia bercanda? Deen lalu menarik dagu wanita itu dan memagut bibirnya dengan menggebu. Ia membungkam bibir Letta yang tak berhenti mengoceh dan mengumpatinya. Deen mengabsen deretan giginya dengan puas. Menelusuri setiap sela, dan menukar saliva mereka hingga berceceran. Ciuman itu beralih ke leher saat Deen tidak bisa menahan hasratnya sendiri. Ia menyapu leher itu dengan sadar kali ini. Lidahnya bermain-main memberi jejak cumbuan yang begitu seksi. Namun suasana panas diantara mereka harus berhenti, saat Letta tiba-tiba muntah dengan sangat hebat. "Hoekkkkk....!!!" "What the fuck...." Deen mengumpat saat muntahan itu mengenai wajahnya. "Mulutmu seperti kotoran....." Isaknya. "Kenapa kotoran bisa mencium manusia!!!" Teriaknya yang membuat Deen semakin emosi. **** Disebrang sana, Cassie membanting ponselnya seraya menangis saat Deen berhenti menghubunginya. Seharusnya Deen menemuinya dan memohon maaf. Kenapa dia hanya mengirimi pesan? Kenapa Deen begitu cuek dan terkesan tidak peduli? Mana bukti dari rasa cintanya selama ini? "Berhentilah bersikap jual mahal, atau kamu kan kehilangannya!" Ibunya menegur. "Aku tidak mau kehilangan Deen, Ma!" "Lagipula kamu bodoh sekali. Selama pacaran, kenapa tidak menggodanya? Membuat dia menidurimu hingga hamil agar hal ini tidak terjadi? Bahkan Letta jauh lebih pintar darimu!" "Aku hanya ingin Deen melihatku sebagai wanita berkelas!" Cassie menjambak rambut panjangnya. "Aku akan memberi pelajaran kepada Letta. Awas saja dia! Aku tidak terima Deen direbut!" "Tenang saja, Mama akan membantumu." Ujar Kylie dengan tatapan tajam. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD