My Fault

1103 Words
Letta terbangun dengan tubuh tersentak saat melihat wajah Deen tepat dihadapannya. Ia memeluk selimut saat menyadari bajunya telah di lucuti. Kenapa keadaan jadi terbalik? Kali ini Letta yang tidak mengingat apapun tentang yang terjadi semalam. Dan kenapa pula ia bisa bersama Deen? Bukankah semalam dirinya bersama Carla dan Nick? "Akhirnya tuan putri bangun juga." Deen tersenyum smirk. "Mana Carla? Kenapa aku disini bersamamu?" Letta berteriak. "Dan kenapa aku..." Letta memelototi Deen dengan rasa marah yang luar biasa, sembari menggerayangi tubuhnya yang hanya berbalutkan selimut. "Kamu memperdaya wanita lemah yang sedang mabuk?" "Kepedean banget sih! Coba kau cium saja bajumu itu, sebau apa muntahanmu semalam! Seharusnya kamu berterimakasih karena aku membantumu." "Apa hak kamu untuk membuka bajuku seperti ini? Pasti kamu melakukan sesuatu! Dasar m***m!" "Minimal tau diri. Andai tidak terjadi kecelakaan, kamu bukanlah tipeku. Cewek manja, nyebelin, cantik juga tidak seberapa! Lihat dong Cassie. Wajahnya campuran bule, manis, lembut, baik, pengertian, dia sempurna! Kamu memang pembawa sial! Sekarang impianku menikah dengannya hanya tinggal angan!" Cerocosnya panjang lebar. "Lalu kamu pikir, kamu tipeku? Cowok jelek, jorok, m***m! Cowok sepertimu memang cocok dengan parasit seperti Cassie. Entah dosa apa yang leluhurku lakukan, sehingga nasib sial ini menimpaku!" Setelah ucapan pedasnya, Deen naik ke atas ranjang dan menindih tubuhnya. Memberinya tatapan tajam dan dingin. "Jika kita tidak terjebak dalam kecelakaan, aku pasti langsung menikahinya. Aku akan mengangkat derajatnya, sehingga kamu tidak lagi bisa mengatainya parasit. Jangan mentang-mentang kamu kaya, kamu bisa seenaknya menghina seseorang." "Jika orang miskin itu tau diri, kita pasti simpati. Tapi sayang kekasihmu itu parasit yang tidak tahu diri. Jadi sah-sah saja untuk di hina." "Jaga mulutmu!" "Marah?" Letta memeluk tengkuknya dengan eskpresi menantang. "Aku hanya bicara fakta. Kenapa kamu begitu marah?" "Dilihat dari ucapanmu saja, sudah jelas siapa yang lebih baik. Cassie tidak pernah sekalipun menggunjing orang sepertimu!" "Apa kamu mengenalku, sampai berani menyimpulkan seperti ini?" Letta mendorong Deen lalu bangkit dari sana. "Kamu berkata mencintai Cassie, tapi kamu bahkan tidak mengenalnya dengan baik." "Cowok b******k sepertimu memang pantas bersanding dengan cewek parasit. Tapi berhubung semesta ingin kita bersama, jangan berdekatan lagi dengannya. Jangan sampai aku kena HIV karena memiliki suami yang hobi celup mantan pelacurnya." Letta tersenyum sinis, lalu berjalan menuju kamar mandi. Deen mengeraskan rahang mendengar penuturannya. Ucapan Letta yang pedas, berhasil membuatnya terbakar emosi. Terkena HIV? p*****r? Letta berbicara seolah-olah Cassie sangat buruk dan kotor. Deen akan memberinya paham jika dirinya juga tak sebaik itu! Deen ikut masuk ke kamar mandi sebelum Letta sempat menguncinya. Dengan tatapan tajam ia menarik lepas selimut itu, dan mengangkatnya dengan kasar untuk naik ke atas wastafel. "Apa yang kamu lakukan?" Letta memberontak. "Kamu pikir kamu suci? Jangan merasa menjadi wanita paling baik. Akan aku tunjukkan seberapa rendah dirimu!" "Jangan gila!" Letta mendorong Deen saat pria itu mulai mencumbunya. Menahan segala pergerakannya, sembari melucuti pakaiannya sendiri. Deen memagut bibirnya dengan menggebu. Memaksa wanita itu menikmati ciuman kasar yang di dasari nafsu dan kemarahan. Deen dilingkupi emosi yang tak bisa dijelaskan. Ia memperlakukan Letta dengan sangat buruk, seolah-olah tidak memiliki harga diri. Namun sebelum ia berbuat lebih, sebuah benda yang cukup keras menghantam kepalanya, hingga menyebabkan setitik darah segar menetes di pelipis Deen. Isakan Letta terdengar nyaring. Wanita itu memakai pakaian yang ada di dekatnya dengan gerakan cepat. "Kamu dan Cassie memang pasangan serasi. Kalian berdua sama-sama rendahan! Jangan pernah tersinggung jika ada seseorang mengatakan fakta! Kamu barusaja menunjukkannya!" Isak Letta dengan nafas yang tersengal-sengal. Deen juga kembali merapikan pakaiannya dalam diam. Ia mengusap darah yang menetes deras di pelipisnya dengan rintihan pelan. Ketika Letta akan langsung pergi meninggalkannnya, Deen menahan pergelangan tangan wanita itu dengan kencang. "Maaf." "Lepasin Deen!" Letta berusaha menepis cengkramannya. "Maafin aku." Deen menarik Letta kedalam pelukannya. Deen bisa merasakan getaran tubuhnya yang begitu hebat. Letta pasti shock dengan kelakuan brengseknya beberapa menit lalu. "Lepas." Letta mendorong Deen dan menolak pelukannya. "Kita langsung bertemu di acara saja. Tolong jangan dekati aku untuk sementara waktu. Kamu sangat menyeramkan." Letta kembali tersedu lalu pergi dari kamar itu, meninggalkan Deen sendirian dengan rasa bersalahnya. **** "Letta, kamu kenapa pucat sejak tadi? Kamu ada masalah? Kamu tidak setuju dengan keputusan kami untuk menikahkan kalian?" Paula bertanya seraya mengusap pundaknya. "Aku sangat malu dengan kelakuan putraku, aku minta maaf." Xander menyahut. "Bagaimana mungkin Letta tidak setuju? Dia pasti bahagia telah berhasil merebut Deen dan membuat hubungan kami berantakan." Cassie menyahut dengan airmata bercucuran. "Cassie!" Joey menegurnya. "Itu fakta! Hubunganku dan Deen hancur karena dia. Semua impian kami sirna! Dasar perebut! Murahan!" Sentaknya penuh emosi. Cassie tidak peduli lagi dengan imagenya yang lemah lembut dan sopan. Emosinya lebih mendominasi saat ini. "Cassie! Please!" Deen menegurnya. "Ini semua juga bukan sepenuhnya salah Letta. Maaf ya? Aku menyakitimu seperti ini." Deen berbicara dengan lembut. Kylie memeluk putrinya yang kini terisak pelan. Memeluk Cassie dan berakting menenangkannya. Sebenernya apa yang mereka lakukan dan ucapkan malam ini, sudah direncanakan dari awal. Deen menatap Letta yang terlihat sangat tertekan karena perbuatannya. Padahal biasanya Letta itu cerewet dan tak mau kalah. Deen memang telah keterlaluan. Deen merasa sangat bersalah padanya. "Pa, Letta ingin pulang. Letta ikut saja dengan keputusan semua orang." Ujarnya pelan, lalu bangkit berdiri meninggalkan meja. Membuat semua orang yang ada disana menjadi khawatir. "Sayang kamu kenapa? Tunggu Papa! " Joey akan berdiri memanggil putrinya. Namun tanpa disangka-sangka, Deen lebih dulu mengejarnya. Membuat pria paruh baya itu mengurungkan niatnya tersebut. "Jangan dekati aku!" Teriak Letta saat Deen menarik pergelangan tangannya. "Aku minta maaf." "Aku bilang, jauhi aku untuk sementara waktu! Aku butuh menenangkan diri!" Letta menepis tangan Deen dengan kasar. "Please... " Deen menarik Letta kepelukannya. "Maaf, aku salah." "Dasar jahat!" Isaknya. "Aku minta maaf." Ujar Deen sekali lagi, seraya mengusap airmata Letta. Kini semua orang saling memandang dengan heran. Mereka penasaran kenapa keduanya bisa bertengkar seperti itu. Padahal sebelumnya, keduanya masih baik-baik saja. Cassie mengepalkan tangan dengan erat menyaksikan Deen begitu perhatian dan mesra kepada Letta. Apa wanita itu sedang berakting dan mencari perhatian? Murahan! Kebenciannya kepada Letta semakin menumpuk. Cassie akan membalasnya dengan lebih menyakitkan. Lihat saja! Semua orang berteriak saat Letta pingsan dipelukan Deen, yang kini telah menggendong dan membawanya pergi dari sana dengan kepanikan yang luar biasa. Mereka bangkit berdiri mengikuti kemana Deen pergi membawa Letta. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Joey bertanya. "Kenapa Letta diam dan terlihat sangat tertekan hari ini? Kalian ada masalah?" "Kalian ada masalah apa?" Xander menegur putranya yang tak tertarik untuk menjawab. "Deen akan menjaganya, kalian tidak usah ikut. Deen akan panggil dokter pribadi." "Aku bisa mempercayaimu?" Joey menyahut. "Aku calon suaminya, aku akan bertanggungjawab atas dia." Deen menjawab dengan yakin dan tegas. "Aku dan Letta sudah sepakat untuk menikah minggu ini. Anak buahku segera menyiapkan segalanya." Lanjut Deen mengejutkan semua orang. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD