“Kamu dengar apa kata Nenek nggak, Zarin?! Kamu itu bodoh! Bisa sampai kecolongan kayak gini!” Teriakan Nenek Anni menggema di dalam ruang rumah sakit, tajam dan penuh amarah. Suaranya bergetar, entah karena kecewa atau frustrasi melihat cucunya dalam keadaan seperti ini—terbaring lemah, wajahnya pucat, tubuhnya dibalut selang infus yang kini bahkan mulai berdarah akibat emosinya yang tak terkendali. “Ini juga salahnya Nenek!” balasnya dengan suara serak. “Kenapa milih dia sebagai ibu pengganti yang akhirnya menghancurkan pernikahan Zarin?!” “Sebelum dia jadi ibu pengganti pun, dia sudah tidur dengan suamimu!” suara Nenek Anni begitu tajam, menusuk tepat ke dalam ego Zarin. “Karena kamu terlalu sibuk, sudah Nenek bilang itu membuat keluarga Van Der Zandt jengah!” “Nenek menyalahkanku?!