“Mau dibawa ke mana aku?” tanya Dara pada Jedidah yang tengah menggendong Jedainne. Ruangan VIP yang tadinya penuh dengan keluarga kini mulai sepi. Semua orang sudah keluar, menunggu di parkiran sementara Dara masih di kamar, menanti para pelayan mengemasi barang-barangnya. “Ke rumah,” jawab Jedidah, suaranya datar. “Rumah siapa? Yang mana?” “Rumah milik saya, Dara.” Jawaban itu membuat alis Dara naik. Matanya menyipit, menatap pria itu dengan tatapan skeptis. “Gak mau kalau pergi ke rumah bekas kamu sama Zarin.” “Bukan ke rumah itu,” ucapnya tajam. “Dan jangan menyebut nama itu.” Dara justru semakin tertantang. “Kenapa?” tanyanya dengan nada tajam. “Gak mau diingetin kalau Zarin itu pernah mau bunuh aku dan anak kamu? Iya?” “Dara, saya bilang berhenti.” Nada suara Jedidah lebih r